Multitarget

Bismillah. Ini adalah tulisan dari seorang intelektual bernama Fahmi Amhar. Saya mengutipnya langsung dan sepenuhnya dari tulisan beliau di profil facebooknya. Semoga tulisan itu tak hilang dan bisa dibuka setiap waktu, maka saya simpan juga di blog ini.

BELAJAR MERAIH MULTI TARGET
Kadang ada pertanyaan yang diluncurkan kepada beberapa aktivis dakwah yang menurut mayoritas orang “sukses” dalam meraih multi-target. Maksud multi-target itu: dakwahnya sukses, sekolahnya sukses, keluarga sukses, dan karier atau bisnisnya juga sukses. Karena manusia itu memang mahluk multi-target. Memang ada nasehat, bahwa agar menjadi manusia yang istimewa, itu harus fokus, karena otak tidak bisa berpikir dua hal pada saat yang bersamaan. Itu benar. Tetapi, kita semua diberi waktu 24 jam sehari kan ? Dan toh tidak harus 24 jam itu hanya memikirkan satu hal saja, selamanya. Yang namanya ibadah saja, sholat misalnya, hanya diminta paling 5 x @ 10 menit. Di luar sholat ya mikir yang lain. Bahkan, di Qur’an Surat Al-Jumu’ah, itu malah diperintahkan agar habis sholat Jum’at, itu supaya “bertebaran mencari rizki Allah” – bukan malah duduk-duduk atau ngobrol di masjid.

Tapi sebelum lebih jauh, kata “sukses” sendiri mesti jelas ukurannya. Kalau ukuran dasar, bahwa itu sesuai dengan perintah Allah, ooo tentu saja. Tetapi kita biasa menilai kesuksesan dari output dibanding input. Dakwah disebut sukses kalau bisa merubah pikiran – dan lalu perilaku – orang yang mendengarkan, sehingga makin islami. Dan makin banyak orang yang bisa berubah, berarti makin sukses. Sekolah disebut sukses, kalau berhasil meraih level tertinggi dengan nilai baik, dan setelahnya mampu mengamalkan ilmunya itu, atau dijadikan rujukan dalam bidang keahliannya itu. Keluarga disebut sukses, kalau berhasil membangun rumah tangga yang harmonis, jauh dari konflik, sinergi dalam aktivitas, juga menghasilkan anak-anak yang shaleh/shalihah, sehat, cerdas dan juga sejak dini terikat dengan berbagai aktivitas positif. Sedang karier atau bisnis disebut sukses, kalau makin berkembang, makin memberi manfaat banyak orang, makin banyak menghasilkan zakat-infaq-shadaqah, dan bisa menjadi washilah membuka jejaring yang makin mendukung tercapainya visi.

Persoalannya, banyak aktivis dakwah yang ternyata kelabakan di jalan. Mereka yang merasa aktif dalam dakwah, ternyata ada yang sekolahnya jadi berantakan. Atau sekolah dan dakwah semula jalan, tetapi begitu masuk dunia kerja, langsung suaranya berangsung-angsur senyap … bahkan lama-lama hilang. Ada juga yang senyapnya ini setelah berkeluarga. Sebaliknya ada terus rajin sibuk dalam dakwah dan bisnis, tetapi keluarga kurang mendapatkan haknya, yang bahkan berujung pada sesuatu yang halal tetapi sangat dibenci Allah, sesuatu yang menggetarkan Arasy, yakni perceraian !!!

Karena setiap dari kita mendapatkan “anggaran” yang sama dari Allah, yaitu sehari 24 jam, maka tentu kita perlu belajar “best-practice” dari mereka yang terlebih dulu dapat kita identifikasi sebagai sukses meraih multi-target tersebut. Mungkin memang kelebihan tiap orang tidak sama, tetapi jelas mereka yang saya jadikan teladan, itu dapat disebut sukses, jauh di atas aktivis dakwah kebanyakan.

Ada yang saya lihat, pada saat itu usia beliau belum 40 tahun – pada saat dakwahnya sangat kencang – beliau sudah menjadi icon dakwah nasional, ternyata juga masih sempat menyelesaikan S2-nya, juga mendirikan sebuah sekolah dan perguruan tinggi Islam, juga menulis banyak sekali buku, juga sukses membangun lembaga konsultan bisnis & manajemen yang sudah bisa jalan sendiri, rumah tangganya juga tampak harmonis, masih sempat mengajak anak-anaknya liburan dsb.

Ada lagi – yang juga di usia muda – ini bahkan kelasnya sudah internasional. Eloknya, saat itu, meski sudah terkenal, tapi masih sempat meneruskan S3-nya di Luar Negeri, sambil terus memelihara berbagai cabang bisnisnya, dan terus mengembangkan sekolah yang dibangunnya, menulis beberapa textbook standar dan suatu ensiklopedi, menginspirasi banyak orang – seraya keluarganya sangat harmonis, padahal anaknya sedikitnya 7 orang.

Setelah saya pelajari, pribadi-pribadi ini ternyata memiliki ciri-ciri yang mirip:
1. Mereka relatif dini mengenali tujuan hidupnya. Ada yang sejak SD memang sudah “dekat dengan masjid”. Tetapi ada juga yang baru setelah SMA atau mahasiswa. Bahkan ada yang baru muallaf setelah sarjana. Tetapi sebelumnya, mereka sudah tergolong orang-orang yang “hanif” (=cinta kebenaran). Benar kata Nabi, “barangsiapa hebat di masa Jahiliyah, dia juga akan hebat dengan Islam”. Artinya, Nabi tidak menafikan bahwa di antara orang-orang yang belum berjuang dengan Islam-pun, bahkan belum muslim, ada yang memiliki kehebatan universal – seperti sikap cinta kebenaran (jujur), cenderung pada keadilan, rajin mencari ilmu, menjaga komitmen dalam bekerja, dan sebagainya. Nah, orang-orang seperti ini, di lingkungan manapun selalu akan dihargai, dan selalu tampak hebat.

