Ketika Semua Terasa Begitu Berat

Ya Allah, kenapa semuanya terasa berat?


PadaMu Rabbi, aku bertengadah.

Mengangkat dua telapak tangan..


Aku bagaikan jiwa kosong yang berlari.

Tak tahu kemana, tak tahu pula untuk apa.
Semakin ku pikir, tujuan semakin baur, tak berujung.


Entah, mungkin aku banyak salah.

Salah padaMu, Tuhanku. Salah pada sesamaku.
Ku ingkari nikmatMu, nikmat yang telah Kau janjikan pasti datang.
Nikmat yang sempat Kau berikan. Aku buang rasa syukurku.

Ya Allah, hati ini terlalu sombong.
Terlalu menganggap segalanya mudah, segalanya bisa dilakukan.
Padahal Engkaulah yang melakukan, Engkaulah yang ada di balik semua ketercapaianku.

Tapi aku yang mengakuinya, bukan malah aku bersyukur.

Sungguh jika Engkau tidak Maha Pengampun, maka celakalah aku.



Ya Allah, aku tahu ini ujian.

Sebab Kau takkan menaikkan derajatku hanya dengan karunia.
Kau uji diriku, bisakah aku mensyukurinya atau justru kufur.
Dan kelihatan semua sekarang, aku lebih mengkufurinya.
Ya Allah, terasa sekali... Sakit, pahit, sepi, semua cepat datang cepat hilang.
Benar memang, sakitnya terjatuh lebih parah ketimbang tak pernah naik.


Ya Allah, aku ingin berubah.

Aku ingin memperbaikin diri.
Cukuplah kesombongan ini menjadi pelajaran bagiku.
Bahwa segala takdir itu adalah ketentuanMu.
Sesuatu akan terjadi atau tidak itu kuasaMu.
Semudah dan sesulit apapun itu.
Ya Allah, jangan Kau tepikan aku lagi dari rahmatMu.


Cukuplah ya Allah diri ini dalam kesesatan yang benderang, benderang semu.

Dalam kemaksiatan yang tak pernah kau ijinkan hambaMu mendekatinya.
Kemaksiatan mata, hati, mulut, telinga, hidung, tangan, kaki, dan lainnya.
Cukuplah aku dalam kesombongan yang membuat aku tenggelam perlahan.
Ya Allah, aku sadar aku punya Engkau yang akan melepasku dari segala cobaan.
Tapi jika aku tak menjemput, tak pernah Kau akan datang.
Sesuai dengan apa yang telah Engkau firmankan.
Ya Allah, ijinkan aku kembali. Mudahkanlah, Aamiin...

Mereka Bertanya Kenapa Sekarang Aku Jarang Kelihatan

Sejak liburan semester 5 kemarin, aku memang jarang kelihatan di kampus.
Tepatnya setelah menyelesaikan amanah sebagai presiden kelompok studi fakultas Geography Study Club.

Menjelang liburan, mungkin dapat dibilang aku berada di kampus mulai jam 7 pagi sampai 11 malam. Untuk urusan kuliah, praktikum, organisasi, dan persiapan konferensi ke Jepang waktu itu. Jadi teman-teman sering melihatku hampir di setiap waktu.

Sekarang aku memang jarang kelihatan di kampus. Sebenarnya aku tidak kemana-mana. Pernah ada yang bertanya, kenapa sekarang kamu jarang kelihatan? Itu karena aku sedang memperbaiki pondasi. Pondasi apa? pondasi hidup.

Banyak hal yang dapat aku jadikan pelajaran selama liburan semester kemarin, terutama saat di Jepang. Juga saat di rumah sepulang dari Jepang. Dan di Jogja menjelang masuk semester 6. "Kenapa aku begitu banyak meluangkan waktu untuk target-target kecil dalam hidupku. Sementara target-target yang lebih besar sering ku lewati, atau ku tangguhkan". Nah, kira-kira begitu kalimatnya.

