Showing posts with label The Islam Way. Show all posts
Showing posts with label The Islam Way. Show all posts

Multitarget

Bismillah. Ini adalah tulisan dari seorang intelektual bernama Fahmi Amhar. Saya mengutipnya langsung dan sepenuhnya dari tulisan beliau di profil facebooknya. Semoga tulisan itu tak hilang dan bisa dibuka setiap waktu, maka saya simpan juga di blog ini.

BELAJAR MERAIH MULTI TARGET
Kadang ada pertanyaan yang diluncurkan kepada beberapa aktivis dakwah yang menurut mayoritas orang “sukses” dalam meraih multi-target. Maksud multi-target itu: dakwahnya sukses, sekolahnya sukses, keluarga sukses, dan karier atau bisnisnya juga sukses. Karena manusia itu memang mahluk multi-target. Memang ada nasehat, bahwa agar menjadi manusia yang istimewa, itu harus fokus, karena otak tidak bisa berpikir dua hal pada saat yang bersamaan. Itu benar. Tetapi, kita semua diberi waktu 24 jam sehari kan ? Dan toh tidak harus 24 jam itu hanya memikirkan satu hal saja, selamanya. Yang namanya ibadah saja, sholat misalnya, hanya diminta paling 5 x @ 10 menit. Di luar sholat ya mikir yang lain. Bahkan, di Qur’an Surat Al-Jumu’ah, itu malah diperintahkan agar habis sholat Jum’at, itu supaya “bertebaran mencari rizki Allah” – bukan malah duduk-duduk atau ngobrol di masjid.

Tapi sebelum lebih jauh, kata “sukses” sendiri mesti jelas ukurannya. Kalau ukuran dasar, bahwa itu sesuai dengan perintah Allah, ooo tentu saja. Tetapi kita biasa menilai kesuksesan dari output dibanding input. Dakwah disebut sukses kalau bisa merubah pikiran – dan lalu perilaku – orang yang mendengarkan, sehingga makin islami. Dan makin banyak orang yang bisa berubah, berarti makin sukses. Sekolah disebut sukses, kalau berhasil meraih level tertinggi dengan nilai baik, dan setelahnya mampu mengamalkan ilmunya itu, atau dijadikan rujukan dalam bidang keahliannya itu. Keluarga disebut sukses, kalau berhasil membangun rumah tangga yang harmonis, jauh dari konflik, sinergi dalam aktivitas, juga menghasilkan anak-anak yang shaleh/shalihah, sehat, cerdas dan juga sejak dini terikat dengan berbagai aktivitas positif. Sedang karier atau bisnis disebut sukses, kalau makin berkembang, makin memberi manfaat banyak orang, makin banyak menghasilkan zakat-infaq-shadaqah, dan bisa menjadi washilah membuka jejaring yang makin mendukung tercapainya visi.

Persoalannya, banyak aktivis dakwah yang ternyata kelabakan di jalan. Mereka yang merasa aktif dalam dakwah, ternyata ada yang sekolahnya jadi berantakan. Atau sekolah dan dakwah semula jalan, tetapi begitu masuk dunia kerja, langsung suaranya berangsung-angsur senyap … bahkan lama-lama hilang. Ada juga yang senyapnya ini setelah berkeluarga. Sebaliknya ada terus rajin sibuk dalam dakwah dan bisnis, tetapi keluarga kurang mendapatkan haknya, yang bahkan berujung pada sesuatu yang halal tetapi sangat dibenci Allah, sesuatu yang menggetarkan Arasy, yakni perceraian !!!

Karena setiap dari kita mendapatkan “anggaran” yang sama dari Allah, yaitu sehari 24 jam, maka tentu kita perlu belajar “best-practice” dari mereka yang terlebih dulu dapat kita identifikasi sebagai sukses meraih multi-target tersebut. Mungkin memang kelebihan tiap orang tidak sama, tetapi jelas mereka yang saya jadikan teladan, itu dapat disebut sukses, jauh di atas aktivis dakwah kebanyakan.

