Showing posts with label My Dreams. Show all posts
Showing posts with label My Dreams. Show all posts

A Bunch of Blessing

Pernahkah kau bermimpi, di suatu waktu yang telah lalu, untuk menikmati masa dengan berkarya di tempat terpencil dan jauh dari keramaian suatu hari nanti?

Pernahkah kau merasa telah menemukan satu tempat hidup yang nyaman dan ingin hari-hari selanjutnya tetap berada di sana?

Pernahkah kau, saat belajar dulu, menggeluti suatu hal baru, lalu menemukan satu hal yang lebih seru, lalu seketika harus beralih pada hal yang lain lagi karena niat yang sudah kaupegang lama, kemudian semuanya menyatu dan menyambutmu?

Pernahkah kau merencanakan dan mempersiapkan keahlian apa yang dapat kauberikan di masa depan, lalu hal itu menghampirimu sedikit lebih cepat dari yang kauperkirakan?

Lalu bagaimana rasanya jika jawaban setiap pertanyaan-pertanyaan itu adalah 'Ya' dan datang bersamaan? Dan pernahkah kau mengalaminya? Di sini, ijinkanlah aku bercerita..

"Kantor Parangtritis Geomaritime Science Park, Depok, Parangtritis, Kretek, Bantul, DIY."

Sebagai lanjutan tulisan tepat sebelumnya, inilah cerita tentang tempat baruku saat ini, Parangtritis Geomaritime Science Park, sebuah program kolaborasi antara Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi, Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Badan Informasi Geospasial, Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, dan Pemerintah Kabupaten Bantul.

Mungkin semua ini berawal dari pengaruh film sains fiksi berjudul 'The Day after Tomorrow', tentang seorang ayah yang bekerja sebagai peneliti es di kutub utara, jauh dari keluarganya yang berada di Kota New York. Film itu cukup menginspirasi, membuatku tertarik untuk suatu saat nanti berkarya di tempat yang cukup sunyi, jauh dari keramaian, namun memiliki akses langsung ke pusat (semacam sebuah otoritas level federal/nasional). Sejak menonton film itu pula, aku memiliki keinginan untuk menjadi seorang peneliti. Yes, discovering new things that will benefit others.

Tentang Jogja, adalah cerita yang lebih panjang lagi, seperti yang telah kutulis dalam catatan bertajuk 'Niat dan Rasa Syukur', mulai dari guru SDku yang tiba-tiba mengajakku sekolah di Jogja selulus SD, sampai akhirnya aku berkesempatan menyelesaikan S1 di bumi Ngayogyakarto Hadiningkat ini. Tak cukup sampai di situ, pascalulus dan melanjutkan perantauan ke ibukota, aku memilih untuk kembali lagi ke Jogja. Itu bukan tanpa alasan, karena kenyataannya Jogja memang istimewa. Dan yang paling istimewa dari Jogja menurutku adalah begitu banyaknya majelis ilmu. Kesempatan untuk belajar terbuka lebar di sini. Biar dikata bukan ibukota, namun shortcut Jogja dalam hal ini tak kalah dengan tempat lainnya. Kadang justru Jogja menawarkan pilihan ilmu yang lebih lengkap. Sekelumit alasan untuk memilih Jogja tampaknya tak cukup untuk ditulis dalam satu paragraf saja. Sepertinya perlu dibuat tulisan tersendiri tentang Jogja, untuk menjelaskan mengapa sampai saat ini, sebagai tempat bermukim aku masih memilihnya. 

Kuingin bercerita satu hal lagi. Dulu, apakah kita (kalian dan aku) di awal masa-masa kuliah sempat memilih satu fokus untuk terus didalami? Kurasa jawaban kita sama, Ya. Lalu di tengah perjalanan studi, fokus tersebut berpindah dari satu bidang ke bidang lainnya. Bisa jadi karena ada hal yang lebih menarik yang baru saja kita tahu. Kemudian setelah itu, di akhir masa kuliah, fokus tersebut harus diubah lagi karena sebuah alasan prinsipil, ingin mengambil tema penelitian di kampung halaman, sedangkan hal itu kurang relevan untuk dilakukan dengan fokus yang telah digeluti sebelumnya. Aku mengalaminya. 

Di awal kuliah dulu, aku memiliki minat untuk menggeluti bidang kebencanaan, tentunya dengan ranah ilmu yang kupelajari, ilmu pemetaan dan peginderaan jauh. Bahkan pernah waktu itu di tahun pertama studi, dengan dukungan senior dan dosen pembimbing kami, aku dan dua orang temanku sempat berpartisipasi dalam sebuah Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional di Makassar, mengusung gagasan penelitian tentang strategi evakuasi korban bencana dengan memanfaatkan hasil pemotretan menggunakan UAV (unmanned aerial vehicle) atau yang saat ini lebih dikenal dengan sebutan drone. Waktu itu aku terus menggeluti bidang tersebut, sampai suatu saat ada hal baru yang lebih membuatku terkesan.

GIS (Geographic Information System), bisa dibilang ini adalah core dari ilmu-ilmu pengetahuan di bidang kebumian. Ini pendapatku pribadi. Kenapa kusebut core? Karena posisinya memang berada di tengah. Ilmu ini berperan pada tahap proses; menggunakan hasil ilmu lain sebagai masukan dan memberikan luaran untuk digunakan oleh ilmu yang lainnya lagi. Intinya, tanpa ilmu ini, ilmu-ilmu kebumian lainnya semacam saling tak tersambung. Seperti itu sederhananya. Sekali lagi, ini sepenuhnya pendapatku pribadi. Inilah yang menjadi fokus baru yang kugeluti selama lebih dari setengah masa studi S1. Dan memang, dosen pembimbing akademikku dikenal sebagai master dalam bidang ini di fakutlas tempatku belajar. Nasehat, dorongan, dan masukan (serta mungkin ekspektasi) beliau selama studi dulu turut berpengaruh dalam pertimbanganku memilih fokus tersebut.

"Bapak, setelah saya pertimbangkan insyaAllah saya akan mengambil tema garam untuk penelitian skripsi saya." Itu kalimat pertamaku saat konsultasi di awal semester 7 pada beliau. "Oh, nek ngono kowe mending nganggo PJ mas. Nek GIS kurang pas nggo neliti garam." Begitu kira-kira jawaban beliau. Kami sama-sama mengerti arah percakapan itu. Beliau menghargai pilihan yang kubuat, aku pun menghormati nasehat beliau. Baiklah, dengan pertimbangan dan hasil diskusi tersebut, kulanjutkan niatku untuk 'pulang', meneliti tentang garam dari sudut pandang ilmu yang sudah kupelajari selama ini. Sampai tibalah akhirnya perjalanan panjang menuntaskan skripsi itu selesai (to be written separately).

Pascalulus, kusampaikan kembali pada beliau tentang rencanaku selanjutnya. "Alhamdulillah, bapak. Skripsi saya sudah selesai. InsyaAllah ke depan saya akan meneruskan fokus saya sebelumnya, tentang GIS dan lebih khusus lagi Geospatial Analysis untuk studi lanjut." "Iya mas, silakan dilanjutkan." Begitu ucap beliau memberikan nasehat. Geospatial Analysis secara sederhana adalah terapan dari ilmu GIS. Boleh dikata, GIS itu ibarat kita belajar cara membuat kue; bahan apa saja yang dibutuhkan, berapa takaran dari tiap bahan, bagaimana cara mengolahnya, sampai akhirnya makanan itu jadi. Sedangkan Geospatial Analysis lebih pada untuk siapa kita membuat kue itu; untuk anak-anak atau orang dewasa, bagaimana tampilan kuenya, akan disajikan dalam bentuk apa dan berapa banyak, serta kandungan gizi mana yang harus diperbanyak atau dikurangi. Begitulah kira-kira perumpamaan sederhananya. Bidang Geospatial Analysis inilah yang insyaAllah akan kudalami lagi lebih lanjut dan menjadi keahlianku di masa depan. Aamiin.

