A Bunch of Blessing

Pernahkah kau bermimpi, di suatu waktu yang telah lalu, untuk menikmati masa dengan berkarya di tempat terpencil dan jauh dari keramaian suatu hari nanti?

Pernahkah kau merasa telah menemukan satu tempat hidup yang nyaman dan ingin hari-hari selanjutnya tetap berada di sana?

Pernahkah kau, saat belajar dulu, menggeluti suatu hal baru, lalu menemukan satu hal yang lebih seru, lalu seketika harus beralih pada hal yang lain lagi karena niat yang sudah kaupegang lama, kemudian semuanya menyatu dan menyambutmu?

Pernahkah kau merencanakan dan mempersiapkan keahlian apa yang dapat kauberikan di masa depan, lalu hal itu menghampirimu sedikit lebih cepat dari yang kauperkirakan?

Lalu bagaimana rasanya jika jawaban setiap pertanyaan-pertanyaan itu adalah 'Ya' dan datang bersamaan? Dan pernahkah kau mengalaminya? Di sini, ijinkanlah aku bercerita..

"Kantor Parangtritis Geomaritime Science Park, Depok, Parangtritis, Kretek, Bantul, DIY."

Sebagai lanjutan tulisan tepat sebelumnya, inilah cerita tentang tempat baruku saat ini, Parangtritis Geomaritime Science Park, sebuah program kolaborasi antara Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi, Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Badan Informasi Geospasial, Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, dan Pemerintah Kabupaten Bantul.

Mungkin semua ini berawal dari pengaruh film sains fiksi berjudul 'The Day after Tomorrow', tentang seorang ayah yang bekerja sebagai peneliti es di kutub utara, jauh dari keluarganya yang berada di Kota New York. Film itu cukup menginspirasi, membuatku tertarik untuk suatu saat nanti berkarya di tempat yang cukup sunyi, jauh dari keramaian, namun memiliki akses langsung ke pusat (semacam sebuah otoritas level federal/nasional). Sejak menonton film itu pula, aku memiliki keinginan untuk menjadi seorang peneliti. Yes, discovering new things that will benefit others.

Tentang Jogja, adalah cerita yang lebih panjang lagi, seperti yang telah kutulis dalam catatan bertajuk 'Niat dan Rasa Syukur', mulai dari guru SDku yang tiba-tiba mengajakku sekolah di Jogja selulus SD, sampai akhirnya aku berkesempatan menyelesaikan S1 di bumi Ngayogyakarto Hadiningkat ini. Tak cukup sampai di situ, pascalulus dan melanjutkan perantauan ke ibukota, aku memilih untuk kembali lagi ke Jogja. Itu bukan tanpa alasan, karena kenyataannya Jogja memang istimewa. Dan yang paling istimewa dari Jogja menurutku adalah begitu banyaknya majelis ilmu. Kesempatan untuk belajar terbuka lebar di sini. Biar dikata bukan ibukota, namun shortcut Jogja dalam hal ini tak kalah dengan tempat lainnya. Kadang justru Jogja menawarkan pilihan ilmu yang lebih lengkap. Sekelumit alasan untuk memilih Jogja tampaknya tak cukup untuk ditulis dalam satu paragraf saja. Sepertinya perlu dibuat tulisan tersendiri tentang Jogja, untuk menjelaskan mengapa sampai saat ini, sebagai tempat bermukim aku masih memilihnya. 

Kuingin bercerita satu hal lagi. Dulu, apakah kita (kalian dan aku) di awal masa-masa kuliah sempat memilih satu fokus untuk terus didalami? Kurasa jawaban kita sama, Ya. Lalu di tengah perjalanan studi, fokus tersebut berpindah dari satu bidang ke bidang lainnya. Bisa jadi karena ada hal yang lebih menarik yang baru saja kita tahu. Kemudian setelah itu, di akhir masa kuliah, fokus tersebut harus diubah lagi karena sebuah alasan prinsipil, ingin mengambil tema penelitian di kampung halaman, sedangkan hal itu kurang relevan untuk dilakukan dengan fokus yang telah digeluti sebelumnya. Aku mengalaminya. 

Di awal kuliah dulu, aku memiliki minat untuk menggeluti bidang kebencanaan, tentunya dengan ranah ilmu yang kupelajari, ilmu pemetaan dan peginderaan jauh. Bahkan pernah waktu itu di tahun pertama studi, dengan dukungan senior dan dosen pembimbing kami, aku dan dua orang temanku sempat berpartisipasi dalam sebuah Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional di Makassar, mengusung gagasan penelitian tentang strategi evakuasi korban bencana dengan memanfaatkan hasil pemotretan menggunakan UAV (unmanned aerial vehicle) atau yang saat ini lebih dikenal dengan sebutan drone. Waktu itu aku terus menggeluti bidang tersebut, sampai suatu saat ada hal baru yang lebih membuatku terkesan.

GIS (Geographic Information System), bisa dibilang ini adalah core dari ilmu-ilmu pengetahuan di bidang kebumian. Ini pendapatku pribadi. Kenapa kusebut core? Karena posisinya memang berada di tengah. Ilmu ini berperan pada tahap proses; menggunakan hasil ilmu lain sebagai masukan dan memberikan luaran untuk digunakan oleh ilmu yang lainnya lagi. Intinya, tanpa ilmu ini, ilmu-ilmu kebumian lainnya semacam saling tak tersambung. Seperti itu sederhananya. Sekali lagi, ini sepenuhnya pendapatku pribadi. Inilah yang menjadi fokus baru yang kugeluti selama lebih dari setengah masa studi S1. Dan memang, dosen pembimbing akademikku dikenal sebagai master dalam bidang ini di fakutlas tempatku belajar. Nasehat, dorongan, dan masukan (serta mungkin ekspektasi) beliau selama studi dulu turut berpengaruh dalam pertimbanganku memilih fokus tersebut.

"Bapak, setelah saya pertimbangkan insyaAllah saya akan mengambil tema garam untuk penelitian skripsi saya." Itu kalimat pertamaku saat konsultasi di awal semester 7 pada beliau. "Oh, nek ngono kowe mending nganggo PJ mas. Nek GIS kurang pas nggo neliti garam." Begitu kira-kira jawaban beliau. Kami sama-sama mengerti arah percakapan itu. Beliau menghargai pilihan yang kubuat, aku pun menghormati nasehat beliau. Baiklah, dengan pertimbangan dan hasil diskusi tersebut, kulanjutkan niatku untuk 'pulang', meneliti tentang garam dari sudut pandang ilmu yang sudah kupelajari selama ini. Sampai tibalah akhirnya perjalanan panjang menuntaskan skripsi itu selesai (to be written separately).

Pascalulus, kusampaikan kembali pada beliau tentang rencanaku selanjutnya. "Alhamdulillah, bapak. Skripsi saya sudah selesai. InsyaAllah ke depan saya akan meneruskan fokus saya sebelumnya, tentang GIS dan lebih khusus lagi Geospatial Analysis untuk studi lanjut." "Iya mas, silakan dilanjutkan." Begitu ucap beliau memberikan nasehat. Geospatial Analysis secara sederhana adalah terapan dari ilmu GIS. Boleh dikata, GIS itu ibarat kita belajar cara membuat kue; bahan apa saja yang dibutuhkan, berapa takaran dari tiap bahan, bagaimana cara mengolahnya, sampai akhirnya makanan itu jadi. Sedangkan Geospatial Analysis lebih pada untuk siapa kita membuat kue itu; untuk anak-anak atau orang dewasa, bagaimana tampilan kuenya, akan disajikan dalam bentuk apa dan berapa banyak, serta kandungan gizi mana yang harus diperbanyak atau dikurangi. Begitulah kira-kira perumpamaan sederhananya. Bidang Geospatial Analysis inilah yang insyaAllah akan kudalami lagi lebih lanjut dan menjadi keahlianku di masa depan. Aamiin.

Setelah itu tentang karir di masa depan. Di penghujung 2015 lalu, aku pernah membuat Future Plan di FB Notes. Sebenarnya itu sekadar tugas dari tempat les bahasa inggrisku, tapi sekalian kubuat lebih serius, berharap dapat menjadi doa dan penyemangat. Rencana hidup kadang memang dapat berubah dan bisa lebih dari satu. Jadi, ada baiknya rencana tersebut ditulis agar dapat lebih tervisualisasi dan ini adalah salah satunya. Di catatan yang kutulis itu, di masa depan nanti, aku berencana untuk berkarir dan berkarya di BIG (Badan Informasi Geospasial) dengan keahlian yang sebelumnya telah kupelajari dan kudalami selama menempuh S2. Qadarullah, rencana yang aku plot untuk bergabung dengan BIG di Oktober 2017 datang sedikit lebih cepat, bahkan sebelum aku mulai menempuh S2. 