Ada yang saya lihat, pada saat itu usia beliau belum 40 tahun – pada saat dakwahnya sangat kencang – beliau sudah menjadi icon dakwah nasional, ternyata juga masih sempat menyelesaikan S2-nya, juga mendirikan sebuah sekolah dan perguruan tinggi Islam, juga menulis banyak sekali buku, juga sukses membangun lembaga konsultan bisnis & manajemen yang sudah bisa jalan sendiri, rumah tangganya juga tampak harmonis, masih sempat mengajak anak-anaknya liburan dsb.

Ada lagi – yang juga di usia muda – ini bahkan kelasnya sudah internasional. Eloknya, saat itu, meski sudah terkenal, tapi masih sempat meneruskan S3-nya di Luar Negeri, sambil terus memelihara berbagai cabang bisnisnya, dan terus mengembangkan sekolah yang dibangunnya, menulis beberapa textbook standar dan suatu ensiklopedi, menginspirasi banyak orang – seraya keluarganya sangat harmonis, padahal anaknya sedikitnya 7 orang.

Setelah saya pelajari, pribadi-pribadi ini ternyata memiliki ciri-ciri yang mirip:
1. Mereka relatif dini mengenali tujuan hidupnya. Ada yang sejak SD memang sudah “dekat dengan masjid”. Tetapi ada juga yang baru setelah SMA atau mahasiswa. Bahkan ada yang baru muallaf setelah sarjana. Tetapi sebelumnya, mereka sudah tergolong orang-orang yang “hanif” (=cinta kebenaran). Benar kata Nabi, “barangsiapa hebat di masa Jahiliyah, dia juga akan hebat dengan Islam”. Artinya, Nabi tidak menafikan bahwa di antara orang-orang yang belum berjuang dengan Islam-pun, bahkan belum muslim, ada yang memiliki kehebatan universal – seperti sikap cinta kebenaran (jujur), cenderung pada keadilan, rajin mencari ilmu, menjaga komitmen dalam bekerja, dan sebagainya. Nah, orang-orang seperti ini, di lingkungan manapun selalu akan dihargai, dan selalu tampak hebat.

2. Mereka relatif dini mempelajari segala ilmu yang mendukung meraih visinya. Ada yang sejak dini gemar membaca. Ada yang sejak SMA sudah rajin belajar menulis buku. Ada yang sejak mahasiswa sudah merintis bisnis. Benar kata pepatah: belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, belajar di waktu dewasa bagai mengukir di atas air. Mereka juga sejak awal suka belajar sesuatu yang dapat meningkatkan kinerja hidupnya, sehingga dalam waktu yang sama, mereka dapat menyelesaikan lebih banyak pekerjaan daripada orang lain. Mereka belajar Cara Bekerja Efisien, Cara Memotivasi Orang Lain, Cara Mengotomatisasi Pekerjaan, dan sebagainya. Mereka juga akrab dengan biografi berbagai tokoh dunia. Karena itu mereka makin terinspirasi dan makin dapat membuat sebuah “road map” atau peta perjalanan hidupnya, dia mau meraih apa saja pada usia berapa, bersama siapa, dan dimana.

3. Dengan ilmu itu mereka dapat merinci visinya dalam tahapan-tahapan kecil yang lebih terukur, kemudian mereka istiqomah memenuhi tahapan-tahapan kecil itu. Ketidakmampuan merinci visi dalam tahapan kecil membuat seakan-akan semua target visi sebuah pekerjaan raksasa. Bagaimana bisa meraih gelar Doktor dalam usia kurang dari 30 tahun? Ya memang seperti tidak terjangkau dalam segala aspek: biaya – persiapan bahasa – topik dll. Tetapi kalau dirinci, kapan kita persiapan bahasa, kapan kita akan test TOEFL, kapan cadangan waktu mengulang kalau tidak sekali lulus, kapan kita akan mulai mengontak calon profesor dan mencari bahan untuk membuat proposal, dan sebagainya, maka semuanya pasti terasa terjangkau. Tapi sekali lagi, kemampuan merinci visi ini memerlukan ilmu yang lebih baik mulai dipelajari sedini mungkin.