2. Mereka relatif dini mempelajari segala ilmu yang mendukung meraih visinya. Ada yang sejak dini gemar membaca. Ada yang sejak SMA sudah rajin belajar menulis buku. Ada yang sejak mahasiswa sudah merintis bisnis. Benar kata pepatah: belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, belajar di waktu dewasa bagai mengukir di atas air. Mereka juga sejak awal suka belajar sesuatu yang dapat meningkatkan kinerja hidupnya, sehingga dalam waktu yang sama, mereka dapat menyelesaikan lebih banyak pekerjaan daripada orang lain. Mereka belajar Cara Bekerja Efisien, Cara Memotivasi Orang Lain, Cara Mengotomatisasi Pekerjaan, dan sebagainya. Mereka juga akrab dengan biografi berbagai tokoh dunia. Karena itu mereka makin terinspirasi dan makin dapat membuat sebuah “road map” atau peta perjalanan hidupnya, dia mau meraih apa saja pada usia berapa, bersama siapa, dan dimana.

3. Dengan ilmu itu mereka dapat merinci visinya dalam tahapan-tahapan kecil yang lebih terukur, kemudian mereka istiqomah memenuhi tahapan-tahapan kecil itu. Ketidakmampuan merinci visi dalam tahapan kecil membuat seakan-akan semua target visi sebuah pekerjaan raksasa. Bagaimana bisa meraih gelar Doktor dalam usia kurang dari 30 tahun? Ya memang seperti tidak terjangkau dalam segala aspek: biaya – persiapan bahasa – topik dll. Tetapi kalau dirinci, kapan kita persiapan bahasa, kapan kita akan test TOEFL, kapan cadangan waktu mengulang kalau tidak sekali lulus, kapan kita akan mulai mengontak calon profesor dan mencari bahan untuk membuat proposal, dan sebagainya, maka semuanya pasti terasa terjangkau. Tapi sekali lagi, kemampuan merinci visi ini memerlukan ilmu yang lebih baik mulai dipelajari sedini mungkin.

4. Mereka percaya bahwa meramal masa depan itu mustahil, tetapi ikut merekayasa masa depan sangat mungkin. Karena itu cara terbaik mengetahui akan seperti apa masa depan kita, adalah aktif terlibat dalam upaya membentuk masa depan yang sesuai visi kita. Dari sini kita melihat bahwa aktivitas dakwah, sekolah, keluarga maupun karier/bisnis harus bermuara di titik yang sama – yaitu masa depan kita yang lebih baik, lebih bermartabat, lebih diridhoi Allah. Kalau untuk membangun sebuah gedung saja kita harus menguasai beberapa jenis ilmu, seperti ilmu bangunan yang didasari matematika atau fisika, juga ilmu manajemen proyek, maka berapa banyak ilmu yang harus kita kuasai untuk membangun sebuah negara ? Ini justru harusnya makin mendorong kita untuk lebih tekun dan lebih serius dalam belajar dan bekerja.

5. Mereka serius memikirkan prioritas amal (fiqih awlawiyat). Ketika amal dirinci pada bagian-bagian kecil, maka akan terlihat lebih jelas, mana amal wajib yang harus didahulukan, dan mana – amalan wajib pula – yang lebih longgar waktunya. Tidak berarti kalau dakwah menjadi aktivitas utama (poros hidup) lantas kewajiban pada keluarga harus selalu diterakhirkan ! Kita jangan berhenti pada yang makro atau besar-besar saja, tetapi memang harus rinci. Mengkaji kitab dalam halaqah adalah kewajiban, menjaga orang tua yang sakit juga kewajiban, ini tidak harus dibenturkan. Masih bisa disiasati, misalnya menjaga orang tua bergantian dengan saudara, atau kalau kondisinya memungkinkan: halaqahnya dilakukan di tempat di mana orang tua dirawat.

6. Sedapat mungkin satu aktivitas bisa disinergikan dengan aktivitas yang lain. Kalau kita ada tugas keluar kota, apa salahnya untuk sekaligus melakukan kontak pada orang yang seperjalanan di dalam bus atau pesawat. Atau jauh sebelum berangkat, kita memberitahu aktivis dakwah di tempat tujuan, bahwa keberadaan kita di sana siap dimanfaatkan untuk dakwah. Demikian juga, kalau kita ada agenda yang tidak jauh dari suatu tempat wisata, sementara anak-anak sedang liburan, bagaimana kita ke tempat yang diagendakan itu sambil membawa anak-anak dan didrop di tempat wisata itu bersama orang yang kita percaya, dan kita akan menyusulnya bila agenda kita selesai. Hal-hal semacam ini memang memerlukan “jam terbang”, sehingga lama-lama jadi habbit.

7. Segala 'infrastruktur' harus diupayakan mendukung target-target itu. Ini mulai dari memilih jenis dan lokasi pekerjaan, memilih lokasi tempat tinggal, memilih teknologi yang akan dipakai di rumah dan tempat aktivitas, bahkan memilih orang yang akan dijadikan pasangan hidupnya. Saya melihat ada aktivis dakwah yang ternyata setiap hari hilang waktu 2 x 2 jam untuk perjalanan pergi pulang ke tempat kerjanya. Dan selama itu dia praktis tidak dapat melakukan hal lain karena harus konsentrasi penuh mengendarai motor. Andaikata dia naik bus, barangkali bisa sambil membaca, menghafal Qur’an dengan mp3, atau sekalian kontak dakwah ke sesama penumpang. Atau barangkali jika dia bisa pindah rumah mendekati tempat kerjanya, mungkin yang 4 jam itu bisa produktif untuk yang lain.

8. Terus mengevaluasi diri dan mengoptimasi diri, sehingga beberapa kesalahan tidak terulang lagi, sedang beberapa pekerjaan yang berulang dan sudah diketahui sistem atau prosedurnya dengan jelas, dapat diotomatisasi atau didelegasikan pada orang yang telah kita kader. Dengan ini makin banyak lagi hal yang dapat kita raih, dan pada saat yang sama, makin banyak orang yang dapat merasakan manfaat kehadiran kita dalam hidupnya.

9. Tidak ada hentinya menyandarkan hasil kepada Allah. Karena meski kita telah mempersiapkan diri sedemikian rupa, Allah-lah yang memberi kesehatan dan kesempatan pada kita. Kalau Allah kehendaki, dapat saja Dia membuat kita sakit atau terkena musibah, sehingga segala rencana kita berantakan semua.

Selamat sukses menjadi mahluk multitarget.

Semangat memperbaiki diri. Semangat menjadi pribadi menginspirasi.

Catatan Singkat

KKN sebagai Wujud Nyata
Peran dan Tanggung Jawab Sosial Mahasiswa
Fajrun Wahidil Muharram
Fakultas Georafi Universitas Gadjah Mada

 Mahasiswa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan orang yang belajar di perguruan tinggi. Pengertian mahasiwa tidak hanya tergolong pada jenjang diploma dan S1, namun juga S2 dan S3. Dengan kata lain, mahasiswa merupakan kaum akademis dengan strata tertinggi yang berbeda dengan golongan di bawahnya yaitu siswa SD, SMP, dan SMA.

