Showing posts with label My Self. Show all posts
Showing posts with label My Self. Show all posts

Niat dan Rasa Syukur

“Mas Fajrun, kalau sudah besar nanti mau ikut Pak Jiman pulang ke Jogja, kuliah di UGM?”


“Belum tahu, Pak.”

Percakapan itu terjadi antara saya dan seorang guru olahraga saat rekreasi kelulusan SD ke Surabaya. Beliau bernama Sujiman, berasal dari Yogyakarta, dan ditugaskan untuk mengajar SD di sebuah desa di Kabupaten Sampang, Pulau Madura, Jawa Timur. Sebuah sekolah yang berjarak 30 kilometer dari pusat kota.

Menamatkan SD di sebuah desa terpencil bukanlah pilihan saya. Itu pilihan Tuhan untuk saya. Selulus SD, saya melanjutkan ke SMP di tempat yang sama. Tidak pernah terpikir ke mana saya akan melanjutkan sekolah. Hari-hari selama SD dan SMP berjalan seperti biasa. Saya belajar bersama teman-teman dan sesekali mengikuti dan menjuarai lomba di tingkat kabupaten. Menjelang kelulusan SMP, saya terpikir untuk melanjutkan sekolah keluar kabupaten meskipun masih dalam keadaan ragu untuk mendaftar. Tiba-tiba, seorang guru yang juga ibu dari teman saya berkata, “Mas Fajrun jadi daftar SMA 3 Pamekasan apa tidak?” Dan saya pun menjawab spontan pertanyaan beliau, “Jadi, Bu.”

Singkat cerita, saya diterima di SMAN 3 Pamekasan, sebuah sekolah favorit di Pulau Madura. Sekolah tersebut memiliki program Kelas Unggulan dimana 30 peserta didiknya merupakan siswa-siswi terbaik dari empat kabupaten di Pulau Madura dan proses seleksinya dilakukan mirip seleksi masuk perguruan tinggi, ada Tes Potensi Akademik (TPA) dan Tes Mata Pelajaran (Matematika dan IPA). Selain itu, peserta didiknya ditempatkan di asrama sekolah dengan jam belajar tambahan lima kali 90 menit setiap pekannya dan semua biaya pendidikan selama tiga tahun ditanggung oleh pemerintah kabupaten dan sebuah yayasan yang menaungi. 

Alhamdulillah, saya mengucap syukur sebesar-besarnya atas takdir tersebut. Itu bukan pilihan saya, melainkan pilihan Tuhan untuk saya. Melanjutkan sekolah dari sebuah SMP terpencil ke SMA favorit merupakan sebuah loncatan yang baik, bahkan sangat baik. Dari situ saya sadar, jika kita telah berniat, disertai usaha dan doa, pasti jalan untuk meraihnya akan terlihat dan kita tinggal melewatinya.

Di tahun ketiga SMA, saya masih belum terpikir ke mana akan melanjutkan studi. Yang saya pikirkan saat itu hanya satu, saya mau kuliah di luar provinsi, seperti halnya saya melanjutkan SMA di luar kabupaten tempat saya tinggal. Sekali lagi, ini tentang niat. Saya sudah melompat tiga tahun yang lalu. Maka sekarang saya harus melompat lebih jauh lagi, mengejar kampus top negeri ini. Itulah niat sederhana saya saat itu. 

Dengan berbekal informasi dari beberapa sumber termasuk mencari sendiri lewat situs resmi, saya memilih beberapa perguruan tinggi ternama negeri ini sebagai pilihan studi. Ada tiga pilihan kampus saat itu, satu di Bandung, satu di Jakarta, dan satu lagi di Yogyakarta. Sebelum SNMPTN diselenggarakan, UGM terlebih dahulu mengadakan seleksi masuk mandiri bernama UM-UGM dan saya berpikir untuk mengikutinya. Dalam keraguan mendaftar UM-UGM jalur UTUL, seorang teman menegaskan saya dengan pertanyaan, “Kamu jadi ga ikut UTUL?” Dan saya pun spontan menjawab, “Iya, jadi.”

Segera saya menyiapkan segala kelengkapan persyaratan UTUL. Sembari bercerita dengan orang tua di rumah via telepon karena jarak rumah yang cukup jauh, saya mendaftarkan diri mengikuti UTUL via internet. Dari tiga pilihan program studi yang tersedia, saya hanya memilih dua. Kenapa dua? Ya karena saya memang tertarik pada dua pilihan itu dan tidak pada pilihan yang lain. Pilihan tersebut adalah S1 Arsitektur dan S1 Kartografi dan Penginderaan Jauh. Saya membuka diri pada salah satu di antara keduanya. 

Perjuangan untuk masuk UGM belum selesai di situ. Tepat di hari keempat/terakhir Ujian Nasional (UN), kami bertiga-belas (saya dan teman-teman) yang telah mendaftar UTUL duduk bersama setelah rangkaian UN selesai. Kami bermusyawarah mengenai keberangkatan ke Jogja, penginapan selama di Jogja, alumni SMA yang dapat dihubungi, dan hal-hal teknis lainnya. Semuanya memang belum kami rencanakan jauh-jauh hari sebelumnya. Karena saat-saat itu memang dipenuhi rangkaian ujian akhir sekolah. 

Kami pun berangkat ke Jogja hari itu pula sehabis shalat magrib. Sabtu pagi, kami sudah sampai Jogja. Hari itu kami manfaatkan untuk memastikan ruang dan gedung dimana nomor kursi kami berada. Esoknya kami melakukan tes dan malamnya kami langsung pulang untuk mengikuti ujian praktek akhir sekolah. Saya sadar saat itu, memang itulah perjuangan yang harus dibayar untuk sebuah keinginan besar. Keinginan untuk bisa menjadi lebih baik dengan berada di lingkungan yang baik. Ya, lingkungan Gadjah Mada-lah yang saya maksud. 

Singkat cerita, hari dimana hasil UTUL diumumkan pun tiba. Alhamdulillah atas segala nikmat-Nya, ketika mengecek nomor tes UTUL yang deretan angkanya masih saya ingat saat itu, saya membaca sebuah kalimat yang kurang lebih isinya seperti ini:

“Selamat, anda diterima di Program Studi Kartografi dan Penginderaan Jauh”

Ya, saya menjadi bagian dari Gadjah Mada. Saya diterima sebagai mahasiswa S1 program studi Kartografi dan Penginderaan Jauh. Sebuah program studi yang telah saya pilih sesuai dengan keinginan hati saya sendiri. Saya mengucap syukur yang sebesar-besarnya. Saya bersujud saat itu untuk mengagungi kebesaran-Nya. Apa yang telah saya inginkan tercapai. Sebuah lompatan lebih besar telah saya lakukan. Saya menjadi bagian dari kampus top negeri ini. Namun saya sadar, itu semua terjadi bukan karena pilihan saya, melainkan karena pilihan Tuhan untuk saya.

Rabu, 18 Agustus 2010 adalah hari dimana mahasiswa D3 dan S1 UGM dikukuhkan. Dari situlah perjalanan saya sebagai mahasiswa dimulai. Tidak mudah memang untuk beradaptasi di sini. Ada beberapa perbedaan yang saya rasakan dibanding lingkungan saya sebelumnya, antara lain status siswa dan mahasiswa serta budaya kehidupan di Madura dan di Jawa.

Adaptasi tersulit adalah menyesuaikan diri dengan pola belajar yang baru. Namun hal itu tetap saya lakukan dengan sebaik mungkin. Hasil semester pertama memanglah tidak terlalu tinggi, saya memperoleh Indeks Prestasi (IP) yang nyaris tidak diperkenankan mengambil SKS penuh pada semester berikutnya. Tapi tidak apa-apa, saya tetap bersyukur atas semua nikmat dan kesempatan yang telah Ia berikan.