Sudah tahun ketiga, sudah saatnya kembali mengurus diri sendiri. Maksudku kembali berfokus pada diri sendiri. Banyak yang harus dibenahi. Sudah saatnya berpikir apa yang akan aku lakukan setelah ini, setelah S1 selesai. Apa yang harus aku persiapkan untuk menyelesaikan S1. Apa yang bisa aku bawa setelah selesai S1. Dan hal apa yang dapat memberikan kebaikan padaku selama S1 ini untuk hidupku keseluruhan. Itulah yang aku pikirkan akhir-akhir ini.

Aku merasa baik-baik aja, bahkan sepertinya ini waktu-waktu terbaik selama aku di Jogja, insya Allah.

Indahnya Kisah Hukum Di Jaman Umar





Umar sedang duduk beralas surban di bebayang pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Sahabat di sekelilingnya bersyuraa bahas aneka soal. Tiga orang muda datang menghadap; 2 bersaudara berwajah marah yang mengapit pemuda lusuh nan tertunduk dalam belengguan mereka.



“Tegakkan keadilan untuk kami hai Amiral Mukminin”, ujar seorang, “Qishash-lah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatannya!”


Umar bangkit. “Bertaqwalah pada Allah”, serunya pada semua. “Benarkah engkau membunuh ayah mereka wahai anak muda?”, selidiknya.



Pemuda itu menunduk sesal. “Benar wahai Amiral Mukminin!”, jawabnya ksatria. “Ceritakanlah pada kami kejadiannya!”, tukas Umar.



“Aku datang dari pedalaman yang jauh”, ungkapnya, “Kaumku mempercayakan berbagi urusan muamalah untuk kuseslesaikan di kota ini.”



“Saat sampai”, lanjutnya, “Kutambatkan untaku di satu tunggul kurma, lalu kutinggalkan ia. Begitu kembali, aku terkejut & terpana”



“Tampak olehku seorang lelaki tua sedang menyembelih untaku di lahan kebunnya yang tampak rusak terinjak & ragas-rigis tanamannya”



“Sungguh aku sangat marah & dengan murka kucabut pedang hingga terbunuhlah si bapak itu. Dialah rupanya ayah kedua saudaraku ini.”



“Wahai Amiral Mukminin”, ujar seorang penggugat, “Kau telah dengar pengakuannya, dan kami bisa hadirkan banyak saksi untuk itu.”



“Tegakkanlah had Allah atasnya!”, timpal nan lain. Umar galau & bimbang setelah mendengar lebih jauh kisah pemuda terdakwa itu.



“Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih & baik”, ujar ‘Umar, “Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat”



“Izinkan aku”, ujar Umar, “Meminta kalian berdua untuk memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan Diyat atas kematian ayahmu.”



“Maaf hai Amiral Mukminin”, potong kedua pemuda dengan mata masih nyala memerah; sedih & marah, “Kami sangat sayangi ayah kami.”



“Bahkan andai harta sepenuh bumi dikumpulkan tuk buat kami kaya”, ujar salah satu, “Hati kami hanya kan ridha jiwa dibalas jiwa!”



Umar yang tumbuh simpati pada terdakwa yang dinilainya amanah, jujur, & bertanggungjawab; tetap kehabisan akal yakinkan penggugat



“Wahai Amiral Mukminin”, ujar pemuda tergugat itu dengan anggun & gagah, “Tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah Qishash atasku.”



“Aku ridha pada ketentuan Allah”, lanjutnya, “Hanya saja izinkan aku menunaikan semua amanah & kewajiban yang tertanggung ini.”



“Apa maksudmu?”, tanya hadirin. “Urusan muamalah kaumku”, ujar pemuda itu, “Berilah aku tangguh 3 hari untuk selesaikan semua.”



“Aku berjanji dengan nama Allah yang menetapkan Qishash dalam Al Quran, aku kan kembali 3 hari dari sekarang tuk serahkan jiwaku”



“Mana bisa begitu!”, teriak penggugat. “Nak”, ujar ‘Umar, “Tak punyakah kau kerabat & kenalan yang bisa kau limpahi urusan ini?”