Pada dasarnya, hak yang dimiliki oleh mahasiswa adalah belajar. Namun lebih dari itu, adanya Tri Dharma sebagai ruh dari setiap perguruan tinggi yang berupa pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat menjadi hak sekaligus kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap mahasiswa. Hal tersebut menjadikan iklim di perguruan tinggi terasa berbeda. Dunia kemahasiswaan bersifat lebih kompleks dari dunia sekolah dengan jam belajar yang terkesan tidak menentu, kegiatan meneliti yang seakan berkepanjangan dan menyita waktu, serta kegiatan ekstrakulikuler kampus yang membabi buta.


Dengan kondisi demikian, bukan berarti mahasiwa harus mengabaikan dan tidak peka terhadap perubahan yang terjadi di masyarakat. Adanya permasalahan lingkungan baik alam maupun sosial justru menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menunjukkan apa yang selama ini telah dipelajari.

Mahasiswa yang didominasi oleh para pemuda merupakan agent of change (penggerak perubahan). Pemuda identik dengan semangat yang kuat dan tidak mudah menyerah dalam berbagai situasi. Pemuda merupakan pemberi aksi nyata dari setiap ide yang tertuang. Itulah yang membedakan pemuda dengan orang tua. Ada pepatah mengatakan, “Belajarlah keberanian dari pemuda, dan belajarlah kebijaksanaan dari orang tua.” Sehingga apabila dikaitkan dengan statusnya sebagai mahasiswa, pemuda merupakan sosok yang dapat mengantarkan ilmu dan pengetahuan menjadi suatu aksi yang dapat diaplikasikan di masyarakat, tidak sebatas teori yang tersimpan dalam buku.

Pengabdian kepada masyarakat merupakan peran dan tanggung jawab sosial yang dimiliki mahasiswa. Mau atau tidak, mereka tetap harus melakukannya. Bentuk nyata dari pengabdian kepada masyarakat dalam perguruan tinggi bermacam-macam bentuknya maupun pelaksananya. Di tataran rektorat dan kelembangaan kampus, pengabdian masyarakat dapat berupa penyuluhan kepada masyarakat maupun daerah atau pendampingan program-program sosial masyarakat secara kelembagaan. Di kalangan organisasi mahasiswa, pengabdian kepada masyarakat dilakukan dalam bentuk desa binaan dan secamamnya, dimana mahasiswa terlibat dan berinteraksi langsung dengan masyarakat, dengan acara yang dilakukan secara terjadwal.

Bentuk lain dari pengabdian kepada masyarakat adalah Kuliah Kerja Nyata (KKN). Secara konseptual dan pragmatis, KKN memiliki muatan atau nilai yang lebih tinggi daripada bentuk pengabdian lainnya. Di dalam KKN, tercakup tiga unsur Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan yang dilakukan selama kuliah menjadi bekal bagi mahasiswa dalam mengaplikasikan ilmunya di masyarakat, penelitian menjadi instrumen bagi mahasiswa untuk memberikan solusi atas permasalahan yang kerap terjadi di masyarakat, serta pengabdian merupakan bentuk dari pelaksanaan kegiatan tersebut. Ketiga unsur Tri Dharma tersebut menjadi serasi dan memiliki prosi seimbang satu dengan yang lain. Secara kelembagaan, kampus (perguruan tinggi) menjadi payung dari pelaksanaan kegiatan tersebut sedangkan mahasiswa menjadi pelaksana. Kampus memberikan fasilitas baik formal maupun material (pendanaan) sedangkan mahasiswa memberikan curahan tenaga dan pikiran.

Menurut sejarahnya, KKN dimulai pada masa Agresi Militer Belanda dimana sekolah-sekolah mulai kehilangan guru. Sehingga, kebijakan perguruan tinggi dalam hal ini UGM sebagai pelopor KKN mewajibkan mahasiswanya untuk mengabdi dengan turun langsung mengajar sekolah-sekolah tanpa guru tersebut. Seiring waktu, kegiatan KKN dirasa bermanfaat sekalipun Agresi Militer Belanda telah usai. Oleh karena itu, KKN terus dilaksanakan dan program di dalamnya menjadi lebih kompleks tidak hanya sekedar mengajar, melainkan membantu masyarakat mengatasi permasalahan yang selama ini terjadi dan dapat dipecahkan dengan ilmu yang didapat mahasiswa selama kuliah. Kemudian, KKN menjadi program yang menjamur di perguruan tinggi-perguruan tinggi di Indonesia.

Pengalaman pribadi penulis tentang KKN juga cukup berkesan. Pada Juli-Agustus 2013 lalu, penulis melakukan kegiatan KKN di wilayah timur Indonesia, yaitu Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Pemilihan lokasi tersebut didasari oleh salah satu tujuan KKN yaitu pemberdayakan masyarakat. Raja Ampat sebagai kabupaten baru hasil pemekaran dengan potensi alam yang tinggi dirasa perlu dilakukan pemberdayaan agar masyarakatnya siap bersaing dengan daerah lain di Indonesia. Lokasi KKN tersebut tepatnya berada di Pulau Jefman, satu dari sekian banyak pulau di Raja Ampat yang paling dekat dari kota Sorong, dengan waktu tempuh perjalanan sekitar satu jam menggunakan perahu (long boat).

Pulau Jefman memiliki bandara aktif yang menghubungkan Kota Sorong dengan daerah lain di Indonesia sebelum terjadi pemekaran Kabupaten Raja Ampat. Pada saat itu, menurut cerita tokoh setempat, masyarakat sekitar hidup berkecukupan. Karena hasil laut mereka dapat dijual langsung di dermaga sekitar bandara maupun dikirim ke Kota Sorong. Namun setelah Kabupaten Raja Ampat terbentuk, Kota Sorong membuat bandara baru di wilayahnya sedangkan Kabupaten Raja Ampat juga membuat bandara baru di lokasi yang lebih dekat dengan ibukota. Sehingga, bandara lama dinonaktifkan dan Pulau Jefman perlahan mulai ditinggalkan. Kondisi ini merupakan fenomena unik yang memiliki potensi masalah dan jika dibiarkan akan menjadi semakin besar.