Setelah itu tentang karir di masa depan. Di penghujung 2015 lalu, aku pernah membuat Future Plan di FB Notes. Sebenarnya itu sekadar tugas dari tempat les bahasa inggrisku, tapi sekalian kubuat lebih serius, berharap dapat menjadi doa dan penyemangat. Rencana hidup kadang memang dapat berubah dan bisa lebih dari satu. Jadi, ada baiknya rencana tersebut ditulis agar dapat lebih tervisualisasi dan ini adalah salah satunya. Di catatan yang kutulis itu, di masa depan nanti, aku berencana untuk berkarir dan berkarya di BIG (Badan Informasi Geospasial) dengan keahlian yang sebelumnya telah kupelajari dan kudalami selama menempuh S2. Qadarullah, rencana yang aku plot untuk bergabung dengan BIG di Oktober 2017 datang sedikit lebih cepat, bahkan sebelum aku mulai menempuh S2. 

Aku mendapatkan kesempatan bergabung di BIG dengan posisi sebagai Analis Penginderaan Jauh dan Geodatabase. Di samping persyaratan umum yang lebih bersifat administratif, posisi ini memiliki persyaratan khusus antara lain: (1) S1 Penginderaan Jauh, (2) Mampu menyusun desain geodatabase, (3) Mampu melakukan inventarisasi dan foldering data informasi geospasial, (4) Mampu melakukan kegiatan pemetaan dan monitoring melalui pemotretan dengan wahana tanpa awak, (5) Mampu melakukan analisis data citra, dan (6) Bersedia ditempatkan di Parangtritis Geomaritime Science Park, Yogyakarta. Entah, semacam semua hal yang kuinginkan selama ini berkumpul dalam satu paket persyaratan tersebut.

Selain itu, jobdesk-ku di sini antara lain bergabung dalam Tim SRC (Satuan Reaksi Cepat/Quick Response Unit) untuk melakukan pemotretan udara di wilayah terdampak bencana, sebagai tugas dan fungsi Badan Informasi Geospasial dalam menyajikan informasi spasial kepada publik; melakukan riset dengan tema geomaritime; dan memfasilitasi kerja sama/pelatihan di bidang GIS dan Remote SensingSedikit cerita pula tentang hal ini. Dulu di pertengahan kuliah, aku pun sempat menggeluti bidang marine (kelautan), dengan memilih tema marine saat KKL III di pesisir utara Pulau Bali dan juga melaksanakan KKN di pulau kecil bernama Jefman di Raja Ampat. Juga tentang semua dokumen-dokumen (khususnya softfile) kuliah dan praktikum yang masih kusimpan sampai saat ini, itu sangat membantu dalam menyusun materi-materi pelatihan dalam bidang-bidang ilmu yang sempat lebih dulu kupelajari.

Alhamdulillaahi Rabbil 'Aalamiin. Aku tak sempat berpikir tentang semua hal tersebut sejauh ini sebelumnya; tentang keinginan-keinginan dahulu yang kini datang bersamaan; tentang fragmen-fragmen fokus studi yang kini semua bermuara menjadi satu; tentang fokus studi yang akan kugeluti di masa depan; dan tentang Yogya, tempat belajar menemukan nilai dan makna kehidupan. 

Hari ini tepat sebulan sudah waktu berlalu, sejak 3 April 2017, hari pertama aku berada di sana, bergabung dengan BIG dan ditempatkan di Parangtritis Geomaritime Science Park, Yogyakarta.

First Flight

This story is not about me, it's about my brother. His name is Fatih. Yeah, like the name of Congueror of Konstantinopel, Sultan Mehmed Al-Fatih.

He (my brother) is 12 years old and now in the last year of his basic school. I ever promise to bring him to Jakarta when holiday for him come, but i am not able yet. So today, with our Mom, at 18.40 he will enjoy his fisrt flight to get a holiday in the Capital of this country, Jakarta.

He never go anywhere by plane before, nor by train, just by bus. So, our family thought  it'll be a great experience for him and to make him happy. And another reason is Surabaya-Jakarta takes about 9 hours by train. But it just takes about 1 hour and 10 minutes by plane. 

His mind must be so complicated now. Because he will not only enjoy the trip from home (Madura) to Jakarta, but also during in his holiday in Jakarta, our nephews will take him go around with their daddy (my older brother) and mom (my older brother's wife), like Taman Impian Jaya Ancol, Taman Mini Indonesia Indah, and Puncak Bogor, maybe.

I am sure, when he comeback to Madura, he will has many stories about his holiday in Jakarta. I also suggest my mom to comeback to Madura by train, so he can also know how to go somewhere by train.

I can't tell much for this story. Let my little brother tell and i just wanna listen to him after his holiday. I will only give him a simple smile, because everything he is facing and feeling now, i have felt before. Sure, because i am his older brother. LOL

See you at home, bro.

Think Ahead

Sunday, May 18th 2014, at Bungong Jeumpa Resto

Mungkin karena lagi introvert, aku sering melewatkan waktu sendiri. Bukan karena ga ada teman. Tapi karena merasa begini lebih tenang. 

Siang tadi, sengaja ku rencanakan makan siang masakan Aceh yang kaya bumbu, Bungong Jeumpa nama Restonya. Ada empat cabang di Jogja. Tempatnya bersih dan menarik. Cocok untuk melepas penat, meskipun aku ga lagi penat.

Aku pilih menu es timun dan nasi ayam panggang kuah kari plus sambel. Entah kenapa, setiap rindu rumah, pastinya aku akan rindu masakannya, dan aku selalu pergi ke tempat makan yang menunya berasa. Salah satunya ini, karena penuh rempah.

Tak lama pesanan datang. Sambil menyantap, aku teringat keinginan waktu dulu, saat masih SMA, untuk membuat satu tempat makan. Yang aku sempurnakan ide itu di awal kuliah. Madura in Jogja Resto, mungkin itu nama restonya nanti. Karena ingin ku buat di Jogja.

Aku memang suka makan, maksudnya suka merasakan makanan yang beraneka. Kalo adikku di rumah, dia memang suka makan. Kadang sehari bisa lima kali. Makanya gendut. Haha. Dan wanita yang ada di rumahku semua punya keahlian memasak. Ibu dan dua kakak perempuanku semua masakannya enak-enak. 

Nah, dulu aku pernah punya rencana membuat satu rumah makan di sekitar pintu TOL Suramadu bagian Madura dengan menu seafood khas Madura. Tujuannya adalah untuk mempromosikan kuliner khas Madura. Pemilihan lokasi di sana adalah agar bisa meningkatkan devisa lokal, menambah obyek wisata di Madura, dan membuka kesempatan lebih lebar bagi masyarakat Madura untuk mencari perkerjaan, di semua bagian, mulai dari tukang parkir, waiter/waitress, chef, manager, bahkan mungkin nanti pemegang saham jika usaha terus berkembang, dan tentunya profit sebagai tujuan dari sebuah bisnis.