“Sayangnya tidak hai Amiral Mukminin. Dan bagaimana pendapatmu jika kematianku masih menanggung hutang & tanggungan amanah lain?”



“Baik”, sahut ‘Umar, “Aku memberimu tangguh 3 hari; tapi harus ada seseorang yang menjaminmu bahwa kau tepat janji tuk kembali.”



“Aku tak memiliki seorangpun. Hanya Allah, hanya Allah, yang jadi penjaminku wahai orang-orang yang beriman padaNya”, rajuknya.



“Harus orang yang menjaminnya!”, ujar penggugat, “Andai pemuda ini ingkar janji, dia yang kan gantikan tempatnya tuk di-Qishash!”



“Jadikan aku penjaminnya hai Amiral Mukminin!”, sebuah suara berat & berwibawa menyeruak dari arah hadirin. Itu Salman Al Farisi.



“Salman?”, hardik Umar, “Demi Allah engkau belum mengenalnya! Demi Allah jangan main-main dengan urusan ini! Cabut kesediaanmu!”



“Pengenalanku padanya tak beda dengan pengenalanmu ya Umar”, ujar Salman, “Aku percaya padanya sebagaimana engkau mempercayainya”



Dengan berat hati, Umar melepas pemuda itu & menerima penjaminan yang dilakukan oleh Salman baginya. Tiga hari berlalu sudah.



Detik-detik menjelang eksekusi begitu menegangkan. Pemuda itu belum muncul. Umar gelisah mondar-mandir. Penggugat mendecak kecewa. Semua hadirin sangat khawatirkan Salman. Sahabat perantau negeri-pengembara iman itu mulia & tercinta di hati Rasul & sahabatnya.Mentari di hari batas nyaris terbenam; Salman dengan tentang & tawakkal melangtkah siap ke tempat Qishash. Isak pilu tertahan.Tetapi sesosok bayang berlari terengah dalam temaram, terseok terjerembab lalu bangkit & nyaris merangkak. “Itu dia!”, pekik Umar



Pemuda itu dengan tubuh berkuah peluh & nafas putus-putus ambruk ke pangkuan Umar. “Maafkan aku!”, ujarnya. “Hampir terlambat.”



“Urusan kaumku makan waktu. Kupacu tungganganku tanpa henti hingga ia sekarat di gurun & terpaksa kutinggalkan, lalu kuberlari..”



“Demi Allah”, ujar Umar sambil menenangkan & meminumi, “Bukankah engkau bisa lari dari hukuman ini? Mengapa susah payah kembali?”



“Supaya jangan sampai ada yang katakan”, ujar terdakwa itu dalam senyum, “Di kalangan muslimin tak ada lagi ksatria tepat janji.”



“Lalu kau hai Salman”, ujar Umar berkaca-kaca, “Mengapa mau-maunya kau jadi penjamin seseorang yang tak kau kenal sama-sekali?”



“Agar jangan sampai dikatakan”, jawab Salman teguh, “Di kalangan muslimin tak ada lagi saling percaya & menanggung beban saudara”



“Allahu Akbar!”, pekik 2 pemuda penggugat sambil memeluk terdakwanya, “Allah & kaum muslimin jadi saksi bahwa kami memaafkannya”



“Kalian”, kata Umar makin haru, “Apa maksudnya? Jadi kalian memaafkannya? Jadi dia tak jadi di-Qishash? Allahu Akbar! Mengapa?”



“Agar jangan ada yang merasa”, sahut keduanya masih terisak, “Di kalangan kaum muslimin tak ada lagi kemaafan & kasih sayang.”




-----
Diambil dari http://dazzdays.wordpress.com/2013/01/19/indahnya-kisah-hukum-di-jaman-umar/

Indonesia, From Laboratory to Industry and Community

Many scientists including young scientists (students) in Indonesia whose works stopped only in the laboratories and scientific journals. This happens because of discrepancies between educational and research agencies with industrial agencies and other stakeholders. So the follow-up of research results can not continue. And this situation happens continuously and is considered as natural condition in the community, but in fact there is something wrong. 