Sejak pemindahan bandara tersebut, beberapa masyarakat di Pulau Jefman terpaksa harus menjari mata pencaharian baru. Beberapa dari mereka berusaha tetap pada pekerjaan lama dengan konsekuensi tersendiri. Seperti contoh, salah seorang pegawai bandara memilih melanjutkan profesi sebelumnya sehingga setiap hari harus menyeberang untuk bekerja di siang hari dan kembali di malam hari. Sehingga biaya yang harus dikeluarkan semakin besar, terlebih jika cuaca tidak memungkinkan. Masyarakat lain yang awalnya memiliki profesi jasa penyeberangan terpaksa harus menjadi nelayan, padahal keahilan menangkap ikan tidak sepenuhnya mereka kuasai.

Dari kenyataan tersebut, penulis beserta rekan satu timnya mencoba mengindentifikasi segala permasalahan yang ada di pulau tersebut dan juga potensi-potensi yang dapat dimanfaatkan. Kemudian dengan pemahaman ilmu yang didapat selama kuliah dan pertimbangan dari masyarakat sekitar, dibuat beberapa solusi dan dijadikan sebagai program KKN. Program-program tersebut antara lain penyuluhan tentang pelestarian ikan, perikanan tangkap, dan perikanan budidaya, pemanfaatan buah mangrove sebagai makanan, pertanian palawija, pembenahan sistem tata pemerintahan desa, pengeloaan sampah, kerajinan kreatif, dan lain sebagainya. Program seperti penyuluhan tentang pelestarian ikan dilaksanakan dengan mengundang Kepala Dinas Perikanan setempat dan salah satu tokoh lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang konservasi yaitu CI (Conservation International) sebagai pembicara. Hal tersebut dapat dilakukan karena mahasiswa memiliki keterampilan yang sebelumnya sudah dipelajari di kampus.

Penulis merasakan kegiatan KKN yang dilaksanakan selama dua bulan tersebut membawa banyak manfaat baik bagi penulis sendiri maupun bagi masyarakat di Pulau Jefman secara umum. Hal tersebut dibuktikan dengan diterimanya laporan pertanggungjawabaan tim KKN di depan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) setempat yang sempat dihadiri langsung oleh wakil bupati dan dosen pembimbing KKN. Lebih dari itu, pihak pemerintah setempat berharap kegiatan serupa dapat kembali dilakukan dan lebih ditingkatkan lagi untuk tahun-tahun berikutnya. Terbukti, menurut informasi yang penulis terima, jumlah unit KKN pada kesempatan mendatang di Kabupaten Raja Ampat meningkat dari 3 unit pada 2013 menjadi 7 unit pada 2014, mengingat masih banyak bagian dari kabupaten tersebut yang perlu dilakukan kegiatan serupa.

Jika diperhatikan lebih jauh, kegiatan KKN memberi dampak berganda dan berlipat. Bagi mahasiswa, KKN memberikan kesempatan untuk mengetahui dunia luar secara langsung dan menjadi pemicu sebelum mereka benar-benar terjun ke masyarakat. Bagi kampus (perguruan tinggi), KKN merupakan suatu langkah atau program nyata dari visi pengabdian kepada masyarakat yang terkandung dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dan bagi masyarakat, termasuk pemerintah daerah, KKN memberikan kesempatan berharga untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas kerja yang ilmunya didapat secara langsung dari perguruan tinggi dengan harapan kualitas hidup dapat meningkat.

If You Feel Your Heart Vibrate, You Know For Whom You Life

Adzan Terakhir Sahabat Bilal Semua pasti tahu, bahwa pada masa Nabi, setiap masuk waktu sholat, maka yang mengkumandankan adzan adalah Bilal bin Rabah. Bilal ditunjuk karena memiliki suara yang indah. Pria berkulit hitam asal Afrika itu mempunyai suara emas yang khas. Posisinya semasa Nabi tak tergantikan oleh siapapun, kecuali saat perang saja, atau saat keluar kota bersama Nabi. Karena beliau tak pernah berpisah dengan Nabi, kemanapun Nabi pergi. Hingga Nabi menemui Allah ta’ala pada awal 11 Hijrah. 

Semenjak itulah Bilal menyatakan diri tidak akan mengumandangkan adzan lagi. Ketika Khalifah Abu Bakar Ra. memintanya untuk jadi mu’adzin kembali, dengan hati pilu nan sendu bilal berkata: “Biarkan aku jadi muadzin Nabi saja. Nabi telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi.” Abu Bakar terus mendesaknya, dan Bilal pun bertanya: “Dahulu, ketika engkau membebaskanku dari siksaan Umayyah bin Khalaf. Apakah engkau membebaskanmu karena dirimu apa karena Allah?.” Abu Bakar Ra. hanya terdiam. “Jika engkau membebaskanku karena dirimu, maka aku bersedia jadi muadzinmu. Tetapi jika engkau dulu membebaskanku karena Allah, maka biarkan aku dengan keputusanku.” Dan Abu Bakar Ra. pun tak bisa lagi mendesak Bilal Ra. untuk kembali mengumandangkan adzan. 

Kesedihan sebab ditinggal wafat Nabi Saw., terus mengendap di hati Bilal Ra. Dan kesedihan itu yang mendorongnya meninggalkan Madinah, dia ikut pasukan Fath Islamy menuju Syam, dan kemudian tinggal di Homs, Syria. Lama Bilal Ra tak mengunjungi Madinah, sampai pada suatu malam, Nabi Saw hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya: “Ya Bilal, wa maa hadzal jafa’? Hai Bilal, kenapa engkau tak mengunjungiku? Kenapa sampai begini?.” Bilal pun bangun terperanjat, segera dia mempersiapkan perjalanan ke Madinah, untuk ziarah pada Nabi. Sekian tahun sudah dia meninggalkan Nabi. 

Setiba di Madinah, Bilal bersedu sedan melepas rasa rindunya pada Nabi Saw., pada sang kekasih. Saat itu, dua pemuda yang telah beranjak dewasa, mendekatinya. Keduanya adalah cucunda Nabi Saw., Hasan dan Husein. Sembari mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua memeluk kedua cucu Nabi Saw itu. Salah satu dari keduanya berkata kepada Bilal Ra.: “Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan buat kami? Kami ingin mengenang kakek kami.” Ketika itu, Umar bin Khattab yang telah jadi Khalifah juga sedang melihat pemandangan mengharukan itu, dan beliau juga memohon Bilal untuk mengumandangkan adzan, meski sekali saja. 