Hari-hari kuliah saya jalani dengan baik. Saya mencoba beradaptasi dengan cara membuka diri, termasuk mengikuti beberapa organisasi. Strategi yang saya pakai saat itu adalah saya harus fokus pada satu hal agar hasilnya optimal namun tidak menutup diri pada hal lain agar sudut pandang bisa tetap terbuka dan rasional. Saya memilih untuk mendalami dunia Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diwadahi oleh UKM Kelompok Studi Fakultas “Geography Study Club”. Saya bergabung di UKM tersebut. 

Akhir semester kedua, tepatnya Juli 2011. Saya terpilih menjadi delegasi PIMNAS ke-24 di Makassar sebagai Kontingen UGM. Saya dan dua orang teman lolos seleksi PKM-Gagasan Tertulis dengan ide penggunaan pesawat radio control (drone) untuk menentukan jalur evakuasi korban bencana. Saya sempat tidak percaya waktu itu karena kami bertiga merupakan mahasiswa tingkat pertama dan berasal dari satu program studi yang sama. Sehingga ilmu yang kami miliki belum terlalu dalam dan cakupan kajiannya tidak multidisipliner. Namun Ia telah menetapkan takdirnya dan saya bersyukur. 

Akhir 2012 saya mencoba memasukkan hasil karya tersebut ke sebuah International Conference. Dan Alhamdulillah, paper yang saya masukkan lolos dan berhak dipresentasikan dalam “The Ninth International Conference on Environmental, Cultural, Economic, and Social Sustainability” pada Januari 2013 di Hiroshima, Jepang. Saya pun berangkat untuk memaparkan paper yang telah saya tulis dalam rangkaian conference tersebut. Saya pun tidak berhenti bersyukur. Itu adalah kesempatan pertama saya mengikuti pertemuan ilmiah tingkat internasional dan bertemu dengan pakar-pakar di bidangnya masing-masing dari berbagai belahan dunia. Sedikit gugup memang saat presentasi namun itu saya anggap tidak masalah. Yang saya pikirkan saat itu adalah biarkan gugup itu datang dan selesai di umur 21 tahun. Saya tidak berhenti bersyukur atas semua kesempatan yang telah Ia berikan.

Foto Bersama dengan Ketua Penyelenggara 'The Ninth International Conference on Environmental, Cultural, Economic, and Social Sustainability', delegasi Indonesia, dan perwakilan beberapa negara. -Hiroshima, 2013-

Desember 2013, tepat saat Dies Natalies UGM ke-64, saya mendapat penghargaan sebagai Mahasiswa Berprestasi Fakultas Geografi UGM. Penghargaan tersebut mengantarkan saya mengikuti seleksi mahasiswa berprestasi tingkat universitas dan tergabung dalam Komunitas Mahasiswa Berprestasi UGM (Kommapres UGM).

Saat menerima penghargaan sebagai Mahasiswa Berprestasi pada Dies Natalis UGM ke-64

Banyak pelajaran dan pengalaman yang saya dapatkan selama saya belajar di sini, di Gadjah Mada. Dan saya yakin, semua itu tidak akan pernah sia-sia dan pasti membawa manfaat di masa depan. Juli 2015, saya menyudahi status saya sebagai mahasiswa S1 dan mendapat gelar Sarjana Sains (S.Si.) dengan predikat cum laude. Saya sadar, gelar dan predikat tersebut bukanlah sebatas asesoris dan kepuasan diri, melainkan ada beban moral dan tanggung jawab yang harus saya emban.

Pertanyaan seorang guru olah raga saat perpisahan SD dahulu Alhamdulillah dapat saya jawab dengan kalimat yang baru, “Alhamdulillah, Bapak. Saya sudah lulus dari Universitas Gadjah Mada. Terima kasih atas pertanyaan pemantik Bapak dahulu yang bahkan saat itu saya belum tahu apa-apa.”

Ini tentang niat dan rasa syukur. Niat membawa kita pada satu hal yang kita tuju. Orang lain menyebut itu pandangan, ada pula yang menyebutnya visi. Dan rasa syukur membuat kita menyadari di titik mana sekarang kita berada dan sejauh apa kita telah berjalan sejak langkah kaki pertama. Segala puji dan syukur atas nikmat yang telah Allah berikan.


--------------------
Tulisan ini dimuat dalam Buku Big Dreams, Big Hopes: Kumpulan Memoar Mahasiswa Universitas Gadjah Mada, bersama dengan kisah-kisah lainnya yang lebih inspiratif dari Komunitas Mahasiswa Berprestasi UGM.

Setelah Ini

Telah lama, hampir 2 tahun lalu, terakhir kubuat tulisan di blog ini. Banyak yang hari ini ingin dibagikan. Karena memang sejak saat itu, Desember 2014, banyak hal telah berlalu. Begitu banyak, bahkan lebih.

Suatu fase yang sedikit panjang telah terlewati. Perjuangan menuntaskan skripsi, pergi ke negara tetangga, berpindah hunian ke ibukota, pulang ke rumah, sampai kembali berada ke Jogja.

Lalu apa setelah ini?


Tulisan ini hanya sebuah pengantar, bahwa blog ini akan kembali dihuni setelah sekian lama sempat tak dihiraukan.

Setelah ini akan kutulis beberapa cerita tentang perjalanan-perjalananku sebelumnya. Begitu pun tentang hal-hal lainnya.

Mungkin ke depan, aku akan lebih banyak bercerita dalam tulisan.

Untuk apa?

Untuk merekam histori perkembangan cara berpikir dan apa yang tengah dipikirkan dalam setiap fasenya. Yang mungkin suatu saat ketika aku lupa akan sesuatu, aku dapat menemuinya di sini.


Dalam sejuknya udara Jogja, 8 November 2016

First Flight

This story is not about me, it's about my brother. His name is Fatih. Yeah, like the name of Congueror of Konstantinopel, Sultan Mehmed Al-Fatih.

He (my brother) is 12 years old and now in the last year of his basic school. I ever promise to bring him to Jakarta when holiday for him come, but i am not able yet. So today, with our Mom, at 18.40 he will enjoy his fisrt flight to get a holiday in the Capital of this country, Jakarta.

He never go anywhere by plane before, nor by train, just by bus. So, our family thought  it'll be a great experience for him and to make him happy. And another reason is Surabaya-Jakarta takes about 9 hours by train. But it just takes about 1 hour and 10 minutes by plane. 

His mind must be so complicated now. Because he will not only enjoy the trip from home (Madura) to Jakarta, but also during in his holiday in Jakarta, our nephews will take him go around with their daddy (my older brother) and mom (my older brother's wife), like Taman Impian Jaya Ancol, Taman Mini Indonesia Indah, and Puncak Bogor, maybe.

I am sure, when he comeback to Madura, he will has many stories about his holiday in Jakarta. I also suggest my mom to comeback to Madura by train, so he can also know how to go somewhere by train.

I can't tell much for this story. Let my little brother tell and i just wanna listen to him after his holiday. I will only give him a simple smile, because everything he is facing and feeling now, i have felt before. Sure, because i am his older brother. LOL

See you at home, bro.

Tentang Hujan

Dari ayah aku mengerti, bahwa awan yang belum bercampur menjadi satu warna adalah pertanda hujan tidak akan segera datang. "Kamu lihat awan di sana, sebagian berwarna gelap, sebagian masih terang. Di sana ada yang besar, dan di bagian lain masih terpisah-pisah. Itu artinya masih lama hujan akan turun.", kata ayahku. Lantas aku bertanya, "Kenapa bisa begitu? Ramah (panggilan halus untuk ayah dalam Bahasa Madura, seperti Romo dalam Bahasa Jawa) tahu dari mana?". Dia menjawab, "Hujan itu kan berasal dari awan yang jadi mendung. Lalu awan terbuat dari apa? Dari uap air. Uap yang terpisah-pisah tidak akan jatuh karena terlalu ringan dan mudah terbawa angin. Tapi jika awan itu berkumpul jadi satu, maka akan semakin berat. Warna berubah semakin gelap. Uap air itu akan jatuh sebagai rintik hujan. Dari mana Ramah tahu? Belajar, baca buku, dan lihat langsung." Wajahku lalu terdiam, namun pikiranku bercabang memikirkan beberapa hal berbeda dalam satu waktu saat itu. 

