Lagu Kenangan


Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku muridmu


Guruku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah...

Seperti udara... kasih yang engkau berikan

Tak mampu ku membalas... guru...guru...


Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
S'bagai tanda kasihku untuk semua abdimu

Lalu doa-doa yang slalu engkau panjatkan
Dengan apa membalas... guru... guru....

Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas... guru... guru...

Inilah kami, pada malam terakhir kami.
Di sana, di sebuah tempat yang telah membesarkan kami.
Sekolah kami tercinta, SMAN 3 Pamekasan..

Celurit Emas


“Madura, Akulah Darahmu” seutuhnya
Di atasmu, bongkahan batu yang bisu
Tidur merangkum nyala dan tumbuh berbunga doa

Biar berguling di atas duri hati tak kan luka
Meski mengeram di dalam nyeri cinta tak kan layu
Dan aku

Anak sulung yang sekaligus anak bungsumu
Kini kembali ke dalam rahimmu, dan tahulah
Bahwa aku sapi kerapan
Yang lahir dari senyum dan airmatamu


Seusap debu hinggaplah, setetes embun hinggaplah,
Sebasah madu hinggaplah
Menanggung biru langit moyangku, menanggung karat
Emas semesta, menanggung parau sekarat tujuh benua


Di sini
Perkenankan aku berseru:
Madura, engkaulah tangisku

Bila musim labuh hujan tak turun
Kubasuhi kau dengan denyutku
Bila dadamu kerontang
Kubajak kau dengan tanduk logamku
Di atas bukit garam
Kunyalakan otakku
Lantaran aku adalah sapi kerapan
Yang menetas dari senyum dan airmatamu
Aku lari mengejar ombak, aku terbang memeluk bulan
Dan memetik bintang-gemintang
Di ranting-ranting roh nenekmoyangku

Di ubun langit kuucapkan sumpah:
Madura, akulah darahmu.

(D. Zawawi Imron, 1996)