Perempuan Hebat di Balik Perempuan-perempuan Hebat


Foto Kenangan: Ibu, Bibi, dan Nenek (Almh). Sekitar tahun 1965.

Gadis kecil yang tengah berdiri itu kelak menjadi seorang perempuan hebat. Mendampingi sang suami, ia mendidik generasi-generasi yang harapannya tidak hanya menjadi kebanggaan bagi mereka berdua, namun juga bemanfaat bagi lingkungan sekitar, bangsa, dan bahkan agama. Si kecil yang digendong adalah adiknya, kelak pun menjadi seorang perempuan hebat, membersamai sang suami mendidik generasi-generasi penerus yang tak kalah dengan cerita kakaknya.

Lalu dari manakah perempuan-perempuan hebat itu berasal? Siapakah yang telah menempanya menjadi sehebat saat ini? Apakah mereka wanita biasa dan kemudian menjadi hebat seiring dengan kehidupan yang dijalaninya bersama suami dan anak-anaknya? Ataukah jauh sebelum itu, mereka justru telah dipersiapkan untuk menjadi sehebat ini? Lalu siapakah yang menyiapkannya? Ayahnya, atau justru ibunya?

Ini cerita tentang perempuan hebat di balik perempuan-perempuan hebat. Kepergiaannya memilukan hati tiga generasi, khususnya sang suami, anak-anaknya, dan cucunya. Ialah nenekku, ia pergi meninggalkan kami semua di hari Jum'at subuh, tanggal 2 Juli tujuh tahun lalu. 

Saat itu, di malam hari yang hampir larut, ibu ditelepon oleh kakek bahwa nenek sedang tidak baik kesehatannya. Beberapa bulan belakangan memang itulah yang terjadi, kesehatan nenek sedang sangat tidak baik. Esok paginya, selepas subuh kami kembali dikabari bahwa kondisi nenek menjadi semakin kritis. Bergegas kami semua tunaikan shalat, kemudian kuantar ayah ke rumah keluarga besar yang jaraknya hanya sekitar satu kilometer dari rumah kami. Kemudian aku kembali ke rumah untuk menjemput ibu menuju rumah barat (sebutan untuk rumah keluarga besar). Dan kembali lagi untuk menjemput kakakku perempuanku.

Namun setibanya aku dengan kakakku, kulihat ibuku tengah menangis menyaksikan kepergian ibunda tercintanya. Aku sendiri tak sempat menyaksikan nenekku menghembuskan nafas terakhirnya. Yang kutahu waktu itu adalah, ibu dan bibiku menangis seperti menangisnya dua gadis kecil (seperti di foto di atas) ketika ditinggal ibunya. Sedangkan di sana, para lelakinya hanya terduduk diam dan tak berkata apa-apa, kecuali kakekku. Ia terus duduk di samping istrinya sembari beristighfar dan seakan memanggil serta berharap sang istri menjawabnya.

Hari-hari setelah itu pun terasa berbeda, terutama pada kakekku. Barangkali jika disandingkan dengan cerita di Film Habibie-Ainun atau bahkan dengan ceritanya langsung, itu tak jauh berbeda. Setiap pagi kakek selalu membuat segelas susu, seperti waktu-waktu kemarin sebelum nenek meninggal dunia. Ia masih menganggap itu kewajibannya setiap pagi. Dan siapa pun yang menghampirinya di pagi itu, akan ia minta untuk meminumnya sampai habis.

Satu hal lagi yang mungkin terlalu dini untuk dibicarakan, namun kakek meminta tanah kosong yang persis berada di sebelah nisan nenek tak diapa-apakan, “Ini untuk nisanku nanti.” Begitu pintanya. Sebegitukah cinta sejati dan dampaknya saat salah satunya telah pergi? Perempuan hebat memang kadang tak dilihat dari dirinya sendiri, tapi dari keluarganya; dari suaminya, anak-anaknya, dan lebih jauh lagi dari keluarga anak-anaknya suatu saat nanti.

Perjalanan hidupnya memang tak sederhana. Ia menikah saat bangsa ini sedang dalam usaha memerdekakan diri. Sejak menjadi seorang istri dan memiliki anak pertama, ia sering berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain. Bukan karena tidak ada tempat tinggal, namun untuk keselamatan diri dan anaknya. Maklum, sang suami adalah seorang pejuang di jaman prakemerdekaan. Sempat ia mengungsi ke Surabaya, dan dalam keadaan tak tentu dan jauh dari sanak famili, ia ditinggal berjuang oleh sang suami.

Pernah suatu ketika menurut cerita yang nenek wariskan pada ibu, waktu itu tentara Jepang datang, mendobrak pintu rumah sembari membentak dan bertanya dimana kakekku berada. Dengan kemampuannya berbahasa Jawa halus, sembari duduk tenang dan menimang si bayi, ia memberanikan diri untuk berpura-pura menjadi orang lokal dan menjawab seakan-akan tidak tahu apa yang ditanyakan kepadanya. Sederhananya, dalam situasi mencekam, salah langkah bisa hilang nyawa seseorang. Ketenangan dan kepasrahan mungkin adalah jalan terbaik yang nenek pikir saat itu. Perempuan hebat memang berbeda. Di saat-saat yang tak menentu dan tanpa sang suami, ia bisa mengambil sebuah keputusan dan sikap yang tepat.

Kini, sebagian besar anak-anaknya merantau beserta keluarganya masing-masing. Dua lelaki yang paling sulung kini berada di kota khatulistiwa, satunya lagi merantau ke kota Malang. Beberapa sudah lebih awal mendahuluinya. Dan dua terakhir, yang memang keduanya perempuan, diminta untuk tinggal di Madura. Sesuai budaya yang dianut sejak lama, anak perempuan, terlebih lagi bungsu, sering kali diminta untuk tidak merantau sekalipun telah berkeluarga. Mereka pun menjalankan peran bagi keluarganya masing-masing, menjadi orang tua bahkan semuanya sudah menjadi kakek dan nenek. Dan dua putri kecilnya tadi telah menjadi perempuan hebat di balik perempuan-perempuan hebat berikutnya, menggantikan perannya dahulu. 

Godfrey Winn, seorang penulis berkebangsaan Inggris di awal abad 20 pernah berkata, "Tidak ada pria sukses tanpa seorang perempuan di baliknya. Istri ataupun ibu, atau jika pun keduanya, ia sungguh mendapat dua kebaikan." Namun menurutku, makna ini lebih dari sekadar 'di baliknya'. Ialah di samping lelakinya, sang perempuan menemaninya menjadi hebat bersama. Dan nenekku, ia pergi meninggalkan kenangan begitu mendalam bagi tiga generasi. Keberadaannya mendamaikan, dan kepergiannya memberikan kerinduan.

0 comments:

Post a Comment