Aku kagum padanya. Dalam satu cerita singkatnya, ia memberikan pengalaman, pengetahuan, aplikasi ilmu, nalar, dan semangat, yang semuanya terhubung menjadi satu. Itu saat yang tak pernah aku lupa sampai kini. Aku menjadi suka belajar, bernalar, mengamati alam, dan menikmatinya keindahannya, termasuk hujan. Sedikit aku lupa umurku berapa kala itu, aku sekitar kelas dua SD. Percakapan itu terjadi ketika aku ingin mandi hujan di luar, namun ayahku bilang hujannya masih lama akan datang.

Singkat cerita, jauh setelah itu, ketika aku SMA, jumat siang selepas shalat di masjid, adikku menagih janjiku untuk pergi berenang di Kota Sampang. Rumah kami di desa, sekitar 30 km atau hampir setengah jam perjalanan menuju pusat kota. Ia pulang dari masjid lebih dulu, terlalu bersemangat untuk berenang. Aku pun membalas ajakannya, "Bilang dulu sama ramah kalo mau ke Sampang." Iapun menunggu ayah pulang dari masjid dan tetiba, "Mah, aku mau ke Sampang ya sama mas mau berenang?" Ayah membalas, "Ke Sampang gimana, lihat itu ada mendung sebentar lagi mau hujan (sambil jarinya menunjuk awan mendung di arah barat laut)." Dengan ekspresi sedikit kecewa adikku berkata, "Mas ga boleh ke Sampang, kata ramah mau hujan." Aku dengan senyuman membalas, "Kan yang mau hujan di sini, bukan di Sampang. Lihat itu awannya ada di barat dan Sampang ada di timur. Jadi kita ga bakal kehujanan."  Dengan semangat ia berlari ke ayah dan bilang, "Mah kata mas yang mau hujan di sini, bukan di Sampang. Itu awannya kan di barat mau ke sini. Dan di timur langitnya cerah." kemudian ayahku tersenyum dan berkata, "Ya sudah kalo begitu, boleh ke Sampang. Tapi hati-hati." Dan adikku pun langsung berteriak, "Yeeee kita jadi berenang..." 


Aku melihat senyum ayah saat memberi kami ijin. Seketika pun aku teringat saat kecil dulu, saat kejadian yang aku sebutkan di atas. Dalam benak aku berpikir, ekspresi wajah ayah menandakan ia bangga dan bahagia. Apa yang telah diajarkannya dulu, telah aku tangkap dan aku wariskan pada adikku. Lebih dari itu, pencapaian yang aku lewati sampai saat itu juga buah dari semangat dan pelajaran yang pernah ia tanamkan dulu, dan bahkan hingga diriku yang sekarang.


Kami pun melanjutkan perjalanan ke Kota Sampang, berenang. Dan benar dugaanku, tidak ada hujan di sana, cuaca cerah. Mendengar pembuktianku, adikku hanya tersenyum bodoh sambil mengangguk, memberi ekspresi terkesan. Aku yakin, ia juga menangkap apa yang waktu kecil dulu pernah aku tangkap langsung dari ayah.


Tentang hujan, aku selalu menyukainya. Ada suara, ada wujud, ada aroma, ada rasa, dan ada suhu. Ia membangkitkan panca indera ketika sedang turun. Aku bisa mendengarnya, aku bisa melihatnya, aku bisa menciumnya, aku bisa menikmati segarnya, dan aku bisa merasakan sejuknya. Ia membuat semuanya menjadi peka.

Ia pun dapat merekam memori, yang hanya bisa dibuka ketika musimnya telah kembali. Begitu khas, hingga tiap kejadian berbeda dapat terekam dengan baik. Masih ku ingat tentang memori masa kecilku jika hujan datang, saat aku berada di rumah. Masih bisa ku rasakan memori masa SMAku jika hujan datang, saat aku berada di sekolah.


Aku suka hujan. Ia menyimpan sejuta memori, yang bisa dibuka dimana saja ketika ia ada.

Aku suka hujan. Ia membangkitkan semua indera, membuatnya merekam memori secara khusus lalu dipadu dalam satu irama hujan.

Tentang hujan, aku menyukainya.

Think Ahead

Sunday, May 18th 2014, at Bungong Jeumpa Resto

Mungkin karena lagi introvert, aku sering melewatkan waktu sendiri. Bukan karena ga ada teman. Tapi karena merasa begini lebih tenang. 

Siang tadi, sengaja ku rencanakan makan siang masakan Aceh yang kaya bumbu, Bungong Jeumpa nama Restonya. Ada empat cabang di Jogja. Tempatnya bersih dan menarik. Cocok untuk melepas penat, meskipun aku ga lagi penat.

Aku pilih menu es timun dan nasi ayam panggang kuah kari plus sambel. Entah kenapa, setiap rindu rumah, pastinya aku akan rindu masakannya, dan aku selalu pergi ke tempat makan yang menunya berasa. Salah satunya ini, karena penuh rempah.

Tak lama pesanan datang. Sambil menyantap, aku teringat keinginan waktu dulu, saat masih SMA, untuk membuat satu tempat makan. Yang aku sempurnakan ide itu di awal kuliah. Madura in Jogja Resto, mungkin itu nama restonya nanti. Karena ingin ku buat di Jogja.

Aku memang suka makan, maksudnya suka merasakan makanan yang beraneka. Kalo adikku di rumah, dia memang suka makan. Kadang sehari bisa lima kali. Makanya gendut. Haha. Dan wanita yang ada di rumahku semua punya keahlian memasak. Ibu dan dua kakak perempuanku semua masakannya enak-enak. 

Nah, dulu aku pernah punya rencana membuat satu rumah makan di sekitar pintu TOL Suramadu bagian Madura dengan menu seafood khas Madura. Tujuannya adalah untuk mempromosikan kuliner khas Madura. Pemilihan lokasi di sana adalah agar bisa meningkatkan devisa lokal, menambah obyek wisata di Madura, dan membuka kesempatan lebih lebar bagi masyarakat Madura untuk mencari perkerjaan, di semua bagian, mulai dari tukang parkir, waiter/waitress, chef, manager, bahkan mungkin nanti pemegang saham jika usaha terus berkembang, dan tentunya profit sebagai tujuan dari sebuah bisnis.

Sambil menikmati es timun, imajiiku berjalan. Kenapa tidak aku seriuskan saja rencana itu. Toh juga komponen-komponen penyusunnya sudah ada, tinggal dirangkai dan diuji coba, dan tentunya menentukan waktu yang tepat dari keadaan yang ada.

Bukankah delapan dari sepuluh pintu rezeki itu ada di perniagaan? Dan kuliner (masakan/pangan) adalah satu dari tiga kebutuhan dasar manusia? Dua pernyataan itu cukup sudah bisa menjadi pijakan dalam memulai usaha. Tambah disempurnakan dengan konsep interior yang menarik, manajemen yang bagus, lengkap sudah. Toh koneksi juga sudah ada, modal insyaAllah ada dan bisa ditambah. Tinggal jalan aja.