Sambil menikmati es timun, imajiiku berjalan. Kenapa tidak aku seriuskan saja rencana itu. Toh juga komponen-komponen penyusunnya sudah ada, tinggal dirangkai dan diuji coba, dan tentunya menentukan waktu yang tepat dari keadaan yang ada.

Bukankah delapan dari sepuluh pintu rezeki itu ada di perniagaan? Dan kuliner (masakan/pangan) adalah satu dari tiga kebutuhan dasar manusia? Dua pernyataan itu cukup sudah bisa menjadi pijakan dalam memulai usaha. Tambah disempurnakan dengan konsep interior yang menarik, manajemen yang bagus, lengkap sudah. Toh koneksi juga sudah ada, modal insyaAllah ada dan bisa ditambah. Tinggal jalan aja.

Dan tentang MiJ (Madura in Jogja) Resto, dulu aku sudah merancang konsepnya. Bisa dibilang matang. Tinggal diperinci ke teknisnya. Namun ternyata, ada yang sudah mengawali setahun setelah ide itu aku rancang. Dia adalah kakak kelasku semasa SMP, sekalipun selisih sepuluh tahun. Itu semua kebetulan menurutku. Meskipun pastinya adalah takdir. Dia membuat sebuah resto bernama Mr. Teto, singkatan dari Madura Sate dan Soto. Ia hadir dengan pelayanan tambahan yaitu delivery dan manajemen yang modern, lengkap dengan adanya CSR, meskipun masih tergolong kecil. Namun prospek usahanya sudah terlihat bagus. Itu karena beliau menggunakan branding dalam usahanya. Sebuah strategi baru dalam bisnis kuliner sate. Dan itu adalah yang pertama yang aku tahu. Baru di tahun kedua, beliau sudah membuat cabang.

Tapi aku tak berkecil hati. Mr. Teto memang sama dengan ide yang pernah aku dapat. Tapi konsep yang aku buat lebih dari sekedar Mr. Teto saat ini. Menunya lebih bervariasi dan konsep restonya juga lebih kompleks. Sementara ide ini memang masih aku simpan. Aku tak tahu, apakah dalam perjalanannya Mr. Teto akan semakin mirip dengan MiJ atau masih ada beda.

Yang jelas, ku pastikan itu tak akan menjadi masalah di kemudian hari. Bisa jadi, jika MiJ telah lahir, Mr. Teto dan MiJ akan merged, bisa jadi keduanya akan berdampingan serasi. Yang pasti tujuan keduanya sama. Seperti yang ku sebut di atas.

Dan tiba-tiba, ayam panggang bumbu kari plus sambel telah habis aku santap. Begitu juga dengan es timunnya. Aku bergegas ke kasir, kemudian pergi ke perpus kota.

Sekian dulu, sebuah curahan pikiran.

Do’a Ali Bin Abi Thalib saat Jatuh Cinta Pada Fatimah

Yaa Allah..
Kau tahu..

Hati ini terikat suka akan indahnya seorang insan ciptaanMu.

Tapi aku takut, cinta yang belum waktunya menjadi penghalang ku mencium surgaMu.
Berikan aku kekuatan menjaga cinta ini, sampai tiba waktunya, andaikan Engkau pun mempertemukan aku dengannya kelak.

Berikan aku kekuatan melupakannya sejenak.

Bukan karena aku tak mencintainya.
Justru karena aku sangat mencintainya.
(Repost dari Catatan Pribadi Dzikry Asykarullah)

------------------- 
Inilah cinta, ia menentramkan, bukan menggelisahkan.
Iya mendekatkan diri pada Tuhan, bukan menjauhkan.
Siapapun ingin memiliki cinta seperti ini.
Akupun begitu.

Sebuah Sudut Pandang

Konsep Interdisipliner dan Interorganisasi sebagai
Karakter Negarawan Muda Indonesia
Fajrun Wahidil Muharram
Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada

Negarawan, sebuah kata yang menuntut suatu kontribusi bagi yang membacanya. Negarawan ialah mereka yang telah selesai dengan diri sendiri, sehingga dapat mencurahkan kemampuan, waktu, dan tenaganya untuk kepentingan orang banyak.
B. J. Habibie memiliki istilah sendiri dalam menyebut sosok negarawan, yaitu sebagai cendekia. Dalam bukunya, Habibie & Ainun, ia menulis bahwa ada perbedaan antara cendekia dan pakar. Cendekia merupakan seseorang yang ahli dan menguasai suatu bidang, dan ia memiliki tanggung jawab sosial untuk memanfaatkan keahliannya dalam menyelesaikan permasalahan yang ada di sekitar. Sedangkan pakar menurutnya hanya sekedar seseorang yang ahli dan menguasai suatu bidang tapi tidak memberikan kontribusi berarti bagi lingkungan sekitarnya.
Menjadi negarawan dalam konteks kenegaraan adalah bentuk pengabdian diri pada masyarakat. Tidak harus sebagai presiden, menjadi negarawan dapat dilakukan pada berbagai posisi, baik secara nasional maupun lokal, juga dalam berbagai bidang sesuai keahlian yang dimiliki.
Bagi para pemuda, termasuk mahasiswa, menjadi negarawan dalam konteks kenegaraan seperti di atas adalah hal pasti yang akan dilaluinya di masa mendatang. Namun sebelum itu, ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk melatih dan mencetak diri menjadi negarawan muda sesuai keahlian dan bidang masing-masing.

Konsep Interdisipliner
Dinar Ramadhani, dalam buku Belajar Merawat Indonesia: Presiden Negarawan, menyatakan bahwa menjadi seorang negarawan berarti berpikir mengenai kepentingan publik, mengenai negaranya secara utuh. Lebih jauh lagi, negarawan berpikir secara komprehensif mengenai hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Dia tidak lagi berpikir terkotak-kotak sesuai keahliannya saja, tetapi memandang sesuatu secara utuh dalam lingkup negara.
Dari pernyataan di atas, terdapat dua kata kunci yang menjadi karakter berpikir seorang negarawan, yaitu komprehensif dan tidak terkotak-kotak. Dalam dunia kampus, seorang negarawan muda pasti terikat dengan bidang ilmunya. Sistem perkuliahan cenderung mendorong ia untuk memahami bidangnya secara mendalam dan memberi porsi lebih sedikit atau bahkan mengesampingkan bidang lain. Tentu hal ini berkebalikan dengan pernyataan yang disebut Dinar di atas. Lalu bagaimanakah seorang negarawan muda dapat berpikir komprehensif dan tidak terkotak-kotak? Hal tersebut dapat disiati dengan membentuk jaringan interdisipliner (sebagian menyebut multidisipliner) yang mewadahi negarawan muda dari berbagai latar belakang bidang dalam suatu organisasi.
Konsep interdisipliner ini bukan berarti menghilangkan latar belakang bidang keahlian ketika berkumpul dengan orang lain, melainkan menggunakan keahlian tersebut untuk menelaah suatu problematika kemudian menawarkan solusi dari sudut pandang tersebut. Sehingga tercipta proses transfer of knowledge di antara para negarawan muda dan menghasilkan jejaring yang menyelaraskan berbagai sudut pandang tersebut menjadi satu pemikiran komprehensif dan solutif.