Aku mendapatkan kesempatan bergabung di BIG dengan posisi sebagai Analis Penginderaan Jauh dan Geodatabase. Di samping persyaratan umum yang lebih bersifat administratif, posisi ini memiliki persyaratan khusus antara lain: (1) S1 Penginderaan Jauh, (2) Mampu menyusun desain geodatabase, (3) Mampu melakukan inventarisasi dan foldering data informasi geospasial, (4) Mampu melakukan kegiatan pemetaan dan monitoring melalui pemotretan dengan wahana tanpa awak, (5) Mampu melakukan analisis data citra, dan (6) Bersedia ditempatkan di Parangtritis Geomaritime Science Park, Yogyakarta. Entah, semacam semua hal yang kuinginkan selama ini berkumpul dalam satu paket persyaratan tersebut.

Selain itu, jobdesk-ku di sini antara lain bergabung dalam Tim SRC (Satuan Reaksi Cepat/Quick Response Unit) untuk melakukan pemotretan udara di wilayah terdampak bencana, sebagai tugas dan fungsi Badan Informasi Geospasial dalam menyajikan informasi spasial kepada publik; melakukan riset dengan tema geomaritime; dan memfasilitasi kerja sama/pelatihan di bidang GIS dan Remote SensingSedikit cerita pula tentang hal ini. Dulu di pertengahan kuliah, aku pun sempat menggeluti bidang marine (kelautan), dengan memilih tema marine saat KKL III di pesisir utara Pulau Bali dan juga melaksanakan KKN di pulau kecil bernama Jefman di Raja Ampat. Juga tentang semua dokumen-dokumen (khususnya softfile) kuliah dan praktikum yang masih kusimpan sampai saat ini, itu sangat membantu dalam menyusun materi-materi pelatihan dalam bidang-bidang ilmu yang sempat lebih dulu kupelajari.

Alhamdulillaahi Rabbil 'Aalamiin. Aku tak sempat berpikir tentang semua hal tersebut sejauh ini sebelumnya; tentang keinginan-keinginan dahulu yang kini datang bersamaan; tentang fragmen-fragmen fokus studi yang kini semua bermuara menjadi satu; tentang fokus studi yang akan kugeluti di masa depan; dan tentang Yogya, tempat belajar menemukan nilai dan makna kehidupan. 

Hari ini tepat sebulan sudah waktu berlalu, sejak 3 April 2017, hari pertama aku berada di sana, bergabung dengan BIG dan ditempatkan di Parangtritis Geomaritime Science Park, Yogyakarta.

Safari Singkat ke Ibukota

27 Maret 2017
Siang tadi, selepas dari bandara mengantar seorang sahabat yang akan kembali ke Bangkok setelah berlibur seminggu untuk bertemu istrinya di Jogja, aku menuju tempat biasa. Perpus Pusat UGM, tempatku menghabiskan waktu di jam-jam kantor hampir setiap hari, karena memang sejak Januari kemarin masih belum berkantor lagi.

"Biasanya ada kabar baik di tiap hari Senin, tapi sepertinya hari ini belum ada kabar apa-apa.", gumamku dalam hati. Ya sudah, selepas shalat dhuhur, kukerjakan beberapa to-do-list untuk hari ini, dan sebelum jam 2 aku pulang dan memilih istirahat siang.

20 Maret 2017
Tepat seminggu sebelumnya di pagi hari, aku mendapat info mengejutkan untuk segera berada di Cibinong pagi esok harinya. Senin pagi info kuterima, dan Selasa pagi sudah harus berada di sana. Sedikit menantang memang cerita ini.

Baiklah, dengan jadwal harian yang sudah tertata pagi itu, sedikit perubahan perlu aku lakukan. Kucari tiket Jogja-Jakarta via kereta dan pesawat, sesuaikan jam kedatangan di Jakarta, diskusi dengan teman-teman, dan akhirnya sepakat untuk naik kereta. Dan ternyata, tiket sudah tak bisa dipesan via apps, pun sepertinya via channel lainnya. Jadi harus pergi ke stasiun langsung. Beruntung karena jarak dari tempat tinggal ke stasiun yang begitu dekat, tak sampai 1 kilometer, akulah yang pergi ke sana untuk beli tiket. 

Begitu tiket Jogja-Jakarta sudah di tangan, jam menunjukkan 11.30. Gaswat memang, jam 1.30 waktunya untuk les; dan 3 homework belum selesai kukerjakan, 1 reading dan 2 writing task. Buru-buru aku kembali dan kirim WA ke grup baru, "Tiket sudah di tangan gengs. Aku ada les siang ini, yang selow tolong belikan tiket Jakarta-Jogja buat besok. Kita pulang langsung tanpa nginap." Dengan percakapan yang cukup singkat, dipilihkan tiket kereta lagi untuk pulang ke Jogja esok harinya.

Selesai les jam 3 sore, lanjut packing sampai menjelang maghrib. Tak terlalu banyak yang harus dibawa karena cuma perjalanan sehari, tapi ada beberapa dokumen yang harus disiapkan tanpa ada yang boleh tertinggal. Sehabis maghrib dan berbuka, barulah aku mandi, siap-siap, dan berangkat ke stasiun. Kereta pun berangkat menuju Ibukota.

Jakarta, 21 Maret 2017
Sebelum subuh kami sudah tiba di Jakarta. Sambil menunggu Commuter pertama datang, aku dan teman-teman memilih sarapan (yang lebih mirip jam makan sahur) dan menunggu adzan subuh. Barulah sekitar setengah 6 kami melaju menuju Stasiun Bojong Gede via Commuter Line dan langsung lanjut via GrabCar ke kantor BIG (Badan Informasi Geospasial).

Komplek BIG, Cibinong
Jam menunjukkan 9.10 begitu kami masuk komplek LIPI-BIG. Aku mendapatkan giliran kedua setelah temanku, sedangkan dua orang lagi mendapat giliran setelahku. Itu adalah hari wawancara. Aku pun memilih pergi ke masjid komplek untuk bersiap-siap, sementara temanku yang pertama langsung ke ruang wawancara. Saat hendak keluar kamar mandi, handphone-ku terjatuh dan layarnya pun pecah. Aal iz well, tak masalah. Bukan itu yang harus diperhatikan waktu itu. Begitu tiba di depan ruang wawancara, banyak wajah familiar yang menyapa. Satu orang seniorku waktu di GSC dulu, mantan ketua juga. Beberapa orang teman seangkatan, sebagian adik angkatan, dan sebagian yang lain dari kampus berbeda. Serasa mini reuni waktu itu. 

Jam 10 lewat beberapa menit, giliranku tiba. Aku pun masuk dan mulai memperkenalkan diri. Setelah beberapa pertanyaan formal diajukan oleh tiga orang pewawancara, kami lebih banyak berdiskusi. Bagaimana perspektif mereka dan bagaimana perspektifku, juga apa ekspektasi mereka dan apa pula ekspektasiku. Tak terasa lewat sudah waktu setengah jam yang diberikan. Aku keluar dan mengobrol dengan teman-teman, semetara giliran setelahku masuk ruang. Sampai menjelang dhuhur, kami pun pergi ke Masjid Al-Idrisi, masjid milik BIG yang tengah direnovasi total dan akan segera selesai dengan wajah yang jauh lebih megah dari sebelumnya.

Selesai shalat, ada sebuah kultum yang sepertinya merupakan kegiatan rutin di Al-Idrisi dan disampaikan secara bergilirAku pun memilih bangkit dan shalat jama' takdim ashar terlebih dahulu. Setelahnya, dalam keadaan sedikit bimbang antara langsung keluar dan tetap duduk, aku memperhatikan penjelasan dari khotib kultum. Beliau menyampaikan nasehat tentang 10 ciri yang harus dimiliki oleh pribagi muslim, lengkap dengan contohnya dalam konteks kehidupan saat ini.