Dan tentang MiJ (Madura in Jogja) Resto, dulu aku sudah merancang konsepnya. Bisa dibilang matang. Tinggal diperinci ke teknisnya. Namun ternyata, ada yang sudah mengawali setahun setelah ide itu aku rancang. Dia adalah kakak kelasku semasa SMP, sekalipun selisih sepuluh tahun. Itu semua kebetulan menurutku. Meskipun pastinya adalah takdir. Dia membuat sebuah resto bernama Mr. Teto, singkatan dari Madura Sate dan Soto. Ia hadir dengan pelayanan tambahan yaitu delivery dan manajemen yang modern, lengkap dengan adanya CSR, meskipun masih tergolong kecil. Namun prospek usahanya sudah terlihat bagus. Itu karena beliau menggunakan branding dalam usahanya. Sebuah strategi baru dalam bisnis kuliner sate. Dan itu adalah yang pertama yang aku tahu. Baru di tahun kedua, beliau sudah membuat cabang.

Tapi aku tak berkecil hati. Mr. Teto memang sama dengan ide yang pernah aku dapat. Tapi konsep yang aku buat lebih dari sekedar Mr. Teto saat ini. Menunya lebih bervariasi dan konsep restonya juga lebih kompleks. Sementara ide ini memang masih aku simpan. Aku tak tahu, apakah dalam perjalanannya Mr. Teto akan semakin mirip dengan MiJ atau masih ada beda.

Yang jelas, ku pastikan itu tak akan menjadi masalah di kemudian hari. Bisa jadi, jika MiJ telah lahir, Mr. Teto dan MiJ akan merged, bisa jadi keduanya akan berdampingan serasi. Yang pasti tujuan keduanya sama. Seperti yang ku sebut di atas.

Dan tiba-tiba, ayam panggang bumbu kari plus sambel telah habis aku santap. Begitu juga dengan es timunnya. Aku bergegas ke kasir, kemudian pergi ke perpus kota.

Sekian dulu, sebuah curahan pikiran.

Revitalisasi Blog

Alhamdulillah, setelah sekian lama ingin mengganti tampilan blog, mungkin sudah lebih dari 6 bulan, akhirnya malam ini tersampaikan. Tersendat-sendat oleh pilihan template yang bermacam-macam sempat membuat bingung hingga akhirnya niat untuk mengubah tampilan blog tertunda dan semakin tertunda. Alhasil, inilah perbandingan dua tampilan blog milikku.



Tampilan Blog Lama


Tampilan Blog Baru


Perubahan blog ini memiliki arti. Seperti halnya keadaan diri, saat ini aku ingin melakukan perubahan. Perubahan apa? Perubahan dari kemewahan menjadi kesederhanaan. Ya, aku ingin meninggalkan kemewahan-kemewahan yang aku rasa berlebihan selama ini. 



Aku menginginkan kehidupan yang lebih sederhana. Kadang mewah bukan malah membawa kebahagiaan, namun justru memberi beban pikiran. Dan kesederhanaan, ketika banyak orang berpikir itu keadaan serba kekurangan, justru sebagian orang berpikir itu keadaan optimal. Keadaan dimana hal yang kita lakukan adalah yang kita butuhkan, tidak lebih. Adalah juga keadaan dimana apa yang kita butuhkan bisa kita dapatkan, tidak lebih.



Ibarat membawa ransel ketika camping, ransel yang ukurannya pas lah yang ku pilih. Pas menurut barang-barang yang akan aku bawa. Barang yang benar-benar aku butuhkan. Jadi semua yang aku bawa benar-benar bermanfaat selama perjalanan.




Seperti blog ini, hal itulah yang aku inginkan saat ini. Sebab aku rasa, selama ini seperti berlebihan aku menikmati dunia. Sehingga membuat diri ini kurang bersyukur. Mungkin dengan aku kurangi sedikit kemewahan itu, sampai pada level cukup, hidup akan terasa lebih indah, karena beban menjadi lebih ringan. 



Karena cukup adalah takaran terbaik, seperti pribadi Rasulullah.

Do’a Ali Bin Abi Thalib saat Jatuh Cinta Pada Fatimah

Yaa Allah..
Kau tahu..

Hati ini terikat suka akan indahnya seorang insan ciptaanMu.

Tapi aku takut, cinta yang belum waktunya menjadi penghalang ku mencium surgaMu.
Berikan aku kekuatan menjaga cinta ini, sampai tiba waktunya, andaikan Engkau pun mempertemukan aku dengannya kelak.

Berikan aku kekuatan melupakannya sejenak.

Bukan karena aku tak mencintainya.
Justru karena aku sangat mencintainya.
(Repost dari Catatan Pribadi Dzikry Asykarullah)

------------------- 
Inilah cinta, ia menentramkan, bukan menggelisahkan.
Iya mendekatkan diri pada Tuhan, bukan menjauhkan.
Siapapun ingin memiliki cinta seperti ini.
Akupun begitu.

Sebuah Sudut Pandang

Konsep Interdisipliner dan Interorganisasi sebagai
Karakter Negarawan Muda Indonesia
Fajrun Wahidil Muharram
Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada

Negarawan, sebuah kata yang menuntut suatu kontribusi bagi yang membacanya. Negarawan ialah mereka yang telah selesai dengan diri sendiri, sehingga dapat mencurahkan kemampuan, waktu, dan tenaganya untuk kepentingan orang banyak.
B. J. Habibie memiliki istilah sendiri dalam menyebut sosok negarawan, yaitu sebagai cendekia. Dalam bukunya, Habibie & Ainun, ia menulis bahwa ada perbedaan antara cendekia dan pakar. Cendekia merupakan seseorang yang ahli dan menguasai suatu bidang, dan ia memiliki tanggung jawab sosial untuk memanfaatkan keahliannya dalam menyelesaikan permasalahan yang ada di sekitar. Sedangkan pakar menurutnya hanya sekedar seseorang yang ahli dan menguasai suatu bidang tapi tidak memberikan kontribusi berarti bagi lingkungan sekitarnya.
Menjadi negarawan dalam konteks kenegaraan adalah bentuk pengabdian diri pada masyarakat. Tidak harus sebagai presiden, menjadi negarawan dapat dilakukan pada berbagai posisi, baik secara nasional maupun lokal, juga dalam berbagai bidang sesuai keahlian yang dimiliki.
Bagi para pemuda, termasuk mahasiswa, menjadi negarawan dalam konteks kenegaraan seperti di atas adalah hal pasti yang akan dilaluinya di masa mendatang. Namun sebelum itu, ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk melatih dan mencetak diri menjadi negarawan muda sesuai keahlian dan bidang masing-masing.

Konsep Interdisipliner
Dinar Ramadhani, dalam buku Belajar Merawat Indonesia: Presiden Negarawan, menyatakan bahwa menjadi seorang negarawan berarti berpikir mengenai kepentingan publik, mengenai negaranya secara utuh. Lebih jauh lagi, negarawan berpikir secara komprehensif mengenai hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Dia tidak lagi berpikir terkotak-kotak sesuai keahliannya saja, tetapi memandang sesuatu secara utuh dalam lingkup negara.
Dari pernyataan di atas, terdapat dua kata kunci yang menjadi karakter berpikir seorang negarawan, yaitu komprehensif dan tidak terkotak-kotak. Dalam dunia kampus, seorang negarawan muda pasti terikat dengan bidang ilmunya. Sistem perkuliahan cenderung mendorong ia untuk memahami bidangnya secara mendalam dan memberi porsi lebih sedikit atau bahkan mengesampingkan bidang lain. Tentu hal ini berkebalikan dengan pernyataan yang disebut Dinar di atas. Lalu bagaimanakah seorang negarawan muda dapat berpikir komprehensif dan tidak terkotak-kotak? Hal tersebut dapat disiati dengan membentuk jaringan interdisipliner (sebagian menyebut multidisipliner) yang mewadahi negarawan muda dari berbagai latar belakang bidang dalam suatu organisasi.
Konsep interdisipliner ini bukan berarti menghilangkan latar belakang bidang keahlian ketika berkumpul dengan orang lain, melainkan menggunakan keahlian tersebut untuk menelaah suatu problematika kemudian menawarkan solusi dari sudut pandang tersebut. Sehingga tercipta proses transfer of knowledge di antara para negarawan muda dan menghasilkan jejaring yang menyelaraskan berbagai sudut pandang tersebut menjadi satu pemikiran komprehensif dan solutif.