Konteks Organisasi
Dimanapun, khususnya di dunia kampus, organisasi dibuat untuk tujuan tertentu, sehingga memiliki visi, misi, dan ruang gerak khusus. Sebut saja BEM, LEM, atau DEMA, yang gerakannya sarat dengan advokasi dan pengawalan aspirasi yang bersifat persuasif. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) didirikan untuk menampung mahasiswa dengan kegemaran dan passion yang sama agar dapat memberi arti yang lebih bermanfaat. Terdapat pula unit penalaran ilmiah mahasiswa dengan berbagai varian istilahnya yang lebih cenderung pada kajian mengenai suatu problematika lingkungan dan sosial dengan pendekatan ilmiah, menghasilkan solusi yang bersifat deskriptif eksplanatoris. Ketiga golongan organisasi tersebut dapat dihimpun menjadi satu.
Dalam konteks organisasi, cara ini dapat pula dianggap konsep inter-organisasi, yaitu interdisipliner dalam skala kelompok, bukan lagi individu. Sementara ini, beberapa perguruan tinggi telah mencoba menerapkan cara serupa yang disebut sebagai forum komunikasi (FORKOM). Namun pergerakannya masih sekedar memperbincangkan penyelarasan jadwal pergantian kepengurusan, agenda pelantikan bersama, dan permohonan anggaran bersama pada pihak rektorat. Ini belumlah kondisi yang diharapkan ada pada konsep inter-organisasi.
Idealnya, konsep tersebut dapat digunakan untuk memberikan solusi atas problematika sekitar dengan sistem kerja sama. Unit penalaran ilmiah mengkaji suatu permasalahan secara ilmiah berdasarkan ilmu pengetahuan yang bidang-bidangnya ditekuni oleh anggota di dalamnya sehingga menghasilkan alternatif-alternatif solusi yang mungkin untuk dijalani. BEM, LEM, atau DEMA menjaring aspirasi masyarakat dan mengawal isu tersebut agar tidak mudah dipelintir oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Dan UKM dengan keberagaman unsur di dalamnya menawarkan cara-cara kreatif dalam menerapkan solusi yang dipilih.

Tataran Aksi
Seorang negarawan muda tidak hanya menguasai konsep secara matang, namun juga harus piawai dalam aksi. Dengan karakter yang dimiliki, ia mampu memberi inspirasi. Mampu mengajak anggotanya dan masyarakat untuk turun tangan memberi solusi, sehingga mereka tidak hanya duduk manis sambil memuji atau mengkritik.
Pemimpin ideal adalah ia yang tidak jauh di depan meninggalkan anggotanya, tidak pula jauh di belakang ditinggal anggotanya, melainkan berada di tengah-tengah anggotanya. Karakter itulah yang diharapkan ada dalam diri setiap negarawan muda. Dengan keahlian dan keterampilan yang dimiliki, ia tidak menampilkan sosok dirinya sebagai single actor di depan yang berbeda secara mencolok, tidak pula ditinggalkan anggotanya karena pemikirannya yang terlalu subjektif, tetapi menciptakan sistem kerja sehat, efektif, dan efisien yang menarik simpati para anggotanya untuk ikut bergerak. Sehingga sistem tersebut akan terus bergerak (sustainable) sekalipun telah ditinggalkannya.
Seorang negarawan muda seyogianya memiliki konsep pemikiran dan gaya aksi seperti ini. Kutipan kata bijak dari Abdullah Gymnastiar, “Mulailah dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, dan mulai dari sekarang.”, dapat menjadi langkah awal dalam memperbaiki dan merawat Indonesia menjadi lebih baik. []

Multitarget

Bismillah. Ini adalah tulisan dari seorang intelektual bernama Fahmi Amhar. Saya mengutipnya langsung dan sepenuhnya dari tulisan beliau di profil facebooknya. Semoga tulisan itu tak hilang dan bisa dibuka setiap waktu, maka saya simpan juga di blog ini.

BELAJAR MERAIH MULTI TARGET
Kadang ada pertanyaan yang diluncurkan kepada beberapa aktivis dakwah yang menurut mayoritas orang “sukses” dalam meraih multi-target. Maksud multi-target itu: dakwahnya sukses, sekolahnya sukses, keluarga sukses, dan karier atau bisnisnya juga sukses. Karena manusia itu memang mahluk multi-target. Memang ada nasehat, bahwa agar menjadi manusia yang istimewa, itu harus fokus, karena otak tidak bisa berpikir dua hal pada saat yang bersamaan. Itu benar. Tetapi, kita semua diberi waktu 24 jam sehari kan ? Dan toh tidak harus 24 jam itu hanya memikirkan satu hal saja, selamanya. Yang namanya ibadah saja, sholat misalnya, hanya diminta paling 5 x @ 10 menit. Di luar sholat ya mikir yang lain. Bahkan, di Qur’an Surat Al-Jumu’ah, itu malah diperintahkan agar habis sholat Jum’at, itu supaya “bertebaran mencari rizki Allah” – bukan malah duduk-duduk atau ngobrol di masjid.

Tapi sebelum lebih jauh, kata “sukses” sendiri mesti jelas ukurannya. Kalau ukuran dasar, bahwa itu sesuai dengan perintah Allah, ooo tentu saja. Tetapi kita biasa menilai kesuksesan dari output dibanding input. Dakwah disebut sukses kalau bisa merubah pikiran – dan lalu perilaku – orang yang mendengarkan, sehingga makin islami. Dan makin banyak orang yang bisa berubah, berarti makin sukses. Sekolah disebut sukses, kalau berhasil meraih level tertinggi dengan nilai baik, dan setelahnya mampu mengamalkan ilmunya itu, atau dijadikan rujukan dalam bidang keahliannya itu. Keluarga disebut sukses, kalau berhasil membangun rumah tangga yang harmonis, jauh dari konflik, sinergi dalam aktivitas, juga menghasilkan anak-anak yang shaleh/shalihah, sehat, cerdas dan juga sejak dini terikat dengan berbagai aktivitas positif. Sedang karier atau bisnis disebut sukses, kalau makin berkembang, makin memberi manfaat banyak orang, makin banyak menghasilkan zakat-infaq-shadaqah, dan bisa menjadi washilah membuka jejaring yang makin mendukung tercapainya visi.

Persoalannya, banyak aktivis dakwah yang ternyata kelabakan di jalan. Mereka yang merasa aktif dalam dakwah, ternyata ada yang sekolahnya jadi berantakan. Atau sekolah dan dakwah semula jalan, tetapi begitu masuk dunia kerja, langsung suaranya berangsung-angsur senyap … bahkan lama-lama hilang. Ada juga yang senyapnya ini setelah berkeluarga. Sebaliknya ada terus rajin sibuk dalam dakwah dan bisnis, tetapi keluarga kurang mendapatkan haknya, yang bahkan berujung pada sesuatu yang halal tetapi sangat dibenci Allah, sesuatu yang menggetarkan Arasy, yakni perceraian !!!

Karena setiap dari kita mendapatkan “anggaran” yang sama dari Allah, yaitu sehari 24 jam, maka tentu kita perlu belajar “best-practice” dari mereka yang terlebih dulu dapat kita identifikasi sebagai sukses meraih multi-target tersebut. Mungkin memang kelebihan tiap orang tidak sama, tetapi jelas mereka yang saya jadikan teladan, itu dapat disebut sukses, jauh di atas aktivis dakwah kebanyakan.