Aku seakan diingatkan kembali tentangnya. Ya, aku mengerti dan juga mempelajarinya. Itu semacam 'concept of a life balance' yang memang perlu dimiliki oleh setiap muslim. Banyak memang konsep hidup yang bisa dipegang sebagai acuan. Namun konsep ini menurutku adalah yang paling lengkap, mulai level teoritis sampai praktis. Ibarat variabel-variabel yang dipakai untuk mengukur suatu progres/kemajuan, konsep ini memiliki variabel yang lengkap. Sebagian orang menyebutnya Muwashafat, yang terdiri atas kebersihan dalam beraqidah, kebenaran dalam beribadah, kekokohan dalam berakhlak, kekuatan fisik, kecerdasan dalam berpikir, perjuangan dalam melawan nafsu, kepandaian menjaga waktu, keteraturan dalam menjalankan urusan, kemandirian secara ekonomi, dan kebermanfaatan bagi orang lain.

Yang aku kagumi adalah, mereka (Bapak-bapak dan sebagian Ibu-ibu) masih sempat memperbincangkan hal tersebut di sela-sela kesibukan pekerjaannya. Itu artinya hal tersebut tidak sekadar ada di lisan, melainkan juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bisa jadi tidak semua orang menerapkannya, mungkin hanya sebagian atau beberapa. Namun justru hal itulah yang membuatku kagum pada mereka, yaitu memilih jalan tengah; menyeimbangkan kehidupan dunianya dengan akhiratnya.

Selesai sudah kegiatan di BIG. Itu kali kedua aku ke sana. Kali pertama dulu adalah untuk urusan skripsi. Tiga tahun lalu BIG memberikanku support dengan memfasilitasi bahan penelitianku yang memang harus kukejar langsung sampai ke sana.

Kembali ke Pusat Ibukota
Kami pun kembali ke Jakarta via Commuter Line. Hilir-mudik warga ibukota tampaknya masih sama dan seperti tak akan jauh berubah sampai beberapa tahun ke depan. Mereka punya kesibukan masing-masing mulai dari pagi sampai pagi lagi. Jakarta, dan kota-kota sekitarnya, ibarat gabungan antara perumahan, perkantoran, sekolah, pasar, dan pusat-pusat manusia lainnya dalam ukuran raksasa yang tiap-tiap sudutnya saling tersambung. Orang Depok bekerja di Tangerang, orang Bogor berkantor di Ancol, orang Bekasi bertugas di Jakarta Pusat, dan begitu seterusnya. Aku memilih menikmati pemandangan itu dan mengajak temanku ke Kota Tua, karena tidak banyak pilihan waktu itu dan wisata historis sepertinya paling menarik.


"Pemandangan Kota Tua di sore hari di depan Museum Fatahillah"

Tiba-tiba aku pun teringat dengan kosku yang lama, Setiabudi. Tempat dimana kuhabiskan waktu 5 bulan saat bekerja di Kementerian PUPR tahun lalu. Kuajak teman-temanku ke sana dan mereka pun tak masalah. Let's enjoy the city.

Kawasan Setiabudi, suatu permukiman padat penduduk di ujung utara Kota Jakarta Selatan, lebih dekat ke Bundaran HI daripada Bundaran Senayan. Diapit oleh dua jalan ruas utama ibukota, Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan H. R. Rasuna Said. Dua jalan itu dipenuhi dengan pusat bisnis dan pelayanan adminstrasi. Mayoritas rumah hunian diperuntukkan sebagai tempat kos. Dengan keadaan itu, cukup terbayang lah seperti apa hiruk-pikuk setiap waktu di sana, terlebih saat jam berangkat dan pulang kerja.

Tapi masih ada kehidupan di Setiabudi, lebih tepatnya masih ada sesuatu yang membuatku merasa hidup berada di sana. Kebetulan kosku berada hampir di ujung blok. Di blok sebelah selatan ada SMAN 3 Jakarta, sedangkan blok sebelah timur adalah pusat kuliner Setiabudi, tempat Mie Aceh Bang Iwan berdiri, entah sejak kapan. Dua tempat itulah yang setidaknya masih membuatku merasa hidup tinggal di Jakarta.

SMAN 3 Jakarta, yang katanya SMA beken di ibukota, tempat Nikita Willy dan bahkan Aburizal Bakrie sekolah di sana, punya masjid yang sepertinya sudah bukan standar mushalla sekolah. Bisa dibilang lebih bagus daripada masjid-masjid komplek perumahan. Ada takmir dan kantor takmir, plus semacam tempat tinggal untuk takmirnya. Kamar mandi lengkap dan bersih. Ada CCTV dan ada ACnya. Dan yang paling penting, jamaahnya hidup; mulai dari guru, siswa sekolah, mas-mas kantoran semacam saya dulu, bapak-bapak ojek online, bapak-bapak penjual kaki lima, bahkan kakek-kakek paruh baya yang sudah tinggal menikmati masa tua. Sungguh, masjid ini membuat rasa rindu pada Jogja saat di sana dahulu seakan terobati.

Tepat waktu maghrib kami tiba di Masjid ini dan aku pun segera mengambil wudhu. Saat hendak membuka jam tangan, tiba-tiba ia terjatuh ke lantai dengan posisi datar terbalik. Dan benar dugaanku, lensanya pecah. Itu baru pertama ia jatuh kemudian lensanya pecah, biasanya setelah jatuh tak apa-apa. Aal iz well. Tak apalah, kaca pecah bisa diganti. Yang penting sekarang shalat dulu. Selesai maghrib lalu kulanjutkan shalat isya jama' takdim. Masih sama, semua masih sama. Suasana masjid ini, suhu ACnya, bau pewangi ruangannya, dan alas sajadahnya pun masih sama. Mengingatkanku saat masih di sini, mengingatkanku pula dengan sahabatku satu kantor, satu kosan, satu kampus (walaupun baru kenal di Jakarta karena beda fakultas) yang sekarang tengah menempuh studi masternya; dialah teman yang tiba-tiba menjadi sahabat karib. 

Setelah dari sini kami pun lanjut ke tujuan satunya. Tinggal jalan sedikit, tak sampai 100 meter, kami pun tiba di Mie Aceh Bang Iwan. Katanya sih ini salah satu Mie Aceh paling terkenal di ibukota, selain Mie Aceh Seulawah - Bendungan Hilir dan Mie Aceh Pidie Jaya - Margonda, Depok. Benar memang, tiga tempat itu punya ciri khas dan keunggulan masing-masing. Aku memang telah menjadi penggemar mie Aceh sejak berada di Jogja, lebih tepatnya sejak mengenal mie Aceh begitu tinggal di Jojga. Meskipun di Jogja ada beberapa cabang Bungong Jeumpa yang gampang sekali untuk didatangi, namun tiga mie Aceh di ibukota ini punya tingkat rasa yang jauh lebih tinggi.


"Penampakan Mie Aceh Bang Iwan - Mie Goreng Daging Plus Telur"

Ada tiga menu favorit di sini, mie goreng (termasuk mie tumis), teh tarik, dan kopi gayo susu. Sayangnya, aku hanya pesan mie tumis daging dan teh tarik karena tak mungkin malam itu pilih kopi, atau tak bisa tidur sampai Jogja. Dari tiga orang pencicip, mie tersebut mendapat rating 7.0, 7.5, dan 8.0 dari skala 0-10. Mantap memang Mie Aceh Bang Iwan ini.

Sekitar jam 9.00 malam, saat rasa lelah dan kenyang menyatu. Kami langsung pesan GrabCar menuju stasiun untuk langsung kembali ke Jogja dengan jadwal keberangkatan sekitar 10.30. Dan di luar dugaan, agak berbeda suasana kereta malam itu dengan malam sebelumnya yang begitu longgar, malam ini semua kursi penuh. Dan entahlah, aku yang sudah kehabisan energi hari itu memilih tidur dan bangun esoknya saat kereta sudah sampai di daerah Cilacap. Dan jam 6.30 pagi kereta sudah merapat di Jogja.

Jogjakarta, 21 Maret 2017
Alhamdulillah, well done. Safari satu hari berjalan lancar. Namun sepertinya kepala agak pening dan sempat bersin. Aku memilih istirahat sampai siang hari. Namun siangnya kondisi tak bertambah baik. Yes, this is influenza. Aku terkena flu sampai hari minggu di pekan itu. Aku baru sadar, tak ada jeda istirahat sejak Senin pagi sebelum berangkat ke Jakarta sampai kembali ke Jogja Rabu paginya. Berbaring sesaat saja pun tak ada.

Hikmah Perjalanan
Handphone jatuh dan layarnya pecah, berkunjung ke BIG, kultum siang di Masjid Al-Idrisi BIG, jam tangan jatuh dan lensanya pecah, Setiabudi, dan flu. Ya, semua ada hikmahnya. 