4. Mereka percaya bahwa meramal masa depan itu mustahil, tetapi ikut merekayasa masa depan sangat mungkin. Karena itu cara terbaik mengetahui akan seperti apa masa depan kita, adalah aktif terlibat dalam upaya membentuk masa depan yang sesuai visi kita. Dari sini kita melihat bahwa aktivitas dakwah, sekolah, keluarga maupun karier/bisnis harus bermuara di titik yang sama – yaitu masa depan kita yang lebih baik, lebih bermartabat, lebih diridhoi Allah. Kalau untuk membangun sebuah gedung saja kita harus menguasai beberapa jenis ilmu, seperti ilmu bangunan yang didasari matematika atau fisika, juga ilmu manajemen proyek, maka berapa banyak ilmu yang harus kita kuasai untuk membangun sebuah negara ? Ini justru harusnya makin mendorong kita untuk lebih tekun dan lebih serius dalam belajar dan bekerja.

5. Mereka serius memikirkan prioritas amal (fiqih awlawiyat). Ketika amal dirinci pada bagian-bagian kecil, maka akan terlihat lebih jelas, mana amal wajib yang harus didahulukan, dan mana – amalan wajib pula – yang lebih longgar waktunya. Tidak berarti kalau dakwah menjadi aktivitas utama (poros hidup) lantas kewajiban pada keluarga harus selalu diterakhirkan ! Kita jangan berhenti pada yang makro atau besar-besar saja, tetapi memang harus rinci. Mengkaji kitab dalam halaqah adalah kewajiban, menjaga orang tua yang sakit juga kewajiban, ini tidak harus dibenturkan. Masih bisa disiasati, misalnya menjaga orang tua bergantian dengan saudara, atau kalau kondisinya memungkinkan: halaqahnya dilakukan di tempat di mana orang tua dirawat.

6. Sedapat mungkin satu aktivitas bisa disinergikan dengan aktivitas yang lain. Kalau kita ada tugas keluar kota, apa salahnya untuk sekaligus melakukan kontak pada orang yang seperjalanan di dalam bus atau pesawat. Atau jauh sebelum berangkat, kita memberitahu aktivis dakwah di tempat tujuan, bahwa keberadaan kita di sana siap dimanfaatkan untuk dakwah. Demikian juga, kalau kita ada agenda yang tidak jauh dari suatu tempat wisata, sementara anak-anak sedang liburan, bagaimana kita ke tempat yang diagendakan itu sambil membawa anak-anak dan didrop di tempat wisata itu bersama orang yang kita percaya, dan kita akan menyusulnya bila agenda kita selesai. Hal-hal semacam ini memang memerlukan “jam terbang”, sehingga lama-lama jadi habbit.

7. Segala 'infrastruktur' harus diupayakan mendukung target-target itu. Ini mulai dari memilih jenis dan lokasi pekerjaan, memilih lokasi tempat tinggal, memilih teknologi yang akan dipakai di rumah dan tempat aktivitas, bahkan memilih orang yang akan dijadikan pasangan hidupnya. Saya melihat ada aktivis dakwah yang ternyata setiap hari hilang waktu 2 x 2 jam untuk perjalanan pergi pulang ke tempat kerjanya. Dan selama itu dia praktis tidak dapat melakukan hal lain karena harus konsentrasi penuh mengendarai motor. Andaikata dia naik bus, barangkali bisa sambil membaca, menghafal Qur’an dengan mp3, atau sekalian kontak dakwah ke sesama penumpang. Atau barangkali jika dia bisa pindah rumah mendekati tempat kerjanya, mungkin yang 4 jam itu bisa produktif untuk yang lain.

8. Terus mengevaluasi diri dan mengoptimasi diri, sehingga beberapa kesalahan tidak terulang lagi, sedang beberapa pekerjaan yang berulang dan sudah diketahui sistem atau prosedurnya dengan jelas, dapat diotomatisasi atau didelegasikan pada orang yang telah kita kader. Dengan ini makin banyak lagi hal yang dapat kita raih, dan pada saat yang sama, makin banyak orang yang dapat merasakan manfaat kehadiran kita dalam hidupnya.