Ada yang saya lihat, pada saat itu usia beliau belum 40 tahun – pada saat dakwahnya sangat kencang – beliau sudah menjadi icon dakwah nasional, ternyata juga masih sempat menyelesaikan S2-nya, juga mendirikan sebuah sekolah dan perguruan tinggi Islam, juga menulis banyak sekali buku, juga sukses membangun lembaga konsultan bisnis & manajemen yang sudah bisa jalan sendiri, rumah tangganya juga tampak harmonis, masih sempat mengajak anak-anaknya liburan dsb.

Ada lagi – yang juga di usia muda – ini bahkan kelasnya sudah internasional. Eloknya, saat itu, meski sudah terkenal, tapi masih sempat meneruskan S3-nya di Luar Negeri, sambil terus memelihara berbagai cabang bisnisnya, dan terus mengembangkan sekolah yang dibangunnya, menulis beberapa textbook standar dan suatu ensiklopedi, menginspirasi banyak orang – seraya keluarganya sangat harmonis, padahal anaknya sedikitnya 7 orang.

Setelah saya pelajari, pribadi-pribadi ini ternyata memiliki ciri-ciri yang mirip:
1. Mereka relatif dini mengenali tujuan hidupnya. Ada yang sejak SD memang sudah “dekat dengan masjid”. Tetapi ada juga yang baru setelah SMA atau mahasiswa. Bahkan ada yang baru muallaf setelah sarjana. Tetapi sebelumnya, mereka sudah tergolong orang-orang yang “hanif” (=cinta kebenaran). Benar kata Nabi, “barangsiapa hebat di masa Jahiliyah, dia juga akan hebat dengan Islam”. Artinya, Nabi tidak menafikan bahwa di antara orang-orang yang belum berjuang dengan Islam-pun, bahkan belum muslim, ada yang memiliki kehebatan universal – seperti sikap cinta kebenaran (jujur), cenderung pada keadilan, rajin mencari ilmu, menjaga komitmen dalam bekerja, dan sebagainya. Nah, orang-orang seperti ini, di lingkungan manapun selalu akan dihargai, dan selalu tampak hebat.

2. Mereka relatif dini mempelajari segala ilmu yang mendukung meraih visinya. Ada yang sejak dini gemar membaca. Ada yang sejak SMA sudah rajin belajar menulis buku. Ada yang sejak mahasiswa sudah merintis bisnis. Benar kata pepatah: belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, belajar di waktu dewasa bagai mengukir di atas air. Mereka juga sejak awal suka belajar sesuatu yang dapat meningkatkan kinerja hidupnya, sehingga dalam waktu yang sama, mereka dapat menyelesaikan lebih banyak pekerjaan daripada orang lain. Mereka belajar Cara Bekerja Efisien, Cara Memotivasi Orang Lain, Cara Mengotomatisasi Pekerjaan, dan sebagainya. Mereka juga akrab dengan biografi berbagai tokoh dunia. Karena itu mereka makin terinspirasi dan makin dapat membuat sebuah “road map” atau peta perjalanan hidupnya, dia mau meraih apa saja pada usia berapa, bersama siapa, dan dimana.

3. Dengan ilmu itu mereka dapat merinci visinya dalam tahapan-tahapan kecil yang lebih terukur, kemudian mereka istiqomah memenuhi tahapan-tahapan kecil itu. Ketidakmampuan merinci visi dalam tahapan kecil membuat seakan-akan semua target visi sebuah pekerjaan raksasa. Bagaimana bisa meraih gelar Doktor dalam usia kurang dari 30 tahun? Ya memang seperti tidak terjangkau dalam segala aspek: biaya – persiapan bahasa – topik dll. Tetapi kalau dirinci, kapan kita persiapan bahasa, kapan kita akan test TOEFL, kapan cadangan waktu mengulang kalau tidak sekali lulus, kapan kita akan mulai mengontak calon profesor dan mencari bahan untuk membuat proposal, dan sebagainya, maka semuanya pasti terasa terjangkau. Tapi sekali lagi, kemampuan merinci visi ini memerlukan ilmu yang lebih baik mulai dipelajari sedini mungkin.

4. Mereka percaya bahwa meramal masa depan itu mustahil, tetapi ikut merekayasa masa depan sangat mungkin. Karena itu cara terbaik mengetahui akan seperti apa masa depan kita, adalah aktif terlibat dalam upaya membentuk masa depan yang sesuai visi kita. Dari sini kita melihat bahwa aktivitas dakwah, sekolah, keluarga maupun karier/bisnis harus bermuara di titik yang sama – yaitu masa depan kita yang lebih baik, lebih bermartabat, lebih diridhoi Allah. Kalau untuk membangun sebuah gedung saja kita harus menguasai beberapa jenis ilmu, seperti ilmu bangunan yang didasari matematika atau fisika, juga ilmu manajemen proyek, maka berapa banyak ilmu yang harus kita kuasai untuk membangun sebuah negara ? Ini justru harusnya makin mendorong kita untuk lebih tekun dan lebih serius dalam belajar dan bekerja.

5. Mereka serius memikirkan prioritas amal (fiqih awlawiyat). Ketika amal dirinci pada bagian-bagian kecil, maka akan terlihat lebih jelas, mana amal wajib yang harus didahulukan, dan mana – amalan wajib pula – yang lebih longgar waktunya. Tidak berarti kalau dakwah menjadi aktivitas utama (poros hidup) lantas kewajiban pada keluarga harus selalu diterakhirkan ! Kita jangan berhenti pada yang makro atau besar-besar saja, tetapi memang harus rinci. Mengkaji kitab dalam halaqah adalah kewajiban, menjaga orang tua yang sakit juga kewajiban, ini tidak harus dibenturkan. Masih bisa disiasati, misalnya menjaga orang tua bergantian dengan saudara, atau kalau kondisinya memungkinkan: halaqahnya dilakukan di tempat di mana orang tua dirawat.

6. Sedapat mungkin satu aktivitas bisa disinergikan dengan aktivitas yang lain. Kalau kita ada tugas keluar kota, apa salahnya untuk sekaligus melakukan kontak pada orang yang seperjalanan di dalam bus atau pesawat. Atau jauh sebelum berangkat, kita memberitahu aktivis dakwah di tempat tujuan, bahwa keberadaan kita di sana siap dimanfaatkan untuk dakwah. Demikian juga, kalau kita ada agenda yang tidak jauh dari suatu tempat wisata, sementara anak-anak sedang liburan, bagaimana kita ke tempat yang diagendakan itu sambil membawa anak-anak dan didrop di tempat wisata itu bersama orang yang kita percaya, dan kita akan menyusulnya bila agenda kita selesai. Hal-hal semacam ini memang memerlukan “jam terbang”, sehingga lama-lama jadi habbit.

7. Segala 'infrastruktur' harus diupayakan mendukung target-target itu. Ini mulai dari memilih jenis dan lokasi pekerjaan, memilih lokasi tempat tinggal, memilih teknologi yang akan dipakai di rumah dan tempat aktivitas, bahkan memilih orang yang akan dijadikan pasangan hidupnya. Saya melihat ada aktivis dakwah yang ternyata setiap hari hilang waktu 2 x 2 jam untuk perjalanan pergi pulang ke tempat kerjanya. Dan selama itu dia praktis tidak dapat melakukan hal lain karena harus konsentrasi penuh mengendarai motor. Andaikata dia naik bus, barangkali bisa sambil membaca, menghafal Qur’an dengan mp3, atau sekalian kontak dakwah ke sesama penumpang. Atau barangkali jika dia bisa pindah rumah mendekati tempat kerjanya, mungkin yang 4 jam itu bisa produktif untuk yang lain.