Mungkin layar handphone dan lensa jam tangan pecah memang sudah waktunya, tapi siapa tahu di situ ada ujian keikhlasan. Bisa jadi pula di baliknya ada pesan untuk lebih berhati-hati, karena merawat adalah bagian dari wujud bersyukur. 

BIG dan Setiabudi sepertinya memberikan pelajaran akan arti perjalanan. Perjalanan dalam arti yang lebih luas, lebih dari sekadar berpindah tempat. Yaitu perjalanan pemikiran, daya pikir dan daya nalar; dari masa lalu ke masa depan.

Kultum siang sebagai pengingat bahwa keadaan diri harus terus senantiasa dijaga. Ibarat sebuah alat ukur, itu penting untuk selalu dikalibrasi, dikembalikan dalam keadaan baik dan berfungsi normal. Jika hati baik maka seluruh tubuh itu akan baik, pun sebaliknya. Di samping itu, dalam kesibukan dunia apa pun, hendaknya kesibukan akhirat harus selalu kita imbagi. Jangan sampai ia dikalahkan oleh dunia. Seimbang adalah ukuran yang paling baik, insyaAllah.

Dan influenza, bisa jadi ini sebuah kesempatan diampuninya dosa-dosa, bisa pula sebuah ujian kesabaran. Tapi perlu juga dilihat dari sisi berbeda, yang tampaknya ini hasil dari time management yang kurang tepat, bahkan sebuah decision making yang kurang sempurna. Baiknya memang waktu itu jadwal kembali ke Jogja di-extend sehari lebih lama, agar bisa istirahat. Kalau pun tidak, seharusnya pulangnya dipercepat, tidak dengan kerata tapi dengan pesawat. Agak hectic memang waktu itu untuk beli tiket PP dan tak sempat berpikir panjang. 

27 Maret Sore 2017
Di tengah kegiatan Senin sore, seorang teman di grup WA menyebut namaku beserta ucapan selamatnya. Kubaca sekilas dan berucap Alhamdulillah. Kemudian kututup kembali sampai selesai shalat maghrib. Sekembalinya dari masjid, kubuka kembali info itu. Alhamdulillah, safari singkat ke ibukota pekan lalu sudah membawa hasil.

Benar memang, Senin hari ini juga punya kabar gembira. 

Bersambung...

Perempuan Hebat di Balik Perempuan-perempuan Hebat


Foto Kenangan: Ibu, Bibi, dan Nenek (Almh). Sekitar tahun 1965.

Gadis kecil yang tengah berdiri itu kelak menjadi seorang perempuan hebat. Mendampingi sang suami, ia mendidik generasi-generasi yang harapannya tidak hanya menjadi kebanggaan bagi mereka berdua, namun juga bemanfaat bagi lingkungan sekitar, bangsa, dan bahkan agama. Si kecil yang digendong adalah adiknya, kelak pun menjadi seorang perempuan hebat, membersamai sang suami mendidik generasi-generasi penerus yang tak kalah dengan cerita kakaknya.

Lalu dari manakah perempuan-perempuan hebat itu berasal? Siapakah yang telah menempanya menjadi sehebat saat ini? Apakah mereka wanita biasa dan kemudian menjadi hebat seiring dengan kehidupan yang dijalaninya bersama suami dan anak-anaknya? Ataukah jauh sebelum itu, mereka justru telah dipersiapkan untuk menjadi sehebat ini? Lalu siapakah yang menyiapkannya? Ayahnya, atau justru ibunya?

Ini cerita tentang perempuan hebat di balik perempuan-perempuan hebat. Kepergiaannya memilukan hati tiga generasi, khususnya sang suami, anak-anaknya, dan cucunya. Ialah nenekku, ia pergi meninggalkan kami semua di hari Jum'at subuh, tanggal 2 Juli tujuh tahun lalu. 

Saat itu, di malam hari yang hampir larut, ibu ditelepon oleh kakek bahwa nenek sedang tidak baik kesehatannya. Beberapa bulan belakangan memang itulah yang terjadi, kesehatan nenek sedang sangat tidak baik. Esok paginya, selepas subuh kami kembali dikabari bahwa kondisi nenek menjadi semakin kritis. Bergegas kami semua tunaikan shalat, kemudian kuantar ayah ke rumah keluarga besar yang jaraknya hanya sekitar satu kilometer dari rumah kami. Kemudian aku kembali ke rumah untuk menjemput ibu menuju rumah barat (sebutan untuk rumah keluarga besar). Dan kembali lagi untuk menjemput kakakku perempuanku.

Namun setibanya aku dengan kakakku, kulihat ibuku tengah menangis menyaksikan kepergian ibunda tercintanya. Aku sendiri tak sempat menyaksikan nenekku menghembuskan nafas terakhirnya. Yang kutahu waktu itu adalah, ibu dan bibiku menangis seperti menangisnya dua gadis kecil (seperti di foto di atas) ketika ditinggal ibunya. Sedangkan di sana, para lelakinya hanya terduduk diam dan tak berkata apa-apa, kecuali kakekku. Ia terus duduk di samping istrinya sembari beristighfar dan seakan memanggil serta berharap sang istri menjawabnya.

Hari-hari setelah itu pun terasa berbeda, terutama pada kakekku. Barangkali jika disandingkan dengan cerita di Film Habibie-Ainun atau bahkan dengan ceritanya langsung, itu tak jauh berbeda. Setiap pagi kakek selalu membuat segelas susu, seperti waktu-waktu kemarin sebelum nenek meninggal dunia. Ia masih menganggap itu kewajibannya setiap pagi. Dan siapa pun yang menghampirinya di pagi itu, akan ia minta untuk meminumnya sampai habis.

Satu hal lagi yang mungkin terlalu dini untuk dibicarakan, namun kakek meminta tanah kosong yang persis berada di sebelah nisan nenek tak diapa-apakan, “Ini untuk nisanku nanti.” Begitu pintanya. Sebegitukah cinta sejati dan dampaknya saat salah satunya telah pergi? Perempuan hebat memang kadang tak dilihat dari dirinya sendiri, tapi dari keluarganya; dari suaminya, anak-anaknya, dan lebih jauh lagi dari keluarga anak-anaknya suatu saat nanti.

Perjalanan hidupnya memang tak sederhana. Ia menikah saat bangsa ini sedang dalam usaha memerdekakan diri. Sejak menjadi seorang istri dan memiliki anak pertama, ia sering berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain. Bukan karena tidak ada tempat tinggal, namun untuk keselamatan diri dan anaknya. Maklum, sang suami adalah seorang pejuang di jaman prakemerdekaan. Sempat ia mengungsi ke Surabaya, dan dalam keadaan tak tentu dan jauh dari sanak famili, ia ditinggal berjuang oleh sang suami.

Pernah suatu ketika menurut cerita yang nenek wariskan pada ibu, waktu itu tentara Jepang datang, mendobrak pintu rumah sembari membentak dan bertanya dimana kakekku berada. Dengan kemampuannya berbahasa Jawa halus, sembari duduk tenang dan menimang si bayi, ia memberanikan diri untuk berpura-pura menjadi orang lokal dan menjawab seakan-akan tidak tahu apa yang ditanyakan kepadanya. Sederhananya, dalam situasi mencekam, salah langkah bisa hilang nyawa seseorang. Ketenangan dan kepasrahan mungkin adalah jalan terbaik yang nenek pikir saat itu. Perempuan hebat memang berbeda. Di saat-saat yang tak menentu dan tanpa sang suami, ia bisa mengambil sebuah keputusan dan sikap yang tepat.

Kini, sebagian besar anak-anaknya merantau beserta keluarganya masing-masing. Dua lelaki yang paling sulung kini berada di kota khatulistiwa, satunya lagi merantau ke kota Malang. Beberapa sudah lebih awal mendahuluinya. Dan dua terakhir, yang memang keduanya perempuan, diminta untuk tinggal di Madura. Sesuai budaya yang dianut sejak lama, anak perempuan, terlebih lagi bungsu, sering kali diminta untuk tidak merantau sekalipun telah berkeluarga. Mereka pun menjalankan peran bagi keluarganya masing-masing, menjadi orang tua bahkan semuanya sudah menjadi kakek dan nenek. Dan dua putri kecilnya tadi telah menjadi perempuan hebat di balik perempuan-perempuan hebat berikutnya, menggantikan perannya dahulu. 