Bilal pun memenuhi permintaan itu. Saat waktu shalat tiba, dia naik pada tempat dahulu biasa dia adzan pada masa Nabi Saw masih hidup. Mulailah dia mengumandangkan adzan. Saat lafadz “Allahu Akbar” dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap, segala aktifitas terhenti, semua terkejut, suara yang telah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok nan agung, suara yang begitu dirindukan, itu telah kembali. Ketika Bilal meneriakkan kata “Asyhadu an laa ilaha illallah”, seluruh isi kota madinah berlarian ke arah suara itu sembari berteriak, bahkan para gadis dalam pingitan mereka pun keluar. Dan saat bilal mengumandangkan “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan. 

Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Nabi, Umar bin Khattab yang paling keras tangisnya. Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya, lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai. Hari itu, madinah mengenang masa saat masih ada Nabi Saw. Tak ada pribadi agung yang begitu dicintai seperti Nabi Saw. Dan adzan itu, adzan yang tak bisa dirampungkan itu, adalah adzan pertama sekaligus adzan terakhirnya Bilal Ra, semenjak Nabi Saw wafat. Dia tak pernah bersedia lagi mengumandangkan adzan, sebab kesedihan yang sangat segera mencabik-cabik hatinya mengenang seseorang yang karenanya dirinya derajatnya terangkat begitu tinggi. Semoga kita dapat merasakan nikmatnya Rindu dan Cinta seperti yang Allah karuniakan kepada Sahabat Bilal bin Rabah Ra. Aamiin.

See You on Top!

Rabu, 25 Desember 2013, tepat di hari Natal, aku pulang ke madura. Ini bukan pulang yang biasa, karena kakakku akan melangsungkan pernikahannya di tanggal 27-nya. Namun bukan itu yang ingin aku ceritakan.


Sejak dari Jogja sampai akan kembali ke Jogja. Aku seperti mengalami kilas balik ke diriku di masa lalu, tepatnya ketika masih SMA. Semua seakan terulang dan terbayang di kepala, juga terasa di dada. 



Dan semua itu menjadikanku mengingat kalian, Genetika. Keluarga keduaku, yang sempat menenami dalam satu ruang dan waktu tiga tahun lamanya. Aku juga tak paham mengapa perasaan itu membawaku pada masa lalu. Tapi aku rindu kalian, aku rindu akan diriku yang tidak tahu apa-apa kemudian menjadi pribadi yang lebih dewasa dengan mengenal kalian. Kalian berwarna-warni. Dan warna-warni itulah yang membuatku mudah mengurai pelangi. 


Sudah tiga setengah tahun kita memilih jalan masing-masing. Lebih lama dari kita bersama dulu. Di sini aku memiliki teman dekat. Namun itu belum dapat dibandingkan dengan kedekatan yang pernah kita buat. Mereka, teman dekatku di sini, hanya beberapa. Sedangkan kita, bertiga puluh dua. Lingkaran kita lebih besar, sehingga energi kita juga lebih besar. 


Tak berpengaruh sekarang jarak memisahkan. Lingkaran itu tidak hilang, namun melebar. Aku yakin, di sana, di tempat masing-masing, kita tengah menebar kebaikan pada sekeliling kita, pada lingkungan, juga pada orang-orang di dekat kita.



Sebenarnya aku ingin cerita banyak pada kalian, dalam satu tempat yang sama. Kita kumpul untuk kembali saling mengisi semangat. Karena aku sudah dua kali bolos pertemuan tahunan kita, yang selalu dilakukan setiap ramadhan. Pertama dulu aku sedang jalan-jalan ke negeri orang. Kedua kemarin aku sedang KKN di Indonesia timur. Sering memang liburku atau lebih tepatnya waktu untuk aku pulang tidak sama dengan kebanyakan kalian. Jadi aku tak bisa mengunjungi kalian semua. Hanya tiga orang yang kemarin sempat ku kunjungi.


Foto Bersama (Genetika) dengan Mempelai Asrul dan Reta


Sekarang, satu dari kita sudah menggenapkan separuh agamanya. Dialah Asrul. Dia yang memukul gong pertama. Aku yakin, semua dari kita punya tujuan sama. Punya keluarga impian masing-masing. Nanti kau akan kami ikuti, Srul. Jangan kuatir. Beberapa dari kita juga sudah bisa mandiri secara keuangan dari orang tuanya. Ada yang sudah bekerja tetap. Ada juga dengan penghasilan wirausahanya.



Aku bangga pada kalian. Kalian manusia super. Aku tidak menyesal pernah bersama. Mungkin dulu jika ibu Dimas tidak tegas bertanya padaku apakah ingin ikut tes PSUB atau tidak dan juga mas Acul tidak mendesakku untuk ikut tes itu, cerita akan berbeda. Mungkin sekarang aku tidak akan di Jogja, atau di UGM sini. 



Sekolah kita semacam jadi batu loncatan bagiku, dari suatu sekolah di desa terpencil sampai ke salah satu kampus paling top negeri ini. Dan kalian adalah pendorong loncatanku. Apalah arti batu loncatan jika tidak bisa meloncat, atau meloncat tapi tak sampai. Tapi, Alhamdulillah, Allahu Akbar, aku mendapatkan keduanya.



Aku ingin, suatu saat nanti, kita dapat berkumpul kembali, dengan keluarga impian masing-masing, dengan impian yang sudah teraih masing-masing. Kita melingkar lagi dengan energi yang lebih dahsyat. Tujuanku cuma satu, apa yang kita pernah nikmati dapat dinikmati pula oleh orang-orang setelah kita. 



Mungkin kedengarannya terlihat aneh, kalau sekarang aku ucap "Songsong Senom II". Kalian tahu apa Songsong Senom? Itu yayasan yang dulu menjadi donatur berdirinya kelas unggulan di sekolah kita, dan kemudian sempat mati. Aku ingin itu kembali berdiri dengan kita yang mengawali. Pernah aku ucap itu di kumpul pertama kita pasca lulus SMA dulu. Mungkin ada dari kalian yang ingat namun tak menghiraukannya, mungkin juga kalian tak ingat sama sekali. Tapi dari dulu aku yakin, itu pasti bisa diwujudkan dan menjadi kenyataan. Keyakinan itu ada karena kalian ada, itu saja, sederhana.