Konteks Organisasi
Dimanapun, khususnya di dunia kampus, organisasi dibuat untuk tujuan tertentu, sehingga memiliki visi, misi, dan ruang gerak khusus. Sebut saja BEM, LEM, atau DEMA, yang gerakannya sarat dengan advokasi dan pengawalan aspirasi yang bersifat persuasif. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) didirikan untuk menampung mahasiswa dengan kegemaran dan passion yang sama agar dapat memberi arti yang lebih bermanfaat. Terdapat pula unit penalaran ilmiah mahasiswa dengan berbagai varian istilahnya yang lebih cenderung pada kajian mengenai suatu problematika lingkungan dan sosial dengan pendekatan ilmiah, menghasilkan solusi yang bersifat deskriptif eksplanatoris. Ketiga golongan organisasi tersebut dapat dihimpun menjadi satu.
Dalam konteks organisasi, cara ini dapat pula dianggap konsep inter-organisasi, yaitu interdisipliner dalam skala kelompok, bukan lagi individu. Sementara ini, beberapa perguruan tinggi telah mencoba menerapkan cara serupa yang disebut sebagai forum komunikasi (FORKOM). Namun pergerakannya masih sekedar memperbincangkan penyelarasan jadwal pergantian kepengurusan, agenda pelantikan bersama, dan permohonan anggaran bersama pada pihak rektorat. Ini belumlah kondisi yang diharapkan ada pada konsep inter-organisasi.
Idealnya, konsep tersebut dapat digunakan untuk memberikan solusi atas problematika sekitar dengan sistem kerja sama. Unit penalaran ilmiah mengkaji suatu permasalahan secara ilmiah berdasarkan ilmu pengetahuan yang bidang-bidangnya ditekuni oleh anggota di dalamnya sehingga menghasilkan alternatif-alternatif solusi yang mungkin untuk dijalani. BEM, LEM, atau DEMA menjaring aspirasi masyarakat dan mengawal isu tersebut agar tidak mudah dipelintir oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Dan UKM dengan keberagaman unsur di dalamnya menawarkan cara-cara kreatif dalam menerapkan solusi yang dipilih.

Tataran Aksi
Seorang negarawan muda tidak hanya menguasai konsep secara matang, namun juga harus piawai dalam aksi. Dengan karakter yang dimiliki, ia mampu memberi inspirasi. Mampu mengajak anggotanya dan masyarakat untuk turun tangan memberi solusi, sehingga mereka tidak hanya duduk manis sambil memuji atau mengkritik.
Pemimpin ideal adalah ia yang tidak jauh di depan meninggalkan anggotanya, tidak pula jauh di belakang ditinggal anggotanya, melainkan berada di tengah-tengah anggotanya. Karakter itulah yang diharapkan ada dalam diri setiap negarawan muda. Dengan keahlian dan keterampilan yang dimiliki, ia tidak menampilkan sosok dirinya sebagai single actor di depan yang berbeda secara mencolok, tidak pula ditinggalkan anggotanya karena pemikirannya yang terlalu subjektif, tetapi menciptakan sistem kerja sehat, efektif, dan efisien yang menarik simpati para anggotanya untuk ikut bergerak. Sehingga sistem tersebut akan terus bergerak (sustainable) sekalipun telah ditinggalkannya.
Seorang negarawan muda seyogianya memiliki konsep pemikiran dan gaya aksi seperti ini. Kutipan kata bijak dari Abdullah Gymnastiar, “Mulailah dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, dan mulai dari sekarang.”, dapat menjadi langkah awal dalam memperbaiki dan merawat Indonesia menjadi lebih baik. []

Multitarget

Bismillah. Ini adalah tulisan dari seorang intelektual bernama Fahmi Amhar. Saya mengutipnya langsung dan sepenuhnya dari tulisan beliau di profil facebooknya. Semoga tulisan itu tak hilang dan bisa dibuka setiap waktu, maka saya simpan juga di blog ini.

BELAJAR MERAIH MULTI TARGET
Kadang ada pertanyaan yang diluncurkan kepada beberapa aktivis dakwah yang menurut mayoritas orang “sukses” dalam meraih multi-target. Maksud multi-target itu: dakwahnya sukses, sekolahnya sukses, keluarga sukses, dan karier atau bisnisnya juga sukses. Karena manusia itu memang mahluk multi-target. Memang ada nasehat, bahwa agar menjadi manusia yang istimewa, itu harus fokus, karena otak tidak bisa berpikir dua hal pada saat yang bersamaan. Itu benar. Tetapi, kita semua diberi waktu 24 jam sehari kan ? Dan toh tidak harus 24 jam itu hanya memikirkan satu hal saja, selamanya. Yang namanya ibadah saja, sholat misalnya, hanya diminta paling 5 x @ 10 menit. Di luar sholat ya mikir yang lain. Bahkan, di Qur’an Surat Al-Jumu’ah, itu malah diperintahkan agar habis sholat Jum’at, itu supaya “bertebaran mencari rizki Allah” – bukan malah duduk-duduk atau ngobrol di masjid.

Tapi sebelum lebih jauh, kata “sukses” sendiri mesti jelas ukurannya. Kalau ukuran dasar, bahwa itu sesuai dengan perintah Allah, ooo tentu saja. Tetapi kita biasa menilai kesuksesan dari output dibanding input. Dakwah disebut sukses kalau bisa merubah pikiran – dan lalu perilaku – orang yang mendengarkan, sehingga makin islami. Dan makin banyak orang yang bisa berubah, berarti makin sukses. Sekolah disebut sukses, kalau berhasil meraih level tertinggi dengan nilai baik, dan setelahnya mampu mengamalkan ilmunya itu, atau dijadikan rujukan dalam bidang keahliannya itu. Keluarga disebut sukses, kalau berhasil membangun rumah tangga yang harmonis, jauh dari konflik, sinergi dalam aktivitas, juga menghasilkan anak-anak yang shaleh/shalihah, sehat, cerdas dan juga sejak dini terikat dengan berbagai aktivitas positif. Sedang karier atau bisnis disebut sukses, kalau makin berkembang, makin memberi manfaat banyak orang, makin banyak menghasilkan zakat-infaq-shadaqah, dan bisa menjadi washilah membuka jejaring yang makin mendukung tercapainya visi.

Persoalannya, banyak aktivis dakwah yang ternyata kelabakan di jalan. Mereka yang merasa aktif dalam dakwah, ternyata ada yang sekolahnya jadi berantakan. Atau sekolah dan dakwah semula jalan, tetapi begitu masuk dunia kerja, langsung suaranya berangsung-angsur senyap … bahkan lama-lama hilang. Ada juga yang senyapnya ini setelah berkeluarga. Sebaliknya ada terus rajin sibuk dalam dakwah dan bisnis, tetapi keluarga kurang mendapatkan haknya, yang bahkan berujung pada sesuatu yang halal tetapi sangat dibenci Allah, sesuatu yang menggetarkan Arasy, yakni perceraian !!!

Karena setiap dari kita mendapatkan “anggaran” yang sama dari Allah, yaitu sehari 24 jam, maka tentu kita perlu belajar “best-practice” dari mereka yang terlebih dulu dapat kita identifikasi sebagai sukses meraih multi-target tersebut. Mungkin memang kelebihan tiap orang tidak sama, tetapi jelas mereka yang saya jadikan teladan, itu dapat disebut sukses, jauh di atas aktivis dakwah kebanyakan.

Ada yang saya lihat, pada saat itu usia beliau belum 40 tahun – pada saat dakwahnya sangat kencang – beliau sudah menjadi icon dakwah nasional, ternyata juga masih sempat menyelesaikan S2-nya, juga mendirikan sebuah sekolah dan perguruan tinggi Islam, juga menulis banyak sekali buku, juga sukses membangun lembaga konsultan bisnis & manajemen yang sudah bisa jalan sendiri, rumah tangganya juga tampak harmonis, masih sempat mengajak anak-anaknya liburan dsb.