Godfrey Winn, seorang penulis berkebangsaan Inggris di awal abad 20 pernah berkata, "Tidak ada pria sukses tanpa seorang perempuan di baliknya. Istri ataupun ibu, atau jika pun keduanya, ia sungguh mendapat dua kebaikan." Namun menurutku, makna ini lebih dari sekadar 'di baliknya'. Ialah di samping lelakinya, sang perempuan menemaninya menjadi hebat bersama. Dan nenekku, ia pergi meninggalkan kenangan begitu mendalam bagi tiga generasi. Keberadaannya mendamaikan, dan kepergiannya memberikan kerinduan.

Niat dan Rasa Syukur

“Mas Fajrun, kalau sudah besar nanti mau ikut Pak Jiman pulang ke Jogja, kuliah di UGM?”


“Belum tahu, Pak.”

Percakapan itu terjadi antara saya dan seorang guru olahraga saat rekreasi kelulusan SD ke Surabaya. Beliau bernama Sujiman, berasal dari Yogyakarta, dan ditugaskan untuk mengajar SD di sebuah desa di Kabupaten Sampang, Pulau Madura, Jawa Timur. Sebuah sekolah yang berjarak 30 kilometer dari pusat kota.

Menamatkan SD di sebuah desa terpencil bukanlah pilihan saya. Itu pilihan Tuhan untuk saya. Selulus SD, saya melanjutkan ke SMP di tempat yang sama. Tidak pernah terpikir ke mana saya akan melanjutkan sekolah. Hari-hari selama SD dan SMP berjalan seperti biasa. Saya belajar bersama teman-teman dan sesekali mengikuti dan menjuarai lomba di tingkat kabupaten. Menjelang kelulusan SMP, saya terpikir untuk melanjutkan sekolah keluar kabupaten meskipun masih dalam keadaan ragu untuk mendaftar. Tiba-tiba, seorang guru yang juga ibu dari teman saya berkata, “Mas Fajrun jadi daftar SMA 3 Pamekasan apa tidak?” Dan saya pun menjawab spontan pertanyaan beliau, “Jadi, Bu.”

Singkat cerita, saya diterima di SMAN 3 Pamekasan, sebuah sekolah favorit di Pulau Madura. Sekolah tersebut memiliki program Kelas Unggulan dimana 30 peserta didiknya merupakan siswa-siswi terbaik dari empat kabupaten di Pulau Madura dan proses seleksinya dilakukan mirip seleksi masuk perguruan tinggi, ada Tes Potensi Akademik (TPA) dan Tes Mata Pelajaran (Matematika dan IPA). Selain itu, peserta didiknya ditempatkan di asrama sekolah dengan jam belajar tambahan lima kali 90 menit setiap pekannya dan semua biaya pendidikan selama tiga tahun ditanggung oleh pemerintah kabupaten dan sebuah yayasan yang menaungi. 

Alhamdulillah, saya mengucap syukur sebesar-besarnya atas takdir tersebut. Itu bukan pilihan saya, melainkan pilihan Tuhan untuk saya. Melanjutkan sekolah dari sebuah SMP terpencil ke SMA favorit merupakan sebuah loncatan yang baik, bahkan sangat baik. Dari situ saya sadar, jika kita telah berniat, disertai usaha dan doa, pasti jalan untuk meraihnya akan terlihat dan kita tinggal melewatinya.

Di tahun ketiga SMA, saya masih belum terpikir ke mana akan melanjutkan studi. Yang saya pikirkan saat itu hanya satu, saya mau kuliah di luar provinsi, seperti halnya saya melanjutkan SMA di luar kabupaten tempat saya tinggal. Sekali lagi, ini tentang niat. Saya sudah melompat tiga tahun yang lalu. Maka sekarang saya harus melompat lebih jauh lagi, mengejar kampus top negeri ini. Itulah niat sederhana saya saat itu. 

Dengan berbekal informasi dari beberapa sumber termasuk mencari sendiri lewat situs resmi, saya memilih beberapa perguruan tinggi ternama negeri ini sebagai pilihan studi. Ada tiga pilihan kampus saat itu, satu di Bandung, satu di Jakarta, dan satu lagi di Yogyakarta. Sebelum SNMPTN diselenggarakan, UGM terlebih dahulu mengadakan seleksi masuk mandiri bernama UM-UGM dan saya berpikir untuk mengikutinya. Dalam keraguan mendaftar UM-UGM jalur UTUL, seorang teman menegaskan saya dengan pertanyaan, “Kamu jadi ga ikut UTUL?” Dan saya pun spontan menjawab, “Iya, jadi.”

Segera saya menyiapkan segala kelengkapan persyaratan UTUL. Sembari bercerita dengan orang tua di rumah via telepon karena jarak rumah yang cukup jauh, saya mendaftarkan diri mengikuti UTUL via internet. Dari tiga pilihan program studi yang tersedia, saya hanya memilih dua. Kenapa dua? Ya karena saya memang tertarik pada dua pilihan itu dan tidak pada pilihan yang lain. Pilihan tersebut adalah S1 Arsitektur dan S1 Kartografi dan Penginderaan Jauh. Saya membuka diri pada salah satu di antara keduanya. 

Perjuangan untuk masuk UGM belum selesai di situ. Tepat di hari keempat/terakhir Ujian Nasional (UN), kami bertiga-belas (saya dan teman-teman) yang telah mendaftar UTUL duduk bersama setelah rangkaian UN selesai. Kami bermusyawarah mengenai keberangkatan ke Jogja, penginapan selama di Jogja, alumni SMA yang dapat dihubungi, dan hal-hal teknis lainnya. Semuanya memang belum kami rencanakan jauh-jauh hari sebelumnya. Karena saat-saat itu memang dipenuhi rangkaian ujian akhir sekolah. 

Kami pun berangkat ke Jogja hari itu pula sehabis shalat magrib. Sabtu pagi, kami sudah sampai Jogja. Hari itu kami manfaatkan untuk memastikan ruang dan gedung dimana nomor kursi kami berada. Esoknya kami melakukan tes dan malamnya kami langsung pulang untuk mengikuti ujian praktek akhir sekolah. Saya sadar saat itu, memang itulah perjuangan yang harus dibayar untuk sebuah keinginan besar. Keinginan untuk bisa menjadi lebih baik dengan berada di lingkungan yang baik. Ya, lingkungan Gadjah Mada-lah yang saya maksud. 

Singkat cerita, hari dimana hasil UTUL diumumkan pun tiba. Alhamdulillah atas segala nikmat-Nya, ketika mengecek nomor tes UTUL yang deretan angkanya masih saya ingat saat itu, saya membaca sebuah kalimat yang kurang lebih isinya seperti ini:

“Selamat, anda diterima di Program Studi Kartografi dan Penginderaan Jauh”

Ya, saya menjadi bagian dari Gadjah Mada. Saya diterima sebagai mahasiswa S1 program studi Kartografi dan Penginderaan Jauh. Sebuah program studi yang telah saya pilih sesuai dengan keinginan hati saya sendiri. Saya mengucap syukur yang sebesar-besarnya. Saya bersujud saat itu untuk mengagungi kebesaran-Nya. Apa yang telah saya inginkan tercapai. Sebuah lompatan lebih besar telah saya lakukan. Saya menjadi bagian dari kampus top negeri ini. Namun saya sadar, itu semua terjadi bukan karena pilihan saya, melainkan karena pilihan Tuhan untuk saya.

Rabu, 18 Agustus 2010 adalah hari dimana mahasiswa D3 dan S1 UGM dikukuhkan. Dari situlah perjalanan saya sebagai mahasiswa dimulai. Tidak mudah memang untuk beradaptasi di sini. Ada beberapa perbedaan yang saya rasakan dibanding lingkungan saya sebelumnya, antara lain status siswa dan mahasiswa serta budaya kehidupan di Madura dan di Jawa.

Adaptasi tersulit adalah menyesuaikan diri dengan pola belajar yang baru. Namun hal itu tetap saya lakukan dengan sebaik mungkin. Hasil semester pertama memanglah tidak terlalu tinggi, saya memperoleh Indeks Prestasi (IP) yang nyaris tidak diperkenankan mengambil SKS penuh pada semester berikutnya. Tapi tidak apa-apa, saya tetap bersyukur atas semua nikmat dan kesempatan yang telah Ia berikan.