8. Terus mengevaluasi diri dan mengoptimasi diri, sehingga beberapa kesalahan tidak terulang lagi, sedang beberapa pekerjaan yang berulang dan sudah diketahui sistem atau prosedurnya dengan jelas, dapat diotomatisasi atau didelegasikan pada orang yang telah kita kader. Dengan ini makin banyak lagi hal yang dapat kita raih, dan pada saat yang sama, makin banyak orang yang dapat merasakan manfaat kehadiran kita dalam hidupnya.

9. Tidak ada hentinya menyandarkan hasil kepada Allah. Karena meski kita telah mempersiapkan diri sedemikian rupa, Allah-lah yang memberi kesehatan dan kesempatan pada kita. Kalau Allah kehendaki, dapat saja Dia membuat kita sakit atau terkena musibah, sehingga segala rencana kita berantakan semua.

Selamat sukses menjadi mahluk multitarget.

Semangat memperbaiki diri. Semangat menjadi pribadi menginspirasi.

Catatan Singkat

KKN sebagai Wujud Nyata
Peran dan Tanggung Jawab Sosial Mahasiswa
Fajrun Wahidil Muharram
Fakultas Georafi Universitas Gadjah Mada

 Mahasiswa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan orang yang belajar di perguruan tinggi. Pengertian mahasiwa tidak hanya tergolong pada jenjang diploma dan S1, namun juga S2 dan S3. Dengan kata lain, mahasiswa merupakan kaum akademis dengan strata tertinggi yang berbeda dengan golongan di bawahnya yaitu siswa SD, SMP, dan SMA.

Pada dasarnya, hak yang dimiliki oleh mahasiswa adalah belajar. Namun lebih dari itu, adanya Tri Dharma sebagai ruh dari setiap perguruan tinggi yang berupa pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat menjadi hak sekaligus kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap mahasiswa. Hal tersebut menjadikan iklim di perguruan tinggi terasa berbeda. Dunia kemahasiswaan bersifat lebih kompleks dari dunia sekolah dengan jam belajar yang terkesan tidak menentu, kegiatan meneliti yang seakan berkepanjangan dan menyita waktu, serta kegiatan ekstrakulikuler kampus yang membabi buta.


Dengan kondisi demikian, bukan berarti mahasiwa harus mengabaikan dan tidak peka terhadap perubahan yang terjadi di masyarakat. Adanya permasalahan lingkungan baik alam maupun sosial justru menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menunjukkan apa yang selama ini telah dipelajari.

Mahasiswa yang didominasi oleh para pemuda merupakan agent of change (penggerak perubahan). Pemuda identik dengan semangat yang kuat dan tidak mudah menyerah dalam berbagai situasi. Pemuda merupakan pemberi aksi nyata dari setiap ide yang tertuang. Itulah yang membedakan pemuda dengan orang tua. Ada pepatah mengatakan, “Belajarlah keberanian dari pemuda, dan belajarlah kebijaksanaan dari orang tua.” Sehingga apabila dikaitkan dengan statusnya sebagai mahasiswa, pemuda merupakan sosok yang dapat mengantarkan ilmu dan pengetahuan menjadi suatu aksi yang dapat diaplikasikan di masyarakat, tidak sebatas teori yang tersimpan dalam buku.

Pengabdian kepada masyarakat merupakan peran dan tanggung jawab sosial yang dimiliki mahasiswa. Mau atau tidak, mereka tetap harus melakukannya. Bentuk nyata dari pengabdian kepada masyarakat dalam perguruan tinggi bermacam-macam bentuknya maupun pelaksananya. Di tataran rektorat dan kelembangaan kampus, pengabdian masyarakat dapat berupa penyuluhan kepada masyarakat maupun daerah atau pendampingan program-program sosial masyarakat secara kelembagaan. Di kalangan organisasi mahasiswa, pengabdian kepada masyarakat dilakukan dalam bentuk desa binaan dan secamamnya, dimana mahasiswa terlibat dan berinteraksi langsung dengan masyarakat, dengan acara yang dilakukan secara terjadwal.

Bentuk lain dari pengabdian kepada masyarakat adalah Kuliah Kerja Nyata (KKN). Secara konseptual dan pragmatis, KKN memiliki muatan atau nilai yang lebih tinggi daripada bentuk pengabdian lainnya. Di dalam KKN, tercakup tiga unsur Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan yang dilakukan selama kuliah menjadi bekal bagi mahasiswa dalam mengaplikasikan ilmunya di masyarakat, penelitian menjadi instrumen bagi mahasiswa untuk memberikan solusi atas permasalahan yang kerap terjadi di masyarakat, serta pengabdian merupakan bentuk dari pelaksanaan kegiatan tersebut. Ketiga unsur Tri Dharma tersebut menjadi serasi dan memiliki prosi seimbang satu dengan yang lain. Secara kelembagaan, kampus (perguruan tinggi) menjadi payung dari pelaksanaan kegiatan tersebut sedangkan mahasiswa menjadi pelaksana. Kampus memberikan fasilitas baik formal maupun material (pendanaan) sedangkan mahasiswa memberikan curahan tenaga dan pikiran.

Menurut sejarahnya, KKN dimulai pada masa Agresi Militer Belanda dimana sekolah-sekolah mulai kehilangan guru. Sehingga, kebijakan perguruan tinggi dalam hal ini UGM sebagai pelopor KKN mewajibkan mahasiswanya untuk mengabdi dengan turun langsung mengajar sekolah-sekolah tanpa guru tersebut. Seiring waktu, kegiatan KKN dirasa bermanfaat sekalipun Agresi Militer Belanda telah usai. Oleh karena itu, KKN terus dilaksanakan dan program di dalamnya menjadi lebih kompleks tidak hanya sekedar mengajar, melainkan membantu masyarakat mengatasi permasalahan yang selama ini terjadi dan dapat dipecahkan dengan ilmu yang didapat mahasiswa selama kuliah. Kemudian, KKN menjadi program yang menjamur di perguruan tinggi-perguruan tinggi di Indonesia.

Pengalaman pribadi penulis tentang KKN juga cukup berkesan. Pada Juli-Agustus 2013 lalu, penulis melakukan kegiatan KKN di wilayah timur Indonesia, yaitu Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Pemilihan lokasi tersebut didasari oleh salah satu tujuan KKN yaitu pemberdayakan masyarakat. Raja Ampat sebagai kabupaten baru hasil pemekaran dengan potensi alam yang tinggi dirasa perlu dilakukan pemberdayaan agar masyarakatnya siap bersaing dengan daerah lain di Indonesia. Lokasi KKN tersebut tepatnya berada di Pulau Jefman, satu dari sekian banyak pulau di Raja Ampat yang paling dekat dari kota Sorong, dengan waktu tempuh perjalanan sekitar satu jam menggunakan perahu (long boat).