Sering aku berkata pada kalian, "See you on Top!". Itu sebagai pengigat dan pemicu semangat agar kita dapat terus keep on track in our struggle. Juga sebagai jargon baru di tengah lingkaran yang terus melebar ini. Sampai lingkaran itu nanti kembali mengecil karena kita perlahan telah mendekati dan mencapai puncak itu.



"So, See You on Top!"

Sebenarnya Tugasku Masih Banyak, Bukan Cuma untuk Diriku, Tapi juga Untuk Mereka

Senin pagi, 3 Juni 2013, minggu tenang hari pertama di semester 6. Temanku bercerita tentang film seMESTA menduKUNG >> MESTAKUNG. Film yang bercerita tentang perjuangan anak Madura mengikuti Olimpiade Fisika Internasional sekaligus mencari ibunya di Singapura.


Aku minta saja filmnya pada temanku itu. Sudah lama aku ingin menontonnya tapi belum kesampean. Dulu karena ga ada teman waktu baru launching. Terus nunggu bajakannya belum juga datang. Dan tadi pagi kesempatan emas mendapatkan film itu.



Sebenarnya tugasku masih banyak, bukan cuma untuk diriku, tapi juga untuk mereka. Iya, itu sebenarnya yang ingin aku ceritakan.


Di film itu, Arif bertemu orang Madura penjual ketoprak di Jakarta, ketika ia mengikuti pembinaan pra olimpiade internasional. Ternyata masih seperti dulu, tidak semua orang Madura merantau dengan cara yang lebih baik. Intinya, sama saja dengan usahanya di rumah, namun dengan ladang jual yang lebih baik.


Sehabis nonton, aku niatkan untuk beli sate. Memang lapar sih, dan juga udah lama ga makan sate. Seperti biasa, setiap malam ada penjual sate yang keliling sekitar kos. Aku ingin merasakan seperti yang di film Mestakung barusan.



Aku samperin tukang sate di dekat gardu ronda, aku pesan satu porsi sambil ajak ngomong. Ternyata dia berasal dari satu kecamatan denganku di rumah. Hanya saja, tujuan kami ke sini mungkin beda. Aku menuntut ilmu, dan ia mencari nafkah.



Ternyata, mereka (para penjual sate) masih menggunakan cara sama untuk mengais rezeki Allah. Merantau ke Jogja hanya sebuah peluang yang mereka pikir akan lebih meningkatkan pendapatan. Tanpa berpikir bagaimana meningkatkan cara kerja mereka agar lebih baik.



Aku tak menyalahkan mereka, sepenuhnya aku tak menyalahkan mereka. Mungkin mereka berada dalam ketidaktahuan untuk berubah, mungkin juga karena ketidakberdayaan untuk merubahnya. Jadi mereka pikir tempat yang lebih ramailah yang dapat membuat mereka bertambah pengahasilan, bukan peningkatan cara kerja.



Aku termenung...

Inilah tugasku. Tugas seorang penuntut ilmu. Tugas seorang kaum terpelajar. 
Apa hasilnya aku sekolah tinggi-tinggi kalau untuk tetangga saja aku tidak bisa bermanfaat.
Tugaskulah untuk membantu kehidupan mereka menjadi lebih baik. 


"Sebenarnya Tugasku Masih Banyak, Bukan Cuma untuk Diriku, Tapi juga Untuk Mereka"



Masih banyak orang Madura yang merantau keluar, karena berpikir di pulau sendiri penghasilan tak akan dapat menunjang hidup. Tapi, apakah dengan merantau itu bisa teratasi. Itulah tugasku menyelesaikannya.



Aku harap, suatu saat aku bisa mengajak mereka semua pulang.

"Ayo, sekarang kita punya lapangan pekerjaan sendiri yang lebih baik."
Dan hanya kuijinkan mereka merantau dengan menjadi tenaga-tenaga ahli, karena memang dibutuhkan.
Bukan lagi seperti sekarang.
Insya Allah, biarkan saya berusaha.

At-Thaariq ayat 4

Bismillahirrahmanirrahim.

Sebenarnya ini catatan lama yang aku tulis di facebook. Aku mendapatkannya dari guru agamaku di SMA. Setiap ilmu yang beliau ajarkan terasa ringan dicerna namun mendalam maknanya. Karena beliau memberinya dengan perlahan, sedikit demi sedikit, sembari membagi pengalaman pribadi hidupnya, dan menekankannya untuk langsung diamalkan. 

Sebenarnya juga banyak catatan yang aku dapat dari beliau, tapi tempatnya berserakan dimana-mana dan kebanyakan aku lupa. Dan ini penggalan surat At-Thaariq ayat 4:

إِنْ كُلُّ نَفْسٍ لَمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌ

There is no soul but has a protector over it.
[Tidak ada suatu jiwa pun (diri) melainkan ada penjaganya].

If man has a true spiritual understanding, he has nothing to be afraid of. His is protected by Allah in many ways that he does not even know. He may be an insignificant creature as a mere animal, but his soul raises him to a dignity above other creation. And all sorts of divine forces guard and protect him.
[Jika seseorang memiliki pemahaman spiritual yang benar, dia tidak memiliki apa-apa untuk ditakuti. Dia dilindungi oleh Allah di berbagai jalan yang dia tidak mengetahuinya. Dia mungkin makhluk sepele seperti seekor binatang, tapi jiwanya telah mengangkat dirinya untuk sebuah martabat (derajat) diatas ciptaan lainnya. Dan segala kekuatan menjaga dan melindungi dirinya.]

Ketika Semua Terasa Begitu Berat

Ya Allah, kenapa semuanya terasa berat?


PadaMu Rabbi, aku bertengadah.

Mengangkat dua telapak tangan..


Aku bagaikan jiwa kosong yang berlari.

Tak tahu kemana, tak tahu pula untuk apa.
Semakin ku pikir, tujuan semakin baur, tak berujung.


Entah, mungkin aku banyak salah.

Salah padaMu, Tuhanku. Salah pada sesamaku.
Ku ingkari nikmatMu, nikmat yang telah Kau janjikan pasti datang.
Nikmat yang sempat Kau berikan. Aku buang rasa syukurku.

Ya Allah, hati ini terlalu sombong.
Terlalu menganggap segalanya mudah, segalanya bisa dilakukan.
Padahal Engkaulah yang melakukan, Engkaulah yang ada di balik semua ketercapaianku.

Tapi aku yang mengakuinya, bukan malah aku bersyukur.

Sungguh jika Engkau tidak Maha Pengampun, maka celakalah aku.