On the other hand, the Indonesian people are not fully aware of the conditions around and development of technology comprehensively. Businesses that they do often less productive because of competition. Thus creating the traditional markets and the modern markets. In fact, if they keep up with technology, of course what they trade in will up-to-date and increases their income. These facts become a barrier of society prosperity rising in Indonesia. 

I studied at the Universitas Gadjah Mada, in the fields of geography, especially in spatial analysis. In addition, i also joined the student activity unit in field of research called study club. I joined in two study clubs, one at the faculty level and the other at the university level. I joined both with aim to improve my research skill, because students is demanded more in this expertise. Many things i got from here. A year after joining, i was appointed as a president of the faculty study club. Some leadership experience that i have ever got was became a team leader of the scientific ideas paper about disaster victims evacuation strategy which was presented at the National Student Scientific Week in Makassar, 2011. And now the idea is being developed in my department. For another experience, i had the opportunity to be a speaker at the National Seminar themed “Tata Ruang Berbasis Bencana” in Yogyakarta, 2011. In November 2012, i was appointed as a responsible person of National Event named “Geo-environment Scholars Championship” for third year undergraduate students and graduated students. I also became a pioneer of research-based guided village in collaboration between some study clubs in the university. We have managed developing of biogas for daily household, increasing the quality of the rice planting, mapping the regional potential, and constructing a library for learning place.

I did these things as a form of concern to the community. Because students have a strategic role in integrating research and dedication, according to “Tri Dharma Perguruan Tinggi”. Students can directly apply the knowledge gained in the campus to the community. Their expertise also can be improved by means of research, especially interdisciplinary research. After I spend a lot of time to improving research and dedication in the faculty and the university, it is time i go on to the national level. Hopefully, with this decision, I can increase my experiences and networks. Then there will be more people that I can serve.

#Written as a requirement of YLI 2013. Wish Allah give best, i am approved. Aamiin..

10 Ciri Khas Pribadi Muslim

Setiap orang memiliki standar hidup masing-masing. Standar yang ia tetapkan untuk dirinya sendiri. Yang berasal dari kesimpulan-kesimpulan perjalanan hidupnya maupun dari lingkungannya. Lingkungan adat, lingkungan masyarakat, bahkan lingkungan agama.
Setiap agama memiliki standar yang harus dimiliki oleh pemeluk-pemeluknya. Islam adalah agama yang meliputi seluruh aspek dalam kehidupan. Berbagai tata cara hidup diatur di dalamnya. 

Dan berikut adalah 10 pribadi yang diinginkan islam untuk dimiliki oleh setiap pemeluknya.


1. Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih). Salimul aqidah merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT. Dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuanNya.

2. Shahihul Ibadah (ibadah yang benar). Shahihul ibadah merupakan salah satu perintah Rasulullah SAW yang penting. Dalam satu haditsnya, beliau bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana melihat aku shalat”. Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul SAW yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

3. Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh). Matinul khuluq merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah SWT maupun dengan makhluk-makhlukNya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat.

4. Qowiyyul Jismi (kekuatan jasmani). Qowiyyul jismi merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat dan kuat. Apalagi berjihad di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.

5. Mutsaqqoful Fikri (intelek dalam berfikir). Mutsaqqoful fikri merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang juga penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas).

6. Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu). Mujahadatul linafsihi merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan.

7. Harishun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu). Harishun ala waqtihimerupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT banyak bersumpah di dalam Al Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan seterusnya.

8. Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan). Munazhzhaman fi syuunihi termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya.

9. Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri/mandiri). Qodirun alal kasbi merupakan ciri lain yang harus ada pada diri seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi.

10. Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain). Nafi’un lighoirihimerupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaan. Jangan sampai keberadaan seorang muslim tidak menggenapkan dan ketiadaannya tidak mengganjilkan.