Ada lagi – yang juga di usia muda – ini bahkan kelasnya sudah internasional. Eloknya, saat itu, meski sudah terkenal, tapi masih sempat meneruskan S3-nya di Luar Negeri, sambil terus memelihara berbagai cabang bisnisnya, dan terus mengembangkan sekolah yang dibangunnya, menulis beberapa textbook standar dan suatu ensiklopedi, menginspirasi banyak orang – seraya keluarganya sangat harmonis, padahal anaknya sedikitnya 7 orang.

Setelah saya pelajari, pribadi-pribadi ini ternyata memiliki ciri-ciri yang mirip:
1. Mereka relatif dini mengenali tujuan hidupnya. Ada yang sejak SD memang sudah “dekat dengan masjid”. Tetapi ada juga yang baru setelah SMA atau mahasiswa. Bahkan ada yang baru muallaf setelah sarjana. Tetapi sebelumnya, mereka sudah tergolong orang-orang yang “hanif” (=cinta kebenaran). Benar kata Nabi, “barangsiapa hebat di masa Jahiliyah, dia juga akan hebat dengan Islam”. Artinya, Nabi tidak menafikan bahwa di antara orang-orang yang belum berjuang dengan Islam-pun, bahkan belum muslim, ada yang memiliki kehebatan universal – seperti sikap cinta kebenaran (jujur), cenderung pada keadilan, rajin mencari ilmu, menjaga komitmen dalam bekerja, dan sebagainya. Nah, orang-orang seperti ini, di lingkungan manapun selalu akan dihargai, dan selalu tampak hebat.

2. Mereka relatif dini mempelajari segala ilmu yang mendukung meraih visinya. Ada yang sejak dini gemar membaca. Ada yang sejak SMA sudah rajin belajar menulis buku. Ada yang sejak mahasiswa sudah merintis bisnis. Benar kata pepatah: belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, belajar di waktu dewasa bagai mengukir di atas air. Mereka juga sejak awal suka belajar sesuatu yang dapat meningkatkan kinerja hidupnya, sehingga dalam waktu yang sama, mereka dapat menyelesaikan lebih banyak pekerjaan daripada orang lain. Mereka belajar Cara Bekerja Efisien, Cara Memotivasi Orang Lain, Cara Mengotomatisasi Pekerjaan, dan sebagainya. Mereka juga akrab dengan biografi berbagai tokoh dunia. Karena itu mereka makin terinspirasi dan makin dapat membuat sebuah “road map” atau peta perjalanan hidupnya, dia mau meraih apa saja pada usia berapa, bersama siapa, dan dimana.

3. Dengan ilmu itu mereka dapat merinci visinya dalam tahapan-tahapan kecil yang lebih terukur, kemudian mereka istiqomah memenuhi tahapan-tahapan kecil itu. Ketidakmampuan merinci visi dalam tahapan kecil membuat seakan-akan semua target visi sebuah pekerjaan raksasa. Bagaimana bisa meraih gelar Doktor dalam usia kurang dari 30 tahun? Ya memang seperti tidak terjangkau dalam segala aspek: biaya – persiapan bahasa – topik dll. Tetapi kalau dirinci, kapan kita persiapan bahasa, kapan kita akan test TOEFL, kapan cadangan waktu mengulang kalau tidak sekali lulus, kapan kita akan mulai mengontak calon profesor dan mencari bahan untuk membuat proposal, dan sebagainya, maka semuanya pasti terasa terjangkau. Tapi sekali lagi, kemampuan merinci visi ini memerlukan ilmu yang lebih baik mulai dipelajari sedini mungkin.

4. Mereka percaya bahwa meramal masa depan itu mustahil, tetapi ikut merekayasa masa depan sangat mungkin. Karena itu cara terbaik mengetahui akan seperti apa masa depan kita, adalah aktif terlibat dalam upaya membentuk masa depan yang sesuai visi kita. Dari sini kita melihat bahwa aktivitas dakwah, sekolah, keluarga maupun karier/bisnis harus bermuara di titik yang sama – yaitu masa depan kita yang lebih baik, lebih bermartabat, lebih diridhoi Allah. Kalau untuk membangun sebuah gedung saja kita harus menguasai beberapa jenis ilmu, seperti ilmu bangunan yang didasari matematika atau fisika, juga ilmu manajemen proyek, maka berapa banyak ilmu yang harus kita kuasai untuk membangun sebuah negara ? Ini justru harusnya makin mendorong kita untuk lebih tekun dan lebih serius dalam belajar dan bekerja.

5. Mereka serius memikirkan prioritas amal (fiqih awlawiyat). Ketika amal dirinci pada bagian-bagian kecil, maka akan terlihat lebih jelas, mana amal wajib yang harus didahulukan, dan mana – amalan wajib pula – yang lebih longgar waktunya. Tidak berarti kalau dakwah menjadi aktivitas utama (poros hidup) lantas kewajiban pada keluarga harus selalu diterakhirkan ! Kita jangan berhenti pada yang makro atau besar-besar saja, tetapi memang harus rinci. Mengkaji kitab dalam halaqah adalah kewajiban, menjaga orang tua yang sakit juga kewajiban, ini tidak harus dibenturkan. Masih bisa disiasati, misalnya menjaga orang tua bergantian dengan saudara, atau kalau kondisinya memungkinkan: halaqahnya dilakukan di tempat di mana orang tua dirawat.

6. Sedapat mungkin satu aktivitas bisa disinergikan dengan aktivitas yang lain. Kalau kita ada tugas keluar kota, apa salahnya untuk sekaligus melakukan kontak pada orang yang seperjalanan di dalam bus atau pesawat. Atau jauh sebelum berangkat, kita memberitahu aktivis dakwah di tempat tujuan, bahwa keberadaan kita di sana siap dimanfaatkan untuk dakwah. Demikian juga, kalau kita ada agenda yang tidak jauh dari suatu tempat wisata, sementara anak-anak sedang liburan, bagaimana kita ke tempat yang diagendakan itu sambil membawa anak-anak dan didrop di tempat wisata itu bersama orang yang kita percaya, dan kita akan menyusulnya bila agenda kita selesai. Hal-hal semacam ini memang memerlukan “jam terbang”, sehingga lama-lama jadi habbit.

7. Segala 'infrastruktur' harus diupayakan mendukung target-target itu. Ini mulai dari memilih jenis dan lokasi pekerjaan, memilih lokasi tempat tinggal, memilih teknologi yang akan dipakai di rumah dan tempat aktivitas, bahkan memilih orang yang akan dijadikan pasangan hidupnya. Saya melihat ada aktivis dakwah yang ternyata setiap hari hilang waktu 2 x 2 jam untuk perjalanan pergi pulang ke tempat kerjanya. Dan selama itu dia praktis tidak dapat melakukan hal lain karena harus konsentrasi penuh mengendarai motor. Andaikata dia naik bus, barangkali bisa sambil membaca, menghafal Qur’an dengan mp3, atau sekalian kontak dakwah ke sesama penumpang. Atau barangkali jika dia bisa pindah rumah mendekati tempat kerjanya, mungkin yang 4 jam itu bisa produktif untuk yang lain.

8. Terus mengevaluasi diri dan mengoptimasi diri, sehingga beberapa kesalahan tidak terulang lagi, sedang beberapa pekerjaan yang berulang dan sudah diketahui sistem atau prosedurnya dengan jelas, dapat diotomatisasi atau didelegasikan pada orang yang telah kita kader. Dengan ini makin banyak lagi hal yang dapat kita raih, dan pada saat yang sama, makin banyak orang yang dapat merasakan manfaat kehadiran kita dalam hidupnya.