Ya Allah, aku tahu ini ujian.

Sebab Kau takkan menaikkan derajatku hanya dengan karunia.
Kau uji diriku, bisakah aku mensyukurinya atau justru kufur.
Dan kelihatan semua sekarang, aku lebih mengkufurinya.
Ya Allah, terasa sekali... Sakit, pahit, sepi, semua cepat datang cepat hilang.
Benar memang, sakitnya terjatuh lebih parah ketimbang tak pernah naik.


Ya Allah, aku ingin berubah.

Aku ingin memperbaikin diri.
Cukuplah kesombongan ini menjadi pelajaran bagiku.
Bahwa segala takdir itu adalah ketentuanMu.
Sesuatu akan terjadi atau tidak itu kuasaMu.
Semudah dan sesulit apapun itu.
Ya Allah, jangan Kau tepikan aku lagi dari rahmatMu.


Cukuplah ya Allah diri ini dalam kesesatan yang benderang, benderang semu.

Dalam kemaksiatan yang tak pernah kau ijinkan hambaMu mendekatinya.
Kemaksiatan mata, hati, mulut, telinga, hidung, tangan, kaki, dan lainnya.
Cukuplah aku dalam kesombongan yang membuat aku tenggelam perlahan.
Ya Allah, aku sadar aku punya Engkau yang akan melepasku dari segala cobaan.
Tapi jika aku tak menjemput, tak pernah Kau akan datang.
Sesuai dengan apa yang telah Engkau firmankan.
Ya Allah, ijinkan aku kembali. Mudahkanlah, Aamiin...

Mereka Bertanya Kenapa Sekarang Aku Jarang Kelihatan

Sejak liburan semester 5 kemarin, aku memang jarang kelihatan di kampus.
Tepatnya setelah menyelesaikan amanah sebagai presiden kelompok studi fakultas Geography Study Club.

Menjelang liburan, mungkin dapat dibilang aku berada di kampus mulai jam 7 pagi sampai 11 malam. Untuk urusan kuliah, praktikum, organisasi, dan persiapan konferensi ke Jepang waktu itu. Jadi teman-teman sering melihatku hampir di setiap waktu.

Sekarang aku memang jarang kelihatan di kampus. Sebenarnya aku tidak kemana-mana. Pernah ada yang bertanya, kenapa sekarang kamu jarang kelihatan? Itu karena aku sedang memperbaiki pondasi. Pondasi apa? pondasi hidup.

Banyak hal yang dapat aku jadikan pelajaran selama liburan semester kemarin, terutama saat di Jepang. Juga saat di rumah sepulang dari Jepang. Dan di Jogja menjelang masuk semester 6. "Kenapa aku begitu banyak meluangkan waktu untuk target-target kecil dalam hidupku. Sementara target-target yang lebih besar sering ku lewati, atau ku tangguhkan". Nah, kira-kira begitu kalimatnya.

Sudah tahun ketiga, sudah saatnya kembali mengurus diri sendiri. Maksudku kembali berfokus pada diri sendiri. Banyak yang harus dibenahi. Sudah saatnya berpikir apa yang akan aku lakukan setelah ini, setelah S1 selesai. Apa yang harus aku persiapkan untuk menyelesaikan S1. Apa yang bisa aku bawa setelah selesai S1. Dan hal apa yang dapat memberikan kebaikan padaku selama S1 ini untuk hidupku keseluruhan. Itulah yang aku pikirkan akhir-akhir ini.

Aku merasa baik-baik aja, bahkan sepertinya ini waktu-waktu terbaik selama aku di Jogja, insya Allah.

Indahnya Kisah Hukum Di Jaman Umar





Umar sedang duduk beralas surban di bebayang pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Sahabat di sekelilingnya bersyuraa bahas aneka soal. Tiga orang muda datang menghadap; 2 bersaudara berwajah marah yang mengapit pemuda lusuh nan tertunduk dalam belengguan mereka.



“Tegakkan keadilan untuk kami hai Amiral Mukminin”, ujar seorang, “Qishash-lah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatannya!”


Umar bangkit. “Bertaqwalah pada Allah”, serunya pada semua. “Benarkah engkau membunuh ayah mereka wahai anak muda?”, selidiknya.



Pemuda itu menunduk sesal. “Benar wahai Amiral Mukminin!”, jawabnya ksatria. “Ceritakanlah pada kami kejadiannya!”, tukas Umar.



“Aku datang dari pedalaman yang jauh”, ungkapnya, “Kaumku mempercayakan berbagi urusan muamalah untuk kuseslesaikan di kota ini.”



“Saat sampai”, lanjutnya, “Kutambatkan untaku di satu tunggul kurma, lalu kutinggalkan ia. Begitu kembali, aku terkejut & terpana”



“Tampak olehku seorang lelaki tua sedang menyembelih untaku di lahan kebunnya yang tampak rusak terinjak & ragas-rigis tanamannya”



“Sungguh aku sangat marah & dengan murka kucabut pedang hingga terbunuhlah si bapak itu. Dialah rupanya ayah kedua saudaraku ini.”



“Wahai Amiral Mukminin”, ujar seorang penggugat, “Kau telah dengar pengakuannya, dan kami bisa hadirkan banyak saksi untuk itu.”



“Tegakkanlah had Allah atasnya!”, timpal nan lain. Umar galau & bimbang setelah mendengar lebih jauh kisah pemuda terdakwa itu.



“Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih & baik”, ujar ‘Umar, “Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat”



“Izinkan aku”, ujar Umar, “Meminta kalian berdua untuk memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan Diyat atas kematian ayahmu.”



“Maaf hai Amiral Mukminin”, potong kedua pemuda dengan mata masih nyala memerah; sedih & marah, “Kami sangat sayangi ayah kami.”



“Bahkan andai harta sepenuh bumi dikumpulkan tuk buat kami kaya”, ujar salah satu, “Hati kami hanya kan ridha jiwa dibalas jiwa!”



Umar yang tumbuh simpati pada terdakwa yang dinilainya amanah, jujur, & bertanggungjawab; tetap kehabisan akal yakinkan penggugat



“Wahai Amiral Mukminin”, ujar pemuda tergugat itu dengan anggun & gagah, “Tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah Qishash atasku.”



“Aku ridha pada ketentuan Allah”, lanjutnya, “Hanya saja izinkan aku menunaikan semua amanah & kewajiban yang tertanggung ini.”