9. Tidak ada hentinya menyandarkan hasil kepada Allah. Karena meski kita telah mempersiapkan diri sedemikian rupa, Allah-lah yang memberi kesehatan dan kesempatan pada kita. Kalau Allah kehendaki, dapat saja Dia membuat kita sakit atau terkena musibah, sehingga segala rencana kita berantakan semua.

Selamat sukses menjadi mahluk multitarget.

Semangat memperbaiki diri. Semangat menjadi pribadi menginspirasi.

If You Feel Your Heart Vibrate, You Know For Whom You Life

Adzan Terakhir Sahabat Bilal Semua pasti tahu, bahwa pada masa Nabi, setiap masuk waktu sholat, maka yang mengkumandankan adzan adalah Bilal bin Rabah. Bilal ditunjuk karena memiliki suara yang indah. Pria berkulit hitam asal Afrika itu mempunyai suara emas yang khas. Posisinya semasa Nabi tak tergantikan oleh siapapun, kecuali saat perang saja, atau saat keluar kota bersama Nabi. Karena beliau tak pernah berpisah dengan Nabi, kemanapun Nabi pergi. Hingga Nabi menemui Allah ta’ala pada awal 11 Hijrah. 

Semenjak itulah Bilal menyatakan diri tidak akan mengumandangkan adzan lagi. Ketika Khalifah Abu Bakar Ra. memintanya untuk jadi mu’adzin kembali, dengan hati pilu nan sendu bilal berkata: “Biarkan aku jadi muadzin Nabi saja. Nabi telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi.” Abu Bakar terus mendesaknya, dan Bilal pun bertanya: “Dahulu, ketika engkau membebaskanku dari siksaan Umayyah bin Khalaf. Apakah engkau membebaskanmu karena dirimu apa karena Allah?.” Abu Bakar Ra. hanya terdiam. “Jika engkau membebaskanku karena dirimu, maka aku bersedia jadi muadzinmu. Tetapi jika engkau dulu membebaskanku karena Allah, maka biarkan aku dengan keputusanku.” Dan Abu Bakar Ra. pun tak bisa lagi mendesak Bilal Ra. untuk kembali mengumandangkan adzan. 

Kesedihan sebab ditinggal wafat Nabi Saw., terus mengendap di hati Bilal Ra. Dan kesedihan itu yang mendorongnya meninggalkan Madinah, dia ikut pasukan Fath Islamy menuju Syam, dan kemudian tinggal di Homs, Syria. Lama Bilal Ra tak mengunjungi Madinah, sampai pada suatu malam, Nabi Saw hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya: “Ya Bilal, wa maa hadzal jafa’? Hai Bilal, kenapa engkau tak mengunjungiku? Kenapa sampai begini?.” Bilal pun bangun terperanjat, segera dia mempersiapkan perjalanan ke Madinah, untuk ziarah pada Nabi. Sekian tahun sudah dia meninggalkan Nabi. 

Setiba di Madinah, Bilal bersedu sedan melepas rasa rindunya pada Nabi Saw., pada sang kekasih. Saat itu, dua pemuda yang telah beranjak dewasa, mendekatinya. Keduanya adalah cucunda Nabi Saw., Hasan dan Husein. Sembari mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua memeluk kedua cucu Nabi Saw itu. Salah satu dari keduanya berkata kepada Bilal Ra.: “Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan buat kami? Kami ingin mengenang kakek kami.” Ketika itu, Umar bin Khattab yang telah jadi Khalifah juga sedang melihat pemandangan mengharukan itu, dan beliau juga memohon Bilal untuk mengumandangkan adzan, meski sekali saja. 