--------------
Dikutip dari: http://blog.sikathabis.com/?page_id=431

Spirit Indonesia Vs Spirit Jepang

Semangat Bushido?
Spirit Jepang kadang diidentikkan dengan semangat bushido, semangat militer Jepang. Samurai yang dilengkapi dengan pedang alias katana panjang yang sangat disiplin, akurat dan berdarah dingin. Banyak yang percaya keberhasilan ekonomi dan perubahaan sosial budaya di zaman Meiji dikarenakan spirit ini. Spirit yang mengubah kehidupan Jepang secara drastis menjadi sebuah negara super moderen dan mumpuni di bidang teknologi.

Masih banyak orang percaya spirit ini terjaga dengan baik dalam kehidupan masyarakat Jepang hingga saat ini. Maka tidak heran, meski kondisi ekonomi Jepang tidak sebaik pada masa tahun ’90-an, tetapi semangat Jepang dalam membangun negaranya masih cukup terasa. Saya akan mengambil beberapa contoh pembangunan fisik di kota megapolitan Tokyo, di mana saya tinggal saat ini. Jangan bandingkan dengan Jakarta yang baru saja “pingsan” karena banjir besar, Tokyo yang sudah dianggap super canggih itu masih saja membangun dan terus membangun.


Pertama, dengan melihat menara Tokyo Sky Tree. Menara ini didirikan dengan semangat inovasi dan teknologi tinggi serta ramah lingkungan dirancang selama hampir 4 tahun dengan detail yang luar biasa. Gedung menara tertinggi Jepang dan dunia ini menjadi bukti dari semangat antara budaya kuno dan multi moderennya. Dirancang selama beberapa tahun dan dibangun pada saat terjadi gempa besar melanda Jepang di tahun 2011. Namun, jadwal jadi menara ini ternyata dua bulan lebih cepat dari jadwal semua. Konsep pembangunan menara ini pun diperhitungkan ala Jepang, matang, akurat dan detail. Konsep yang terintegrasi yang sangat mengedepankan lingkungan (menggunakan daya sumber geotermal), menggunakan dasar dan konsep arsitek tradisional Jepang dan mengembalikan konsep kejayaan “kota lama” di Tokyo. Mempelajari lebih jauh Tokyo Sky Tree, seakan-akan kita akan menemukan semangat bushido yang ditanamkan di dalamnya.

Kedua dengan melihat teknologi kereta api Jepang. Kereta api Jepang yang merupakan moda transportasi utama Jepang merupakan modal dan denyut nadi kehidupan negara dan bangsa Jepang. Oleh karena itu pembangunan infrastruktur stasiun kereta api mutlak diperlukan dan dibutuhkan. Shinkansen yang merupakan kereta api cepat Jepang telah menjadikan bukti negara ini adalah negara luar biasa. Hayabusa salah satu kereta terbaru Jepang akan disusul jenis-jenis kereta api lainnya. Stasiun Tokyo, yang merupakan stasiun pusat kota Tokyo juga menjadi salah satu sentral perkereta apian di Tokyo juga telah berhasil direnovasi selama kurang lebih empat tahun. Rancang bangunan utama Stasiun Tokyo dikembalikan dengan rancang bangunnya yang asli pada tahun 1914. Hotel Tokyo Stasiun pun kembali direnovasi persis semula bangunan pada tahun 1914 dengan mengumpulkan data dan catatan asli memori para insinyur yang terlibat pada saat itu. Pada tahun 2012 yang lalu gedung ini kembali dibuka dan menjadi bukti “kesaktian” semangat bushido. Pada tahun ini salah satu stasiun utama yang identik dengan si anjing legendaris Jepang, Hachiko juga akan direnovasi besar-besaran dan sudah siap untuk digunakan pada bulan April mendatang.

Melihat pembangunan-pembangunan inovatif dan canggih Jepang ini seakan kita tidak melihat kemunduran ekonomi Jepang. Jepang dipercayai tetap tumbuh karena semangat bushido-nya yang telah tertanam selama berabad-abad.