9. Tidak ada hentinya menyandarkan hasil kepada Allah. Karena meski kita telah mempersiapkan diri sedemikian rupa, Allah-lah yang memberi kesehatan dan kesempatan pada kita. Kalau Allah kehendaki, dapat saja Dia membuat kita sakit atau terkena musibah, sehingga segala rencana kita berantakan semua.

Selamat sukses menjadi mahluk multitarget.

Semangat memperbaiki diri. Semangat menjadi pribadi menginspirasi.

Catatan Singkat

KKN sebagai Wujud Nyata
Peran dan Tanggung Jawab Sosial Mahasiswa
Fajrun Wahidil Muharram
Fakultas Georafi Universitas Gadjah Mada

 Mahasiswa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan orang yang belajar di perguruan tinggi. Pengertian mahasiwa tidak hanya tergolong pada jenjang diploma dan S1, namun juga S2 dan S3. Dengan kata lain, mahasiswa merupakan kaum akademis dengan strata tertinggi yang berbeda dengan golongan di bawahnya yaitu siswa SD, SMP, dan SMA.

Pada dasarnya, hak yang dimiliki oleh mahasiswa adalah belajar. Namun lebih dari itu, adanya Tri Dharma sebagai ruh dari setiap perguruan tinggi yang berupa pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat menjadi hak sekaligus kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap mahasiswa. Hal tersebut menjadikan iklim di perguruan tinggi terasa berbeda. Dunia kemahasiswaan bersifat lebih kompleks dari dunia sekolah dengan jam belajar yang terkesan tidak menentu, kegiatan meneliti yang seakan berkepanjangan dan menyita waktu, serta kegiatan ekstrakulikuler kampus yang membabi buta.


Dengan kondisi demikian, bukan berarti mahasiwa harus mengabaikan dan tidak peka terhadap perubahan yang terjadi di masyarakat. Adanya permasalahan lingkungan baik alam maupun sosial justru menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menunjukkan apa yang selama ini telah dipelajari.

Mahasiswa yang didominasi oleh para pemuda merupakan agent of change (penggerak perubahan). Pemuda identik dengan semangat yang kuat dan tidak mudah menyerah dalam berbagai situasi. Pemuda merupakan pemberi aksi nyata dari setiap ide yang tertuang. Itulah yang membedakan pemuda dengan orang tua. Ada pepatah mengatakan, “Belajarlah keberanian dari pemuda, dan belajarlah kebijaksanaan dari orang tua.” Sehingga apabila dikaitkan dengan statusnya sebagai mahasiswa, pemuda merupakan sosok yang dapat mengantarkan ilmu dan pengetahuan menjadi suatu aksi yang dapat diaplikasikan di masyarakat, tidak sebatas teori yang tersimpan dalam buku.

Pengabdian kepada masyarakat merupakan peran dan tanggung jawab sosial yang dimiliki mahasiswa. Mau atau tidak, mereka tetap harus melakukannya. Bentuk nyata dari pengabdian kepada masyarakat dalam perguruan tinggi bermacam-macam bentuknya maupun pelaksananya. Di tataran rektorat dan kelembangaan kampus, pengabdian masyarakat dapat berupa penyuluhan kepada masyarakat maupun daerah atau pendampingan program-program sosial masyarakat secara kelembagaan. Di kalangan organisasi mahasiswa, pengabdian kepada masyarakat dilakukan dalam bentuk desa binaan dan secamamnya, dimana mahasiswa terlibat dan berinteraksi langsung dengan masyarakat, dengan acara yang dilakukan secara terjadwal.

Bentuk lain dari pengabdian kepada masyarakat adalah Kuliah Kerja Nyata (KKN). Secara konseptual dan pragmatis, KKN memiliki muatan atau nilai yang lebih tinggi daripada bentuk pengabdian lainnya. Di dalam KKN, tercakup tiga unsur Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan yang dilakukan selama kuliah menjadi bekal bagi mahasiswa dalam mengaplikasikan ilmunya di masyarakat, penelitian menjadi instrumen bagi mahasiswa untuk memberikan solusi atas permasalahan yang kerap terjadi di masyarakat, serta pengabdian merupakan bentuk dari pelaksanaan kegiatan tersebut. Ketiga unsur Tri Dharma tersebut menjadi serasi dan memiliki prosi seimbang satu dengan yang lain. Secara kelembagaan, kampus (perguruan tinggi) menjadi payung dari pelaksanaan kegiatan tersebut sedangkan mahasiswa menjadi pelaksana. Kampus memberikan fasilitas baik formal maupun material (pendanaan) sedangkan mahasiswa memberikan curahan tenaga dan pikiran.

Menurut sejarahnya, KKN dimulai pada masa Agresi Militer Belanda dimana sekolah-sekolah mulai kehilangan guru. Sehingga, kebijakan perguruan tinggi dalam hal ini UGM sebagai pelopor KKN mewajibkan mahasiswanya untuk mengabdi dengan turun langsung mengajar sekolah-sekolah tanpa guru tersebut. Seiring waktu, kegiatan KKN dirasa bermanfaat sekalipun Agresi Militer Belanda telah usai. Oleh karena itu, KKN terus dilaksanakan dan program di dalamnya menjadi lebih kompleks tidak hanya sekedar mengajar, melainkan membantu masyarakat mengatasi permasalahan yang selama ini terjadi dan dapat dipecahkan dengan ilmu yang didapat mahasiswa selama kuliah. Kemudian, KKN menjadi program yang menjamur di perguruan tinggi-perguruan tinggi di Indonesia.

Pengalaman pribadi penulis tentang KKN juga cukup berkesan. Pada Juli-Agustus 2013 lalu, penulis melakukan kegiatan KKN di wilayah timur Indonesia, yaitu Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Pemilihan lokasi tersebut didasari oleh salah satu tujuan KKN yaitu pemberdayakan masyarakat. Raja Ampat sebagai kabupaten baru hasil pemekaran dengan potensi alam yang tinggi dirasa perlu dilakukan pemberdayaan agar masyarakatnya siap bersaing dengan daerah lain di Indonesia. Lokasi KKN tersebut tepatnya berada di Pulau Jefman, satu dari sekian banyak pulau di Raja Ampat yang paling dekat dari kota Sorong, dengan waktu tempuh perjalanan sekitar satu jam menggunakan perahu (long boat).

Pulau Jefman memiliki bandara aktif yang menghubungkan Kota Sorong dengan daerah lain di Indonesia sebelum terjadi pemekaran Kabupaten Raja Ampat. Pada saat itu, menurut cerita tokoh setempat, masyarakat sekitar hidup berkecukupan. Karena hasil laut mereka dapat dijual langsung di dermaga sekitar bandara maupun dikirim ke Kota Sorong. Namun setelah Kabupaten Raja Ampat terbentuk, Kota Sorong membuat bandara baru di wilayahnya sedangkan Kabupaten Raja Ampat juga membuat bandara baru di lokasi yang lebih dekat dengan ibukota. Sehingga, bandara lama dinonaktifkan dan Pulau Jefman perlahan mulai ditinggalkan. Kondisi ini merupakan fenomena unik yang memiliki potensi masalah dan jika dibiarkan akan menjadi semakin besar.

Sejak pemindahan bandara tersebut, beberapa masyarakat di Pulau Jefman terpaksa harus menjari mata pencaharian baru. Beberapa dari mereka berusaha tetap pada pekerjaan lama dengan konsekuensi tersendiri. Seperti contoh, salah seorang pegawai bandara memilih melanjutkan profesi sebelumnya sehingga setiap hari harus menyeberang untuk bekerja di siang hari dan kembali di malam hari. Sehingga biaya yang harus dikeluarkan semakin besar, terlebih jika cuaca tidak memungkinkan. Masyarakat lain yang awalnya memiliki profesi jasa penyeberangan terpaksa harus menjadi nelayan, padahal keahilan menangkap ikan tidak sepenuhnya mereka kuasai.