Bilal pun memenuhi permintaan itu. Saat waktu shalat tiba, dia naik pada tempat dahulu biasa dia adzan pada masa Nabi Saw masih hidup. Mulailah dia mengumandangkan adzan. Saat lafadz “Allahu Akbar” dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap, segala aktifitas terhenti, semua terkejut, suara yang telah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok nan agung, suara yang begitu dirindukan, itu telah kembali. Ketika Bilal meneriakkan kata “Asyhadu an laa ilaha illallah”, seluruh isi kota madinah berlarian ke arah suara itu sembari berteriak, bahkan para gadis dalam pingitan mereka pun keluar. Dan saat bilal mengumandangkan “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan. 

Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Nabi, Umar bin Khattab yang paling keras tangisnya. Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya, lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai. Hari itu, madinah mengenang masa saat masih ada Nabi Saw. Tak ada pribadi agung yang begitu dicintai seperti Nabi Saw. Dan adzan itu, adzan yang tak bisa dirampungkan itu, adalah adzan pertama sekaligus adzan terakhirnya Bilal Ra, semenjak Nabi Saw wafat. Dia tak pernah bersedia lagi mengumandangkan adzan, sebab kesedihan yang sangat segera mencabik-cabik hatinya mengenang seseorang yang karenanya dirinya derajatnya terangkat begitu tinggi. Semoga kita dapat merasakan nikmatnya Rindu dan Cinta seperti yang Allah karuniakan kepada Sahabat Bilal bin Rabah Ra. Aamiin.

At-Thaariq ayat 4

Bismillahirrahmanirrahim.

Sebenarnya ini catatan lama yang aku tulis di facebook. Aku mendapatkannya dari guru agamaku di SMA. Setiap ilmu yang beliau ajarkan terasa ringan dicerna namun mendalam maknanya. Karena beliau memberinya dengan perlahan, sedikit demi sedikit, sembari membagi pengalaman pribadi hidupnya, dan menekankannya untuk langsung diamalkan. 

Sebenarnya juga banyak catatan yang aku dapat dari beliau, tapi tempatnya berserakan dimana-mana dan kebanyakan aku lupa. Dan ini penggalan surat At-Thaariq ayat 4:

إِنْ كُلُّ نَفْسٍ لَمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌ

There is no soul but has a protector over it.
[Tidak ada suatu jiwa pun (diri) melainkan ada penjaganya].

If man has a true spiritual understanding, he has nothing to be afraid of. His is protected by Allah in many ways that he does not even know. He may be an insignificant creature as a mere animal, but his soul raises him to a dignity above other creation. And all sorts of divine forces guard and protect him.
[Jika seseorang memiliki pemahaman spiritual yang benar, dia tidak memiliki apa-apa untuk ditakuti. Dia dilindungi oleh Allah di berbagai jalan yang dia tidak mengetahuinya. Dia mungkin makhluk sepele seperti seekor binatang, tapi jiwanya telah mengangkat dirinya untuk sebuah martabat (derajat) diatas ciptaan lainnya. Dan segala kekuatan menjaga dan melindungi dirinya.]

Indahnya Kisah Hukum Di Jaman Umar





Umar sedang duduk beralas surban di bebayang pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Sahabat di sekelilingnya bersyuraa bahas aneka soal. Tiga orang muda datang menghadap; 2 bersaudara berwajah marah yang mengapit pemuda lusuh nan tertunduk dalam belengguan mereka.



“Tegakkan keadilan untuk kami hai Amiral Mukminin”, ujar seorang, “Qishash-lah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatannya!”


Umar bangkit. “Bertaqwalah pada Allah”, serunya pada semua. “Benarkah engkau membunuh ayah mereka wahai anak muda?”, selidiknya.



Pemuda itu menunduk sesal. “Benar wahai Amiral Mukminin!”, jawabnya ksatria. “Ceritakanlah pada kami kejadiannya!”, tukas Umar.



“Aku datang dari pedalaman yang jauh”, ungkapnya, “Kaumku mempercayakan berbagi urusan muamalah untuk kuseslesaikan di kota ini.”