Padahal kenyataannya kedigdayaan Jepang di bidang ekonomi mulai melemah. Posisinya telah digeser oleh negara tirai bambu, Cina. Dari sisi politik, krisis kepimpinan di negara ini terlihat nyata. Bayangkan di Amerika Serikat dalam masa 5 tahun ini memiliki presiden yang sama, sementara negara Matahari Terbit ini terpaksa memiliki hampir 5 perdana menteri. Meski sistem masih stabil, namun tak pelak lagi sudah mulai politik Jepang mengalami krisis, ditambah dengan generasi muda yang begitu apatis terhadap politik negara ini. Di bidang pendidikan juga terasa mulai tidak semantap dekade sebelumnya. Sebagai catatan, di sekolah negeri Tokyo tiga tahun yang lalu Sabtu merupakan hari libur. Semenjak dua tahun yang lalu, sekolah juga diselenggarakan pada hari Sabtu, meski setengah hari. Dua tahun lalu hanya sebulan sekali dan saat ini dilaksanakan sebulan selama dua kali hari Sabtu, yang konon nanti setiap hari Sabtu pelajar Jepang akan masuk sekolah. Konon, salah satu alasan mengapa hari Sabtu masuk sekolah ini karena ditengarai spirit atau semangat anak-anak Jepang (termasuk kemampuan akademis) yang mulai mengendur.

Saya suka sekali mengamati semangat anak-anak muda Jepang. Mereka memang dididik untuk disiplin di sekolah. Sistem pendidikan Jepang telah merancangnya (menjadi sedimikian) sistematis. Acara lomba olah raga yang, undokai atau festival olah raga di setiap sekolah selalu diselenggarakan setiap tahun dan menjadi satu kegiatan wajib dalam penyelenggaraan pendidikan di Jepang. Latihan yang keras dan disiplin menjadi satu harapan besar dengan acara ini. Belum lagi dengan acara gakugekai atau acara pesta seni selain pameran hasil karya pelajar di sekolah-sekolah negeri yang melibatkan siswa dan guru secara total. Di tingkat perguruan tinggi pertandingan bisbol antar perguruan tinggi serta festival atau matsuri juga menjadi suntikan semangat kebersamaan antar mahasiswa yang didukung oleh seluruh jajaran universitas (sebagai contoh di universitas saya, Keio University, kegiatan ajar mengajar diliburkan pada saat pertandingan bisbol penting atau kegiatan festival budaya (matsuri)).

Semangat disiplin, kebersamaan dan kerja yang tekun memang telah ditanamkaan (dan masih cukup kuat) dan menjadi ciri khas negeri sakura ini. Jadi, terus terang saya pun juga punya keyakinan meski secara kuantitas, jumlah generasi muda merosot drastis dalam dekade terakhir ini di Jepang, tapi dengan semangat kuno bushido Jepang yang sudah tertanam,  konsep spirit ini masih cukup menyala (meski diiringi rasa keprihatinan oleh generasi tua dan menengah ke atas).

Spirit Indonesia
Bagi saya, Indonesia bagaikan negara anomali. Di satu sisi negara ini seakan-akan bagai hancur lebur tapi di sisi lain masih menyimpan potensi dan satu harapan besar yang menunjukkan semangatnya. Negara ini diakui masih berkembang dan tahan banting dari deraan krisis-krisis dalam kondisi mutakhir ini. Meski tidak seperti bushido yang begitu kuat dan stabil, tapi setidaknya melihat generasi mudanya yang sedang bergerak di dalamnya, di negara ini masih menyimpan rasa optimisme yang kuat dan dalam. Kenyataannya, banyak anak muda yang menonjol dan bersedia untuk berbagi rasa harapan optimisme di kalangan masyarakat secara terbuka. Sebut saja seorang tokoh pendidikan Anies Baswedan dengan gerakan Indonesia Mengajarnya, yang diinspirasi oleh duet Soekarno-Hatta dan gerakan KKN-nya UGM oleh bapak almarhum Koesnadi Hardjasoemantri, Merry Riana, seorang milyader muda dengan Merry Riana Foundationnya mencoba menyemangati kaum muda Indonesia, tokoh penggiat sedekah dan pengusaha muda, Ippho Santosa serta ustadz Yusuf Mansur dengan gerakan sedekahnya, untuk membantu sesama. Sastrawan Andrea Hirata atau penggerak budaya dan inspirasi, Andy F Noya, misalnya. Hingga politikus yang sedang naik daun, Jokowi dan Ahok alias Basuki Cahaya Purnama atau bahkan pengusaha muda sukses, Sandiaga Uno adalah contoh tokoh yang perlu kita sebutkan. Merekalah inilah segelintir manusia langka dari bangsa Indonesia yang menebar optimisme dan harapan.
Meski spirit kita tidak seperti budaya bushido yang secara sistematis diajarkan di Jepang, tapi seakan sporadis ini (hehehe). Tapi kita harus secara jujur dan terbuka, masih ada semangat yang tersisa dan menjalar dengan hangat ke pelosok seluruh negeri.