Dari kenyataan tersebut, penulis beserta rekan satu timnya mencoba mengindentifikasi segala permasalahan yang ada di pulau tersebut dan juga potensi-potensi yang dapat dimanfaatkan. Kemudian dengan pemahaman ilmu yang didapat selama kuliah dan pertimbangan dari masyarakat sekitar, dibuat beberapa solusi dan dijadikan sebagai program KKN. Program-program tersebut antara lain penyuluhan tentang pelestarian ikan, perikanan tangkap, dan perikanan budidaya, pemanfaatan buah mangrove sebagai makanan, pertanian palawija, pembenahan sistem tata pemerintahan desa, pengeloaan sampah, kerajinan kreatif, dan lain sebagainya. Program seperti penyuluhan tentang pelestarian ikan dilaksanakan dengan mengundang Kepala Dinas Perikanan setempat dan salah satu tokoh lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang konservasi yaitu CI (Conservation International) sebagai pembicara. Hal tersebut dapat dilakukan karena mahasiswa memiliki keterampilan yang sebelumnya sudah dipelajari di kampus.

Penulis merasakan kegiatan KKN yang dilaksanakan selama dua bulan tersebut membawa banyak manfaat baik bagi penulis sendiri maupun bagi masyarakat di Pulau Jefman secara umum. Hal tersebut dibuktikan dengan diterimanya laporan pertanggungjawabaan tim KKN di depan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) setempat yang sempat dihadiri langsung oleh wakil bupati dan dosen pembimbing KKN. Lebih dari itu, pihak pemerintah setempat berharap kegiatan serupa dapat kembali dilakukan dan lebih ditingkatkan lagi untuk tahun-tahun berikutnya. Terbukti, menurut informasi yang penulis terima, jumlah unit KKN pada kesempatan mendatang di Kabupaten Raja Ampat meningkat dari 3 unit pada 2013 menjadi 7 unit pada 2014, mengingat masih banyak bagian dari kabupaten tersebut yang perlu dilakukan kegiatan serupa.

Jika diperhatikan lebih jauh, kegiatan KKN memberi dampak berganda dan berlipat. Bagi mahasiswa, KKN memberikan kesempatan untuk mengetahui dunia luar secara langsung dan menjadi pemicu sebelum mereka benar-benar terjun ke masyarakat. Bagi kampus (perguruan tinggi), KKN merupakan suatu langkah atau program nyata dari visi pengabdian kepada masyarakat yang terkandung dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dan bagi masyarakat, termasuk pemerintah daerah, KKN memberikan kesempatan berharga untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas kerja yang ilmunya didapat secara langsung dari perguruan tinggi dengan harapan kualitas hidup dapat meningkat.

See You on Top!

Rabu, 25 Desember 2013, tepat di hari Natal, aku pulang ke madura. Ini bukan pulang yang biasa, karena kakakku akan melangsungkan pernikahannya di tanggal 27-nya. Namun bukan itu yang ingin aku ceritakan.


Sejak dari Jogja sampai akan kembali ke Jogja. Aku seperti mengalami kilas balik ke diriku di masa lalu, tepatnya ketika masih SMA. Semua seakan terulang dan terbayang di kepala, juga terasa di dada. 



Dan semua itu menjadikanku mengingat kalian, Genetika. Keluarga keduaku, yang sempat menenami dalam satu ruang dan waktu tiga tahun lamanya. Aku juga tak paham mengapa perasaan itu membawaku pada masa lalu. Tapi aku rindu kalian, aku rindu akan diriku yang tidak tahu apa-apa kemudian menjadi pribadi yang lebih dewasa dengan mengenal kalian. Kalian berwarna-warni. Dan warna-warni itulah yang membuatku mudah mengurai pelangi. 


Sudah tiga setengah tahun kita memilih jalan masing-masing. Lebih lama dari kita bersama dulu. Di sini aku memiliki teman dekat. Namun itu belum dapat dibandingkan dengan kedekatan yang pernah kita buat. Mereka, teman dekatku di sini, hanya beberapa. Sedangkan kita, bertiga puluh dua. Lingkaran kita lebih besar, sehingga energi kita juga lebih besar. 


Tak berpengaruh sekarang jarak memisahkan. Lingkaran itu tidak hilang, namun melebar. Aku yakin, di sana, di tempat masing-masing, kita tengah menebar kebaikan pada sekeliling kita, pada lingkungan, juga pada orang-orang di dekat kita.



Sebenarnya aku ingin cerita banyak pada kalian, dalam satu tempat yang sama. Kita kumpul untuk kembali saling mengisi semangat. Karena aku sudah dua kali bolos pertemuan tahunan kita, yang selalu dilakukan setiap ramadhan. Pertama dulu aku sedang jalan-jalan ke negeri orang. Kedua kemarin aku sedang KKN di Indonesia timur. Sering memang liburku atau lebih tepatnya waktu untuk aku pulang tidak sama dengan kebanyakan kalian. Jadi aku tak bisa mengunjungi kalian semua. Hanya tiga orang yang kemarin sempat ku kunjungi.


Foto Bersama (Genetika) dengan Mempelai Asrul dan Reta


Sekarang, satu dari kita sudah menggenapkan separuh agamanya. Dialah Asrul. Dia yang memukul gong pertama. Aku yakin, semua dari kita punya tujuan sama. Punya keluarga impian masing-masing. Nanti kau akan kami ikuti, Srul. Jangan kuatir. Beberapa dari kita juga sudah bisa mandiri secara keuangan dari orang tuanya. Ada yang sudah bekerja tetap. Ada juga dengan penghasilan wirausahanya.



Aku bangga pada kalian. Kalian manusia super. Aku tidak menyesal pernah bersama. Mungkin dulu jika ibu Dimas tidak tegas bertanya padaku apakah ingin ikut tes PSUB atau tidak dan juga mas Acul tidak mendesakku untuk ikut tes itu, cerita akan berbeda. Mungkin sekarang aku tidak akan di Jogja, atau di UGM sini. 



Sekolah kita semacam jadi batu loncatan bagiku, dari suatu sekolah di desa terpencil sampai ke salah satu kampus paling top negeri ini. Dan kalian adalah pendorong loncatanku. Apalah arti batu loncatan jika tidak bisa meloncat, atau meloncat tapi tak sampai. Tapi, Alhamdulillah, Allahu Akbar, aku mendapatkan keduanya.



Aku ingin, suatu saat nanti, kita dapat berkumpul kembali, dengan keluarga impian masing-masing, dengan impian yang sudah teraih masing-masing. Kita melingkar lagi dengan energi yang lebih dahsyat. Tujuanku cuma satu, apa yang kita pernah nikmati dapat dinikmati pula oleh orang-orang setelah kita. 



Mungkin kedengarannya terlihat aneh, kalau sekarang aku ucap "Songsong Senom II". Kalian tahu apa Songsong Senom? Itu yayasan yang dulu menjadi donatur berdirinya kelas unggulan di sekolah kita, dan kemudian sempat mati. Aku ingin itu kembali berdiri dengan kita yang mengawali. Pernah aku ucap itu di kumpul pertama kita pasca lulus SMA dulu. Mungkin ada dari kalian yang ingat namun tak menghiraukannya, mungkin juga kalian tak ingat sama sekali. Tapi dari dulu aku yakin, itu pasti bisa diwujudkan dan menjadi kenyataan. Keyakinan itu ada karena kalian ada, itu saja, sederhana.



Sering aku berkata pada kalian, "See you on Top!". Itu sebagai pengigat dan pemicu semangat agar kita dapat terus keep on track in our struggle. Juga sebagai jargon baru di tengah lingkaran yang terus melebar ini. Sampai lingkaran itu nanti kembali mengecil karena kita perlahan telah mendekati dan mencapai puncak itu.



"So, See You on Top!"