“Apa maksudmu?”, tanya hadirin. “Urusan muamalah kaumku”, ujar pemuda itu, “Berilah aku tangguh 3 hari untuk selesaikan semua.”



“Aku berjanji dengan nama Allah yang menetapkan Qishash dalam Al Quran, aku kan kembali 3 hari dari sekarang tuk serahkan jiwaku”



“Mana bisa begitu!”, teriak penggugat. “Nak”, ujar ‘Umar, “Tak punyakah kau kerabat & kenalan yang bisa kau limpahi urusan ini?”



“Sayangnya tidak hai Amiral Mukminin. Dan bagaimana pendapatmu jika kematianku masih menanggung hutang & tanggungan amanah lain?”



“Baik”, sahut ‘Umar, “Aku memberimu tangguh 3 hari; tapi harus ada seseorang yang menjaminmu bahwa kau tepat janji tuk kembali.”



“Aku tak memiliki seorangpun. Hanya Allah, hanya Allah, yang jadi penjaminku wahai orang-orang yang beriman padaNya”, rajuknya.



“Harus orang yang menjaminnya!”, ujar penggugat, “Andai pemuda ini ingkar janji, dia yang kan gantikan tempatnya tuk di-Qishash!”



“Jadikan aku penjaminnya hai Amiral Mukminin!”, sebuah suara berat & berwibawa menyeruak dari arah hadirin. Itu Salman Al Farisi.



“Salman?”, hardik Umar, “Demi Allah engkau belum mengenalnya! Demi Allah jangan main-main dengan urusan ini! Cabut kesediaanmu!”



“Pengenalanku padanya tak beda dengan pengenalanmu ya Umar”, ujar Salman, “Aku percaya padanya sebagaimana engkau mempercayainya”



Dengan berat hati, Umar melepas pemuda itu & menerima penjaminan yang dilakukan oleh Salman baginya. Tiga hari berlalu sudah.



Detik-detik menjelang eksekusi begitu menegangkan. Pemuda itu belum muncul. Umar gelisah mondar-mandir. Penggugat mendecak kecewa. Semua hadirin sangat khawatirkan Salman. Sahabat perantau negeri-pengembara iman itu mulia & tercinta di hati Rasul & sahabatnya.Mentari di hari batas nyaris terbenam; Salman dengan tentang & tawakkal melangtkah siap ke tempat Qishash. Isak pilu tertahan.Tetapi sesosok bayang berlari terengah dalam temaram, terseok terjerembab lalu bangkit & nyaris merangkak. “Itu dia!”, pekik Umar



Pemuda itu dengan tubuh berkuah peluh & nafas putus-putus ambruk ke pangkuan Umar. “Maafkan aku!”, ujarnya. “Hampir terlambat.”



“Urusan kaumku makan waktu. Kupacu tungganganku tanpa henti hingga ia sekarat di gurun & terpaksa kutinggalkan, lalu kuberlari..”



“Demi Allah”, ujar Umar sambil menenangkan & meminumi, “Bukankah engkau bisa lari dari hukuman ini? Mengapa susah payah kembali?”



“Supaya jangan sampai ada yang katakan”, ujar terdakwa itu dalam senyum, “Di kalangan muslimin tak ada lagi ksatria tepat janji.”



“Lalu kau hai Salman”, ujar Umar berkaca-kaca, “Mengapa mau-maunya kau jadi penjamin seseorang yang tak kau kenal sama-sekali?”



“Agar jangan sampai dikatakan”, jawab Salman teguh, “Di kalangan muslimin tak ada lagi saling percaya & menanggung beban saudara”



“Allahu Akbar!”, pekik 2 pemuda penggugat sambil memeluk terdakwanya, “Allah & kaum muslimin jadi saksi bahwa kami memaafkannya”



“Kalian”, kata Umar makin haru, “Apa maksudnya? Jadi kalian memaafkannya? Jadi dia tak jadi di-Qishash? Allahu Akbar! Mengapa?”



“Agar jangan ada yang merasa”, sahut keduanya masih terisak, “Di kalangan kaum muslimin tak ada lagi kemaafan & kasih sayang.”




-----
Diambil dari http://dazzdays.wordpress.com/2013/01/19/indahnya-kisah-hukum-di-jaman-umar/

Indonesia, From Laboratory to Industry and Community

Many scientists including young scientists (students) in Indonesia whose works stopped only in the laboratories and scientific journals. This happens because of discrepancies between educational and research agencies with industrial agencies and other stakeholders. So the follow-up of research results can not continue. And this situation happens continuously and is considered as natural condition in the community, but in fact there is something wrong. 

On the other hand, the Indonesian people are not fully aware of the conditions around and development of technology comprehensively. Businesses that they do often less productive because of competition. Thus creating the traditional markets and the modern markets. In fact, if they keep up with technology, of course what they trade in will up-to-date and increases their income. These facts become a barrier of society prosperity rising in Indonesia. 

I studied at the Universitas Gadjah Mada, in the fields of geography, especially in spatial analysis. In addition, i also joined the student activity unit in field of research called study club. I joined in two study clubs, one at the faculty level and the other at the university level. I joined both with aim to improve my research skill, because students is demanded more in this expertise. Many things i got from here. A year after joining, i was appointed as a president of the faculty study club. Some leadership experience that i have ever got was became a team leader of the scientific ideas paper about disaster victims evacuation strategy which was presented at the National Student Scientific Week in Makassar, 2011. And now the idea is being developed in my department. For another experience, i had the opportunity to be a speaker at the National Seminar themed “Tata Ruang Berbasis Bencana” in Yogyakarta, 2011. In November 2012, i was appointed as a responsible person of National Event named “Geo-environment Scholars Championship” for third year undergraduate students and graduated students. I also became a pioneer of research-based guided village in collaboration between some study clubs in the university. We have managed developing of biogas for daily household, increasing the quality of the rice planting, mapping the regional potential, and constructing a library for learning place.

I did these things as a form of concern to the community. Because students have a strategic role in integrating research and dedication, according to “Tri Dharma Perguruan Tinggi”. Students can directly apply the knowledge gained in the campus to the community. Their expertise also can be improved by means of research, especially interdisciplinary research. After I spend a lot of time to improving research and dedication in the faculty and the university, it is time i go on to the national level. Hopefully, with this decision, I can increase my experiences and networks. Then there will be more people that I can serve.

#Written as a requirement of YLI 2013. Wish Allah give best, i am approved. Aamiin..