“Saat sampai”, lanjutnya, “Kutambatkan untaku di satu tunggul kurma, lalu kutinggalkan ia. Begitu kembali, aku terkejut & terpana”



“Tampak olehku seorang lelaki tua sedang menyembelih untaku di lahan kebunnya yang tampak rusak terinjak & ragas-rigis tanamannya”



“Sungguh aku sangat marah & dengan murka kucabut pedang hingga terbunuhlah si bapak itu. Dialah rupanya ayah kedua saudaraku ini.”



“Wahai Amiral Mukminin”, ujar seorang penggugat, “Kau telah dengar pengakuannya, dan kami bisa hadirkan banyak saksi untuk itu.”



“Tegakkanlah had Allah atasnya!”, timpal nan lain. Umar galau & bimbang setelah mendengar lebih jauh kisah pemuda terdakwa itu.



“Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih & baik”, ujar ‘Umar, “Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat”



“Izinkan aku”, ujar Umar, “Meminta kalian berdua untuk memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan Diyat atas kematian ayahmu.”



“Maaf hai Amiral Mukminin”, potong kedua pemuda dengan mata masih nyala memerah; sedih & marah, “Kami sangat sayangi ayah kami.”



“Bahkan andai harta sepenuh bumi dikumpulkan tuk buat kami kaya”, ujar salah satu, “Hati kami hanya kan ridha jiwa dibalas jiwa!”



Umar yang tumbuh simpati pada terdakwa yang dinilainya amanah, jujur, & bertanggungjawab; tetap kehabisan akal yakinkan penggugat



“Wahai Amiral Mukminin”, ujar pemuda tergugat itu dengan anggun & gagah, “Tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah Qishash atasku.”



“Aku ridha pada ketentuan Allah”, lanjutnya, “Hanya saja izinkan aku menunaikan semua amanah & kewajiban yang tertanggung ini.”



“Apa maksudmu?”, tanya hadirin. “Urusan muamalah kaumku”, ujar pemuda itu, “Berilah aku tangguh 3 hari untuk selesaikan semua.”



“Aku berjanji dengan nama Allah yang menetapkan Qishash dalam Al Quran, aku kan kembali 3 hari dari sekarang tuk serahkan jiwaku”



“Mana bisa begitu!”, teriak penggugat. “Nak”, ujar ‘Umar, “Tak punyakah kau kerabat & kenalan yang bisa kau limpahi urusan ini?”



“Sayangnya tidak hai Amiral Mukminin. Dan bagaimana pendapatmu jika kematianku masih menanggung hutang & tanggungan amanah lain?”



“Baik”, sahut ‘Umar, “Aku memberimu tangguh 3 hari; tapi harus ada seseorang yang menjaminmu bahwa kau tepat janji tuk kembali.”



“Aku tak memiliki seorangpun. Hanya Allah, hanya Allah, yang jadi penjaminku wahai orang-orang yang beriman padaNya”, rajuknya.



“Harus orang yang menjaminnya!”, ujar penggugat, “Andai pemuda ini ingkar janji, dia yang kan gantikan tempatnya tuk di-Qishash!”



“Jadikan aku penjaminnya hai Amiral Mukminin!”, sebuah suara berat & berwibawa menyeruak dari arah hadirin. Itu Salman Al Farisi.



“Salman?”, hardik Umar, “Demi Allah engkau belum mengenalnya! Demi Allah jangan main-main dengan urusan ini! Cabut kesediaanmu!”



“Pengenalanku padanya tak beda dengan pengenalanmu ya Umar”, ujar Salman, “Aku percaya padanya sebagaimana engkau mempercayainya”



Dengan berat hati, Umar melepas pemuda itu & menerima penjaminan yang dilakukan oleh Salman baginya. Tiga hari berlalu sudah.