Hari-hari kuliah saya jalani dengan baik. Saya mencoba beradaptasi dengan cara membuka diri, termasuk mengikuti beberapa organisasi. Strategi yang saya pakai saat itu adalah saya harus fokus pada satu hal agar hasilnya optimal namun tidak menutup diri pada hal lain agar sudut pandang bisa tetap terbuka dan rasional. Saya memilih untuk mendalami dunia Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diwadahi oleh UKM Kelompok Studi Fakultas “Geography Study Club”. Saya bergabung di UKM tersebut. 

Akhir semester kedua, tepatnya Juli 2011. Saya terpilih menjadi delegasi PIMNAS ke-24 di Makassar sebagai Kontingen UGM. Saya dan dua orang teman lolos seleksi PKM-Gagasan Tertulis dengan ide penggunaan pesawat radio control (drone) untuk menentukan jalur evakuasi korban bencana. Saya sempat tidak percaya waktu itu karena kami bertiga merupakan mahasiswa tingkat pertama dan berasal dari satu program studi yang sama. Sehingga ilmu yang kami miliki belum terlalu dalam dan cakupan kajiannya tidak multidisipliner. Namun Ia telah menetapkan takdirnya dan saya bersyukur. 

Akhir 2012 saya mencoba memasukkan hasil karya tersebut ke sebuah International Conference. Dan Alhamdulillah, paper yang saya masukkan lolos dan berhak dipresentasikan dalam “The Ninth International Conference on Environmental, Cultural, Economic, and Social Sustainability” pada Januari 2013 di Hiroshima, Jepang. Saya pun berangkat untuk memaparkan paper yang telah saya tulis dalam rangkaian conference tersebut. Saya pun tidak berhenti bersyukur. Itu adalah kesempatan pertama saya mengikuti pertemuan ilmiah tingkat internasional dan bertemu dengan pakar-pakar di bidangnya masing-masing dari berbagai belahan dunia. Sedikit gugup memang saat presentasi namun itu saya anggap tidak masalah. Yang saya pikirkan saat itu adalah biarkan gugup itu datang dan selesai di umur 21 tahun. Saya tidak berhenti bersyukur atas semua kesempatan yang telah Ia berikan.

Foto Bersama dengan Ketua Penyelenggara 'The Ninth International Conference on Environmental, Cultural, Economic, and Social Sustainability', delegasi Indonesia, dan perwakilan beberapa negara. -Hiroshima, 2013-

Desember 2013, tepat saat Dies Natalies UGM ke-64, saya mendapat penghargaan sebagai Mahasiswa Berprestasi Fakultas Geografi UGM. Penghargaan tersebut mengantarkan saya mengikuti seleksi mahasiswa berprestasi tingkat universitas dan tergabung dalam Komunitas Mahasiswa Berprestasi UGM (Kommapres UGM).

Saat menerima penghargaan sebagai Mahasiswa Berprestasi pada Dies Natalis UGM ke-64

Banyak pelajaran dan pengalaman yang saya dapatkan selama saya belajar di sini, di Gadjah Mada. Dan saya yakin, semua itu tidak akan pernah sia-sia dan pasti membawa manfaat di masa depan. Juli 2015, saya menyudahi status saya sebagai mahasiswa S1 dan mendapat gelar Sarjana Sains (S.Si.) dengan predikat cum laude. Saya sadar, gelar dan predikat tersebut bukanlah sebatas asesoris dan kepuasan diri, melainkan ada beban moral dan tanggung jawab yang harus saya emban.

Pertanyaan seorang guru olah raga saat perpisahan SD dahulu Alhamdulillah dapat saya jawab dengan kalimat yang baru, “Alhamdulillah, Bapak. Saya sudah lulus dari Universitas Gadjah Mada. Terima kasih atas pertanyaan pemantik Bapak dahulu yang bahkan saat itu saya belum tahu apa-apa.”

Ini tentang niat dan rasa syukur. Niat membawa kita pada satu hal yang kita tuju. Orang lain menyebut itu pandangan, ada pula yang menyebutnya visi. Dan rasa syukur membuat kita menyadari di titik mana sekarang kita berada dan sejauh apa kita telah berjalan sejak langkah kaki pertama. Segala puji dan syukur atas nikmat yang telah Allah berikan.


--------------------
Tulisan ini dimuat dalam Buku Big Dreams, Big Hopes: Kumpulan Memoar Mahasiswa Universitas Gadjah Mada, bersama dengan kisah-kisah lainnya yang lebih inspiratif dari Komunitas Mahasiswa Berprestasi UGM.

Personal Social Responsibility: A Little Gift to My Homeland-Village

Pernahkah kita mendengar istilah Personal Social Responsibility? Dan apa bedanya dengan Corporate Social Responsibility (CSR)? Secara sederhana, keduanya berada pada satu frame yang sama, yaitu social responsibility (tanggung jawab sosial). Lalu dimanakah letak perbedaannya? Mari kita bahas di sini.

Menurut laman businessdictionary.com, "Social responsibility is the obligation of an organisation's management towards the welfare and interests of the society in which it operates" (Tanggung jawab sosial merupakan kewajiban dari suatu manajemen organisasi terhadap kesejahteraan and perhatian masyarakat dimana dia beroperasi). Sedangkan menurut laman investopedia.com, "Social responsibility is the idea that business should balance profit-making activities with activities that benefit society; it involves developing business with a positive relationship to the society in which they operate" (Tanggung jawab sosial merupakan ide bahwa bisnis seharusnya menyeimbangkan kegiatan yang menghasilkan profit dengan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat; ini melibatkan pengembangan bisnis dengan hubungan positif kepada masyarakat dimana mereka beroperasi).

Ada dua hal yang sama-sama disinggung dari kedua definisi tersebut, yaitu society 's welfare, interest, and benefit (masyarakat dalam konteks kesejahteraan) dan in which they operate (dimana mereka beroperasi). Kemudian jika kita tarik sebuah kesimpulan sederhana, corporate social responsibility adalah sebuah tanggung jawab dari suatu perusahaan dalam melakukan aktivitas yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat dimana perusahaan tersebut berada. Lalu bagaimanakah dengan personal social responsibility? Apa defisininya? Dan bagaimana pula hubungannya dengan CSR?

Tidak jauh berbeda, personal social responsibility (PSR) dapat diartikan sebagai tanggung jawab personal seseorang yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat dimana dia tinggal, dibesarkan, atau dilahirkan. Itu definisi pribadi dari saya. Saya pun mencoba mencari beberapa referensi tentang ini, dan ternyata istilah serupa sudah pula digunakan oleh orang lain beserta definisinya. Dalam beberapa sumber, istilah lain yang digunakan untuk merujuk pada maksud yang sama adalah individual social responsibility (ISR).

Dalam sebuah laman pribadi arvinddevalia.com, Ia memberikan sebuah defisini yaitu "Personal social responsibility is all about doing to others what you would like others do to you. It is about recognizing how your behaviour affects others, and holding yourself accountable for your actions (Tanggung jawab personal adalah tentang melakukan semua hal kepada orang lain yang kamu ingin orang lain melakukannya padamu. Ini tentang mengenali bagaimana sikapmu memengaruhi orang lain, dan memastikan dirimu bertanggung jawab atas tindakanmu). Sedangkan, dengan menggunakan terminologi ISR, Anuptiwari dalam laman slideshare.net/anuptiwari memberikan definisi berikut, "Individual social responsibility is about an individual becoming responsible in his/her actions that have affect on communities outside his/her immediate circle. The Immediate circle being family and friends" (Tanggung jawab individu adalah tentang perilaku seseorang yang berdampak pada masyarakat di luar lingkaran dekatnya. Lingkaran dekat adalah keluarga dan teman).

Sebenarnya, personal social responsibility ini merupakan sebuah istilah yang keluar begitu saja dari nalar pribadi saya. Boleh dikata ini hasil dari sebuah kontemplasi sederhana, boleh pula dianggap sebagai sebuah kesimpulan dari nalar logika. Istilah ini muncul selepas S1, ketika saya mulai sering pulang-pergi rumah-rantau, antara Madura, Jogja, dan Jakarta. Selama kuliah dulu, saya kerap terlibat dalam beberapa kegiatan yang menyangkut kesejahteraan masyarakat, baik itu penelitian, pengabdian, ataupun kolaborasi keduanya. Namun, dari semuanya, sangat sedikit yang berhubungan langsung dengan daerah kelahiran saya sendiri. Dari semua kegiatan yang saya lakukan tersebut, hanya satu yang berlokasi di Pulau Madura, itu pun terletak di Kabupaten Bangkalan, bukan tempat saya dilahirkan. Itu pun saya terlibat hanya pada tahap initial observation (observasi awal) dalam menyusun program pengabdian masyarakat berbasis riset. Selebihnya, saya tidak dapat berperan lebih banyak karena saat itu memang sudah ada beberapa kegiatan lain yang lebih dulu diemban.