Pulau Jefman memiliki bandara aktif yang menghubungkan Kota Sorong dengan daerah lain di Indonesia sebelum terjadi pemekaran Kabupaten Raja Ampat. Pada saat itu, menurut cerita tokoh setempat, masyarakat sekitar hidup berkecukupan. Karena hasil laut mereka dapat dijual langsung di dermaga sekitar bandara maupun dikirim ke Kota Sorong. Namun setelah Kabupaten Raja Ampat terbentuk, Kota Sorong membuat bandara baru di wilayahnya sedangkan Kabupaten Raja Ampat juga membuat bandara baru di lokasi yang lebih dekat dengan ibukota. Sehingga, bandara lama dinonaktifkan dan Pulau Jefman perlahan mulai ditinggalkan. Kondisi ini merupakan fenomena unik yang memiliki potensi masalah dan jika dibiarkan akan menjadi semakin besar.

Sejak pemindahan bandara tersebut, beberapa masyarakat di Pulau Jefman terpaksa harus menjari mata pencaharian baru. Beberapa dari mereka berusaha tetap pada pekerjaan lama dengan konsekuensi tersendiri. Seperti contoh, salah seorang pegawai bandara memilih melanjutkan profesi sebelumnya sehingga setiap hari harus menyeberang untuk bekerja di siang hari dan kembali di malam hari. Sehingga biaya yang harus dikeluarkan semakin besar, terlebih jika cuaca tidak memungkinkan. Masyarakat lain yang awalnya memiliki profesi jasa penyeberangan terpaksa harus menjadi nelayan, padahal keahilan menangkap ikan tidak sepenuhnya mereka kuasai.

Dari kenyataan tersebut, penulis beserta rekan satu timnya mencoba mengindentifikasi segala permasalahan yang ada di pulau tersebut dan juga potensi-potensi yang dapat dimanfaatkan. Kemudian dengan pemahaman ilmu yang didapat selama kuliah dan pertimbangan dari masyarakat sekitar, dibuat beberapa solusi dan dijadikan sebagai program KKN. Program-program tersebut antara lain penyuluhan tentang pelestarian ikan, perikanan tangkap, dan perikanan budidaya, pemanfaatan buah mangrove sebagai makanan, pertanian palawija, pembenahan sistem tata pemerintahan desa, pengeloaan sampah, kerajinan kreatif, dan lain sebagainya. Program seperti penyuluhan tentang pelestarian ikan dilaksanakan dengan mengundang Kepala Dinas Perikanan setempat dan salah satu tokoh lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang konservasi yaitu CI (Conservation International) sebagai pembicara. Hal tersebut dapat dilakukan karena mahasiswa memiliki keterampilan yang sebelumnya sudah dipelajari di kampus.

Penulis merasakan kegiatan KKN yang dilaksanakan selama dua bulan tersebut membawa banyak manfaat baik bagi penulis sendiri maupun bagi masyarakat di Pulau Jefman secara umum. Hal tersebut dibuktikan dengan diterimanya laporan pertanggungjawabaan tim KKN di depan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) setempat yang sempat dihadiri langsung oleh wakil bupati dan dosen pembimbing KKN. Lebih dari itu, pihak pemerintah setempat berharap kegiatan serupa dapat kembali dilakukan dan lebih ditingkatkan lagi untuk tahun-tahun berikutnya. Terbukti, menurut informasi yang penulis terima, jumlah unit KKN pada kesempatan mendatang di Kabupaten Raja Ampat meningkat dari 3 unit pada 2013 menjadi 7 unit pada 2014, mengingat masih banyak bagian dari kabupaten tersebut yang perlu dilakukan kegiatan serupa.

Jika diperhatikan lebih jauh, kegiatan KKN memberi dampak berganda dan berlipat. Bagi mahasiswa, KKN memberikan kesempatan untuk mengetahui dunia luar secara langsung dan menjadi pemicu sebelum mereka benar-benar terjun ke masyarakat. Bagi kampus (perguruan tinggi), KKN merupakan suatu langkah atau program nyata dari visi pengabdian kepada masyarakat yang terkandung dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dan bagi masyarakat, termasuk pemerintah daerah, KKN memberikan kesempatan berharga untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas kerja yang ilmunya didapat secara langsung dari perguruan tinggi dengan harapan kualitas hidup dapat meningkat.

See You on Top!

Rabu, 25 Desember 2013, tepat di hari Natal, aku pulang ke madura. Ini bukan pulang yang biasa, karena kakakku akan melangsungkan pernikahannya di tanggal 27-nya. Namun bukan itu yang ingin aku ceritakan.


Sejak dari Jogja sampai akan kembali ke Jogja. Aku seperti mengalami kilas balik ke diriku di masa lalu, tepatnya ketika masih SMA. Semua seakan terulang dan terbayang di kepala, juga terasa di dada. 



Dan semua itu menjadikanku mengingat kalian, Genetika. Keluarga keduaku, yang sempat menenami dalam satu ruang dan waktu tiga tahun lamanya. Aku juga tak paham mengapa perasaan itu membawaku pada masa lalu. Tapi aku rindu kalian, aku rindu akan diriku yang tidak tahu apa-apa kemudian menjadi pribadi yang lebih dewasa dengan mengenal kalian. Kalian berwarna-warni. Dan warna-warni itulah yang membuatku mudah mengurai pelangi. 


Sudah tiga setengah tahun kita memilih jalan masing-masing. Lebih lama dari kita bersama dulu. Di sini aku memiliki teman dekat. Namun itu belum dapat dibandingkan dengan kedekatan yang pernah kita buat. Mereka, teman dekatku di sini, hanya beberapa. Sedangkan kita, bertiga puluh dua. Lingkaran kita lebih besar, sehingga energi kita juga lebih besar. 


Tak berpengaruh sekarang jarak memisahkan. Lingkaran itu tidak hilang, namun melebar. Aku yakin, di sana, di tempat masing-masing, kita tengah menebar kebaikan pada sekeliling kita, pada lingkungan, juga pada orang-orang di dekat kita.



Sebenarnya aku ingin cerita banyak pada kalian, dalam satu tempat yang sama. Kita kumpul untuk kembali saling mengisi semangat. Karena aku sudah dua kali bolos pertemuan tahunan kita, yang selalu dilakukan setiap ramadhan. Pertama dulu aku sedang jalan-jalan ke negeri orang. Kedua kemarin aku sedang KKN di Indonesia timur. Sering memang liburku atau lebih tepatnya waktu untuk aku pulang tidak sama dengan kebanyakan kalian. Jadi aku tak bisa mengunjungi kalian semua. Hanya tiga orang yang kemarin sempat ku kunjungi.


Foto Bersama (Genetika) dengan Mempelai Asrul dan Reta


Sekarang, satu dari kita sudah menggenapkan separuh agamanya. Dialah Asrul. Dia yang memukul gong pertama. Aku yakin, semua dari kita punya tujuan sama. Punya keluarga impian masing-masing. Nanti kau akan kami ikuti, Srul. Jangan kuatir. Beberapa dari kita juga sudah bisa mandiri secara keuangan dari orang tuanya. Ada yang sudah bekerja tetap. Ada juga dengan penghasilan wirausahanya.



Aku bangga pada kalian. Kalian manusia super. Aku tidak menyesal pernah bersama. Mungkin dulu jika ibu Dimas tidak tegas bertanya padaku apakah ingin ikut tes PSUB atau tidak dan juga mas Acul tidak mendesakku untuk ikut tes itu, cerita akan berbeda. Mungkin sekarang aku tidak akan di Jogja, atau di UGM sini. 