Detik-detik menjelang eksekusi begitu menegangkan. Pemuda itu belum muncul. Umar gelisah mondar-mandir. Penggugat mendecak kecewa. Semua hadirin sangat khawatirkan Salman. Sahabat perantau negeri-pengembara iman itu mulia & tercinta di hati Rasul & sahabatnya.Mentari di hari batas nyaris terbenam; Salman dengan tentang & tawakkal melangtkah siap ke tempat Qishash. Isak pilu tertahan.Tetapi sesosok bayang berlari terengah dalam temaram, terseok terjerembab lalu bangkit & nyaris merangkak. “Itu dia!”, pekik Umar



Pemuda itu dengan tubuh berkuah peluh & nafas putus-putus ambruk ke pangkuan Umar. “Maafkan aku!”, ujarnya. “Hampir terlambat.”



“Urusan kaumku makan waktu. Kupacu tungganganku tanpa henti hingga ia sekarat di gurun & terpaksa kutinggalkan, lalu kuberlari..”



“Demi Allah”, ujar Umar sambil menenangkan & meminumi, “Bukankah engkau bisa lari dari hukuman ini? Mengapa susah payah kembali?”



“Supaya jangan sampai ada yang katakan”, ujar terdakwa itu dalam senyum, “Di kalangan muslimin tak ada lagi ksatria tepat janji.”



“Lalu kau hai Salman”, ujar Umar berkaca-kaca, “Mengapa mau-maunya kau jadi penjamin seseorang yang tak kau kenal sama-sekali?”



“Agar jangan sampai dikatakan”, jawab Salman teguh, “Di kalangan muslimin tak ada lagi saling percaya & menanggung beban saudara”



“Allahu Akbar!”, pekik 2 pemuda penggugat sambil memeluk terdakwanya, “Allah & kaum muslimin jadi saksi bahwa kami memaafkannya”



“Kalian”, kata Umar makin haru, “Apa maksudnya? Jadi kalian memaafkannya? Jadi dia tak jadi di-Qishash? Allahu Akbar! Mengapa?”



“Agar jangan ada yang merasa”, sahut keduanya masih terisak, “Di kalangan kaum muslimin tak ada lagi kemaafan & kasih sayang.”




-----
Diambil dari http://dazzdays.wordpress.com/2013/01/19/indahnya-kisah-hukum-di-jaman-umar/

10 Ciri Khas Pribadi Muslim

Setiap orang memiliki standar hidup masing-masing. Standar yang ia tetapkan untuk dirinya sendiri. Yang berasal dari kesimpulan-kesimpulan perjalanan hidupnya maupun dari lingkungannya. Lingkungan adat, lingkungan masyarakat, bahkan lingkungan agama.
Setiap agama memiliki standar yang harus dimiliki oleh pemeluk-pemeluknya. Islam adalah agama yang meliputi seluruh aspek dalam kehidupan. Berbagai tata cara hidup diatur di dalamnya. 

Dan berikut adalah 10 pribadi yang diinginkan islam untuk dimiliki oleh setiap pemeluknya.


1. Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih). Salimul aqidah merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT. Dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuanNya.

2. Shahihul Ibadah (ibadah yang benar). Shahihul ibadah merupakan salah satu perintah Rasulullah SAW yang penting. Dalam satu haditsnya, beliau bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana melihat aku shalat”. Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul SAW yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

3. Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh). Matinul khuluq merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah SWT maupun dengan makhluk-makhlukNya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat.

4. Qowiyyul Jismi (kekuatan jasmani). Qowiyyul jismi merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat dan kuat. Apalagi berjihad di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.

5. Mutsaqqoful Fikri (intelek dalam berfikir). Mutsaqqoful fikri merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang juga penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas).

6. Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu). Mujahadatul linafsihi merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan.

7. Harishun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu). Harishun ala waqtihimerupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT banyak bersumpah di dalam Al Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan seterusnya.

8. Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan). Munazhzhaman fi syuunihi termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya.

9. Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri/mandiri). Qodirun alal kasbi merupakan ciri lain yang harus ada pada diri seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi.

10. Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain). Nafi’un lighoirihimerupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaan. Jangan sampai keberadaan seorang muslim tidak menggenapkan dan ketiadaannya tidak mengganjilkan.

--------------
Dikutip dari: http://blog.sikathabis.com/?page_id=431