Lalu setelah itu, saya mencoba untuk membuka mata lebih lebar, mengobservasi, dan mencari ide untuk dapat membuat sesuatu yang cukup sederhana dan paling mungkin untuk dilakukan saat ini, dan tentu dapat bermanfaat untuk banyak orang. Dalam beberapa kali kesempatan pulang, saya mencoba memikirkan hal apa saja yang dapat saya lalukan di sini, di tempat saya dilahirkan, dalam lingkup yang paling kecil. 

Dan di satu waktu, saat santai sore hari di bulan Agustus lalu, bibi saya meminta tolong untuk mengantarkan dua buah tumpeng untuk mengikuti lomba kuliner dalam rangka HUT 17 Agustus ke kantor kecamatan. Kebetulan sore itu pula Bapak Camat sedang bersantai di kantornya, saya pun sempat bersalaman dengannya. Sambil menunggu, saya berkeliling pendopo kantor camat dan tetiba melihat suatu gambar tertampang yang bagi saya cukup mengiris hati. Dengan detil yang agak sedikit saya lupa, gambar itu berjudul 'Peta Kecamatan Tambelangan' dengan kondisi lusuh, warna sudah mulai pudar, dan tidak cukup informatif dalam menyajikan sebuah informasi dasar secara spasial.

Lalu hati ini berbenak, "Saya ini lulusan Geografi, berkonstrasi pada ilmu pemetaan, dan telah menghabiskan waktu lima tahun untuk mempelajari bagaimana fenomena-fenomena di atas bumi ditampilkan dalam sebuah gambar secara sederhana agar dapat dengan mudah dipahami manusia." Pikiran saya pun ikut menimpal, "Saya sudah pernah memperbarui Peta Rupabumi Indonesia di Kabupaten Ponorogo, sempat pula memetakan potensi daerah tangkapan ikan di perairan utara Pulau Bali, pernah belajar memetakan permukaan dasar laut di Selat Sunda bersama TNI AL, pun telah memetakan satu pulau kecil bernama Jefman di Raja Ampat, Papua. Apa jadinya jika saya tidak bisa memberi apa-apa pada daerah saya sendiri?"

Baiklah, ini misi pertama saya, membuat Peta Administrasi Kecamatan Tambelangan. Di waktu senggang bulan Oktober lalu, saya pun mencoba membuatnya. Agak susah memang, karena peta ini memiliki kedetilan sampai tingkat desa, tapi tak sesulit saat di Raja Ampat dahulu. Dan saat ke Jogja awal November kemarin, saya cetak peta tersebut dalam kualitas yang menurut saya paling baik, bisa bertahan di luar ruang dalam waktu lama dengan kondisi cuaca Indonesia.

Sekembalinya dari Jogja, siang tadi, saya berkunjung kembali ke kantor kecamatan dan menemui Bapak Camat secara langsung. Kebelutan saat itu, Bapak Kapolsek dan Bapak Danramil sedang berada satu ruang dengan beliau. Dan terjadi percapakan singkat:

Saya: "Assalamu'alaikum, permisi, Pak."
Pak Camat: "Wa'alaikumussalam. Mari mas, silakan duduk. Ada apa ya?"

Saya: "Ini, Pak. Saya mau memberikan ini untuk kecamatan."
Pak Camat: "Apa ini mas?"

Saya: "Silakan Bapak buka sendiri."

Penyerahan Peta Administrasi Kecamatan Tambelangan kepada Bapak Camat Tambelangan.

Pak Camat: "Wah, bagus ini mas. Nanti bisa kita bingkai dan pajang."
Saya: "Iya, Bapak, ini Peta Kecamatan Tambelangan. Saya harap ini bisa bermanfaat buat semua masyakarat Tambelangan."

Sambil ikut memerhatikan, Pak Kapolsek bertanya: "Ini buatnya pakai apa mas?"
Saya: "Sudah pakai software, Pak. Jadi tidak lagi manual seperti jaman-jaman dahulu."

Dari sudut ruang berbeda Pak Danramil memerhatikan setiap bagian peta sambil berkata, "Skala 1:15.000."

Pak Camat: "Iya mas. Terima kasih banyak. Untuk sementara, nanti peta ini disimpan di sini. Kalau pembangungan pendopo baru sudah selesai, peta ini bisa kita pajang di luar."
Saya: "Iya, Pak. Begitu juga harapan saya."

Pak Camat: "Mas ini dari mana?"
Saya: "Saya asli sini, Pak. Putra Bapak Rifa'i. Tapi saya sudah beberapa tahun merantau. Jadi tidak begitu sering ada di rumah sendiri."

Percakapan singkat pun berlanjut. Dan sebagai penutup, kami pun mengabadikan momen tersebut.

Foto Bersama Kepala SKPD Kecamatan Tambelangan, Kabupaten Sampang.
Dari kiri: Kalpolsek, Danramil, Camat, dan saya.

Inilah personal social responsibility yang saya maksud. Dan baru karya inilah yang bisa saya berikan pada tempat lahir saya.

Teringat saya pada sebuah penggalan puisi karya W. S. Rendra, bertajuk Sajak Seonggok Jagung,
"Apakah gunanya seseorang belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran, atau apa saja, jika pada akhirnya, ketika ia pulang ke daerahnya, ia berkata: Di sini aku merasa asing dan sepi!"
Juga pada sebuah sabda dari manusia terbaik yang pernah ada di muka bumi ini, 
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama."

Setelah Ini

Telah lama, hampir 2 tahun lalu, terakhir kubuat tulisan di blog ini. Banyak yang hari ini ingin dibagikan. Karena memang sejak saat itu, Desember 2014, banyak hal telah berlalu. Begitu banyak, bahkan lebih.

Suatu fase yang sedikit panjang telah terlewati. Perjuangan menuntaskan skripsi, pergi ke negara tetangga, berpindah hunian ke ibukota, pulang ke rumah, sampai kembali berada ke Jogja.

Lalu apa setelah ini?


Tulisan ini hanya sebuah pengantar, bahwa blog ini akan kembali dihuni setelah sekian lama sempat tak dihiraukan.

Setelah ini akan kutulis beberapa cerita tentang perjalanan-perjalananku sebelumnya. Begitu pun tentang hal-hal lainnya.

Mungkin ke depan, aku akan lebih banyak bercerita dalam tulisan.

Untuk apa?

Untuk merekam histori perkembangan cara berpikir dan apa yang tengah dipikirkan dalam setiap fasenya. Yang mungkin suatu saat ketika aku lupa akan sesuatu, aku dapat menemuinya di sini.


Dalam sejuknya udara Jogja, 8 November 2016

First Flight

This story is not about me, it's about my brother. His name is Fatih. Yeah, like the name of Congueror of Konstantinopel, Sultan Mehmed Al-Fatih.

He (my brother) is 12 years old and now in the last year of his basic school. I ever promise to bring him to Jakarta when holiday for him come, but i am not able yet. So today, with our Mom, at 18.40 he will enjoy his fisrt flight to get a holiday in the Capital of this country, Jakarta.

He never go anywhere by plane before, nor by train, just by bus. So, our family thought  it'll be a great experience for him and to make him happy. And another reason is Surabaya-Jakarta takes about 9 hours by train. But it just takes about 1 hour and 10 minutes by plane. 

His mind must be so complicated now. Because he will not only enjoy the trip from home (Madura) to Jakarta, but also during in his holiday in Jakarta, our nephews will take him go around with their daddy (my older brother) and mom (my older brother's wife), like Taman Impian Jaya Ancol, Taman Mini Indonesia Indah, and Puncak Bogor, maybe.

I am sure, when he comeback to Madura, he will has many stories about his holiday in Jakarta. I also suggest my mom to comeback to Madura by train, so he can also know how to go somewhere by train.

I can't tell much for this story. Let my little brother tell and i just wanna listen to him after his holiday. I will only give him a simple smile, because everything he is facing and feeling now, i have felt before. Sure, because i am his older brother. LOL

See you at home, bro.