Sekolah kita semacam jadi batu loncatan bagiku, dari suatu sekolah di desa terpencil sampai ke salah satu kampus paling top negeri ini. Dan kalian adalah pendorong loncatanku. Apalah arti batu loncatan jika tidak bisa meloncat, atau meloncat tapi tak sampai. Tapi, Alhamdulillah, Allahu Akbar, aku mendapatkan keduanya.



Aku ingin, suatu saat nanti, kita dapat berkumpul kembali, dengan keluarga impian masing-masing, dengan impian yang sudah teraih masing-masing. Kita melingkar lagi dengan energi yang lebih dahsyat. Tujuanku cuma satu, apa yang kita pernah nikmati dapat dinikmati pula oleh orang-orang setelah kita. 



Mungkin kedengarannya terlihat aneh, kalau sekarang aku ucap "Songsong Senom II". Kalian tahu apa Songsong Senom? Itu yayasan yang dulu menjadi donatur berdirinya kelas unggulan di sekolah kita, dan kemudian sempat mati. Aku ingin itu kembali berdiri dengan kita yang mengawali. Pernah aku ucap itu di kumpul pertama kita pasca lulus SMA dulu. Mungkin ada dari kalian yang ingat namun tak menghiraukannya, mungkin juga kalian tak ingat sama sekali. Tapi dari dulu aku yakin, itu pasti bisa diwujudkan dan menjadi kenyataan. Keyakinan itu ada karena kalian ada, itu saja, sederhana.



Sering aku berkata pada kalian, "See you on Top!". Itu sebagai pengigat dan pemicu semangat agar kita dapat terus keep on track in our struggle. Juga sebagai jargon baru di tengah lingkaran yang terus melebar ini. Sampai lingkaran itu nanti kembali mengecil karena kita perlahan telah mendekati dan mencapai puncak itu.



"So, See You on Top!"

Sebenarnya Tugasku Masih Banyak, Bukan Cuma untuk Diriku, Tapi juga Untuk Mereka

Senin pagi, 3 Juni 2013, minggu tenang hari pertama di semester 6. Temanku bercerita tentang film seMESTA menduKUNG >> MESTAKUNG. Film yang bercerita tentang perjuangan anak Madura mengikuti Olimpiade Fisika Internasional sekaligus mencari ibunya di Singapura.


Aku minta saja filmnya pada temanku itu. Sudah lama aku ingin menontonnya tapi belum kesampean. Dulu karena ga ada teman waktu baru launching. Terus nunggu bajakannya belum juga datang. Dan tadi pagi kesempatan emas mendapatkan film itu.



Sebenarnya tugasku masih banyak, bukan cuma untuk diriku, tapi juga untuk mereka. Iya, itu sebenarnya yang ingin aku ceritakan.


Di film itu, Arif bertemu orang Madura penjual ketoprak di Jakarta, ketika ia mengikuti pembinaan pra olimpiade internasional. Ternyata masih seperti dulu, tidak semua orang Madura merantau dengan cara yang lebih baik. Intinya, sama saja dengan usahanya di rumah, namun dengan ladang jual yang lebih baik.


Sehabis nonton, aku niatkan untuk beli sate. Memang lapar sih, dan juga udah lama ga makan sate. Seperti biasa, setiap malam ada penjual sate yang keliling sekitar kos. Aku ingin merasakan seperti yang di film Mestakung barusan.



Aku samperin tukang sate di dekat gardu ronda, aku pesan satu porsi sambil ajak ngomong. Ternyata dia berasal dari satu kecamatan denganku di rumah. Hanya saja, tujuan kami ke sini mungkin beda. Aku menuntut ilmu, dan ia mencari nafkah.



Ternyata, mereka (para penjual sate) masih menggunakan cara sama untuk mengais rezeki Allah. Merantau ke Jogja hanya sebuah peluang yang mereka pikir akan lebih meningkatkan pendapatan. Tanpa berpikir bagaimana meningkatkan cara kerja mereka agar lebih baik.



Aku tak menyalahkan mereka, sepenuhnya aku tak menyalahkan mereka. Mungkin mereka berada dalam ketidaktahuan untuk berubah, mungkin juga karena ketidakberdayaan untuk merubahnya. Jadi mereka pikir tempat yang lebih ramailah yang dapat membuat mereka bertambah pengahasilan, bukan peningkatan cara kerja.



Aku termenung...

Inilah tugasku. Tugas seorang penuntut ilmu. Tugas seorang kaum terpelajar. 
Apa hasilnya aku sekolah tinggi-tinggi kalau untuk tetangga saja aku tidak bisa bermanfaat.
Tugaskulah untuk membantu kehidupan mereka menjadi lebih baik. 


"Sebenarnya Tugasku Masih Banyak, Bukan Cuma untuk Diriku, Tapi juga Untuk Mereka"



Masih banyak orang Madura yang merantau keluar, karena berpikir di pulau sendiri penghasilan tak akan dapat menunjang hidup. Tapi, apakah dengan merantau itu bisa teratasi. Itulah tugasku menyelesaikannya.



Aku harap, suatu saat aku bisa mengajak mereka semua pulang.

"Ayo, sekarang kita punya lapangan pekerjaan sendiri yang lebih baik."
Dan hanya kuijinkan mereka merantau dengan menjadi tenaga-tenaga ahli, karena memang dibutuhkan.
Bukan lagi seperti sekarang.
Insya Allah, biarkan saya berusaha.

Mereka Bertanya Kenapa Sekarang Aku Jarang Kelihatan

Sejak liburan semester 5 kemarin, aku memang jarang kelihatan di kampus.
Tepatnya setelah menyelesaikan amanah sebagai presiden kelompok studi fakultas Geography Study Club.

Menjelang liburan, mungkin dapat dibilang aku berada di kampus mulai jam 7 pagi sampai 11 malam. Untuk urusan kuliah, praktikum, organisasi, dan persiapan konferensi ke Jepang waktu itu. Jadi teman-teman sering melihatku hampir di setiap waktu.

Sekarang aku memang jarang kelihatan di kampus. Sebenarnya aku tidak kemana-mana. Pernah ada yang bertanya, kenapa sekarang kamu jarang kelihatan? Itu karena aku sedang memperbaiki pondasi. Pondasi apa? pondasi hidup.

Banyak hal yang dapat aku jadikan pelajaran selama liburan semester kemarin, terutama saat di Jepang. Juga saat di rumah sepulang dari Jepang. Dan di Jogja menjelang masuk semester 6. "Kenapa aku begitu banyak meluangkan waktu untuk target-target kecil dalam hidupku. Sementara target-target yang lebih besar sering ku lewati, atau ku tangguhkan". Nah, kira-kira begitu kalimatnya.

Sudah tahun ketiga, sudah saatnya kembali mengurus diri sendiri. Maksudku kembali berfokus pada diri sendiri. Banyak yang harus dibenahi. Sudah saatnya berpikir apa yang akan aku lakukan setelah ini, setelah S1 selesai. Apa yang harus aku persiapkan untuk menyelesaikan S1. Apa yang bisa aku bawa setelah selesai S1. Dan hal apa yang dapat memberikan kebaikan padaku selama S1 ini untuk hidupku keseluruhan. Itulah yang aku pikirkan akhir-akhir ini.

Aku merasa baik-baik aja, bahkan sepertinya ini waktu-waktu terbaik selama aku di Jogja, insya Allah.