Tentang Hujan

Dari ayah aku mengerti, bahwa awan yang belum bercampur menjadi satu warna adalah pertanda hujan tidak akan segera datang. "Kamu lihat awan di sana, sebagian berwarna gelap, sebagian masih terang. Di sana ada yang besar, dan di bagian lain masih terpisah-pisah. Itu artinya masih lama hujan akan turun.", kata ayahku. Lantas aku bertanya, "Kenapa bisa begitu? Ramah (panggilan halus untuk ayah dalam Bahasa Madura, seperti Romo dalam Bahasa Jawa) tahu dari mana?". Dia menjawab, "Hujan itu kan berasal dari awan yang jadi mendung. Lalu awan terbuat dari apa? Dari uap air. Uap yang terpisah-pisah tidak akan jatuh karena terlalu ringan dan mudah terbawa angin. Tapi jika awan itu berkumpul jadi satu, maka akan semakin berat. Warna berubah semakin gelap. Uap air itu akan jatuh sebagai rintik hujan. Dari mana Ramah tahu? Belajar, baca buku, dan lihat langsung." Wajahku lalu terdiam, namun pikiranku bercabang memikirkan beberapa hal berbeda dalam satu waktu saat itu. 

Aku kagum padanya. Dalam satu cerita singkatnya, ia memberikan pengalaman, pengetahuan, aplikasi ilmu, nalar, dan semangat, yang semuanya terhubung menjadi satu. Itu saat yang tak pernah aku lupa sampai kini. Aku menjadi suka belajar, bernalar, mengamati alam, dan menikmatinya keindahannya, termasuk hujan. Sedikit aku lupa umurku berapa kala itu, aku sekitar kelas dua SD. Percakapan itu terjadi ketika aku ingin mandi hujan di luar, namun ayahku bilang hujannya masih lama akan datang.

Singkat cerita, jauh setelah itu, ketika aku SMA, jumat siang selepas shalat di masjid, adikku menagih janjiku untuk pergi berenang di Kota Sampang. Rumah kami di desa, sekitar 30 km atau hampir setengah jam perjalanan menuju pusat kota. Ia pulang dari masjid lebih dulu, terlalu bersemangat untuk berenang. Aku pun membalas ajakannya, "Bilang dulu sama ramah kalo mau ke Sampang." Iapun menunggu ayah pulang dari masjid dan tetiba, "Mah, aku mau ke Sampang ya sama mas mau berenang?" Ayah membalas, "Ke Sampang gimana, lihat itu ada mendung sebentar lagi mau hujan (sambil jarinya menunjuk awan mendung di arah barat laut)." Dengan ekspresi sedikit kecewa adikku berkata, "Mas ga boleh ke Sampang, kata ramah mau hujan." Aku dengan senyuman membalas, "Kan yang mau hujan di sini, bukan di Sampang. Lihat itu awannya ada di barat dan Sampang ada di timur. Jadi kita ga bakal kehujanan."  Dengan semangat ia berlari ke ayah dan bilang, "Mah kata mas yang mau hujan di sini, bukan di Sampang. Itu awannya kan di barat mau ke sini. Dan di timur langitnya cerah." kemudian ayahku tersenyum dan berkata, "Ya sudah kalo begitu, boleh ke Sampang. Tapi hati-hati." Dan adikku pun langsung berteriak, "Yeeee kita jadi berenang..." 


Aku melihat senyum ayah saat memberi kami ijin. Seketika pun aku teringat saat kecil dulu, saat kejadian yang aku sebutkan di atas. Dalam benak aku berpikir, ekspresi wajah ayah menandakan ia bangga dan bahagia. Apa yang telah diajarkannya dulu, telah aku tangkap dan aku wariskan pada adikku. Lebih dari itu, pencapaian yang aku lewati sampai saat itu juga buah dari semangat dan pelajaran yang pernah ia tanamkan dulu, dan bahkan hingga diriku yang sekarang.


Kami pun melanjutkan perjalanan ke Kota Sampang, berenang. Dan benar dugaanku, tidak ada hujan di sana, cuaca cerah. Mendengar pembuktianku, adikku hanya tersenyum bodoh sambil mengangguk, memberi ekspresi terkesan. Aku yakin, ia juga menangkap apa yang waktu kecil dulu pernah aku tangkap langsung dari ayah.


Tentang hujan, aku selalu menyukainya. Ada suara, ada wujud, ada aroma, ada rasa, dan ada suhu. Ia membangkitkan panca indera ketika sedang turun. Aku bisa mendengarnya, aku bisa melihatnya, aku bisa menciumnya, aku bisa menikmati segarnya, dan aku bisa merasakan sejuknya. Ia membuat semuanya menjadi peka.

Ia pun dapat merekam memori, yang hanya bisa dibuka ketika musimnya telah kembali. Begitu khas, hingga tiap kejadian berbeda dapat terekam dengan baik. Masih ku ingat tentang memori masa kecilku jika hujan datang, saat aku berada di rumah. Masih bisa ku rasakan memori masa SMAku jika hujan datang, saat aku berada di sekolah.


Aku suka hujan. Ia menyimpan sejuta memori, yang bisa dibuka dimana saja ketika ia ada.

Aku suka hujan. Ia membangkitkan semua indera, membuatnya merekam memori secara khusus lalu dipadu dalam satu irama hujan.

Tentang hujan, aku menyukainya.

The Meaning of Wedding

Ini cerita tentang pernikahan, tapi pernikahan orang lain, bukan pernikahan sendiri.

Malam ini aku pulang, 19 Juni 2014. Bukan untuk menyambut bulan puasa, sekalipun sudah H-10. Apalagi untuk Pilpres, karena masih bulan depan. Temanku akan menikah, Ayu namanya. Dia teman SMA; keluarga keduaku di dunia. Ya, karena kami bertiga puluh dua tak terpisah selama 3 tahun.

Besok, jum'at 20 Juni 2014 ia akan melangsungkan pernikahan. Ini pernikahan kedua dari teman-teman Genetika (nama kelas dan angkatan SMAku). Sebelumnya Asrul yang memecahkan telur, ia yang pertama menikah di antara kami. Namun sayang aku tak bisa hadir. Bukan karena aku terlalu sibuk dengan kegiatanku di Jogja, melainkan karena ada hal lain yang harus aku utamakan.

Di waktu yang sama dengan pernikahan Asrul, orang tuaku berangkat haji. Tak mungkin aku memilih pergi ke Sumenep dan menghadirinya. Sementara semua keluarga besar, termasuk yang di Sumenep pergi ke Sampang untuk mengantar orang tuaku berangkat haji. Terpaksalah aku tak hadir, meskipun saat itu aku di Madura. Itu kepulangan tersingkat sepertinya. Tak Sampai 24 jam di rumah.

Kembali ke pernikahan Ayu. Ia dan mereka (Genetika yang lain) telah aku anggap keluarga kedua. Susah senang yang pernah kita semua lewati, masih belum terganti hingga kini. Wajar kalau aku niatkan untuk pulang. Meskipun sempat ibuku tanya, kenapa pulangnya singkat (dua hari saja), dan langsung akan kembali lagi ke Jogja. Aku jawab saja terus terang, aku mau hadir ke undangan pernikahan teman SMA-ku. Selain itu ya memang ingin pulang, tapi tak lama.

Entah, melihat teman bahagia. Rasanya akan ikut berbahagia pula diri ini. Aku memang belum tahu rasanya. Tapi pernikahan adalah salah satu perpindahan fase hidup seseorang. Dari seorang anak dalam satu keluarga, menjadi seorang anak dalam dua keluarga. Dari yang menanggung tanggung jawab hidup sendiri, menjadi menanggung hidup berdua. Ah sudahlah, aku belum saatnya tahu itu lebih banyak. Haha.. Nanti waktunya kan tiba, pasti! Tinggal kita berusaha untuk mempermudah semuanya.

Aku ingin ada di hari kebahagiaan temanku. Agar nanti di hariku bahagia, mereka juga ada. Itu saja alasannya. Sederhana. Walau kali ini tak semuanya (32 orang) bisa datang, tak apa. Perwakilan menandakan kepedulian itu masih ada.

Semoga kamu bahagia, Ayu. Maaf untukmu, Asrul. Maaf juga untuk kalian berdua, piala bergilir yang direncakan sejak SMA dulu belum sempat terealisasi. Mungkin nanti untuk urutan ketiga dari kita yang akan mendapatkannya kali pertama. Tapi tetap dengan persetujuan kalian. Haha

I love you all, Genetika.