Meski tak pelak lagi negara ini masih saja dilanda kekacauan politik dan didera masalah korupsi, kolusi dan nepotisme yang tidak berkesudahan. Tapi nyatanya saat ini Indonesia menjadi negara yang tidak boleh diremehkan oleh siapa saja. Membaca buku Indonesia Rising terbitan The Australia National University yang diedit oleh Anthony Reid menegaskan hal ini. Negara ini rapuh dan dipertanyakan pertumbuhannya, meski di sisi lain secara statistik, negara ini cukup sehat. Mungkin sebagian dari kita bertanya-tanya, sehatkah negara kita? Negara ini dianggap sehat oleh para analisis karena pertumbuhan kalangan menengah yang pesat, generasi mudanya yang bertumbuh serta, jangan lupa ada indikasi jumlah orang kaya yang bertambah cukup pesat menjadi target pemasaran empuk bagi negara-negara maju dan produsen macam Jepang atau Cina.

Mau tidak mau, meski terlihat aneh, prospek ekonomi dan pembangunan Indonesia dianggap cukup baik. Bahkan di Jepang, Indonesia menjadi pilihan yang cukup baik sebagai negara tujuan investasi. Bahkan pertumbuhan investasi perusahaan Jepang di Indonesia cukup besar. Lihat saja beberapa perusahaan-perusahaan pemain baru (di luar perusahaan elektronik besar dan otomotif yang telah merajalela), yang berkembang pesat, semacam Uniqlo, Seven Eleven atau Rakuten juga sudah melakukan ekspansinya. Hal ini seakan seperti déjà vu zaman toko Jepang di masa pra pendudukan Jepang, sebagian masyarakat Jepang membuka toko Jepang alias usaha retail di Hindia Belanda.  Seakan sejarah ini terulang kembali.

Sebagai akhir dari catatan ini, sudah saatnya bangsa ini sadar akan potensi diri sendiri dengan memupuk spirit yang telah ada. Meski bangsa ini (sering) tidak sadar dengan potensi dan kemampuan yang ada, tapi setidaknya kita semua harus diingatkan bahwa spirit itu harus selalu dinyalakan dan disebarkan. Bukan hanya untuk kaum elit, bukan hanya untuk golongan elit politik dan elit golongan. Tapi spirit Indonesia seutuhnya. Ya, saya yakin itu.

Tokyo 27 Januari 2013

---------------
Pengarang buku "Apakah Mereka Mata-Mata?" yaitu buku mengenai kisah orang-orang Jepang di Indonesia sebelum perang (sebelum 1942). Penulis di beberapa kolom koran dan website. Pengamat sejarah dan budaya. Khususnya wilayah Jepang dan Asia Tenggara. Mencoba untuk belajar apa saja. Saat ini sedang bermukim di Tokyo, Jepang, untuk melanjutkan studi serta mendampingi suami yang sedang ditugaskan di KBRI Tokyo, Jepang

A Fighting Girl

Ini cerita perlu disampaikan spesifik, terpisah dari perjalanan saya tiap hari.
A figthing girl! Yes, i'll talk about you.


30 Jan 2013, setelah melakukan check-in barang di Kansai International Airport, bawaan saya berlebih di ransel. Jadi sebagian saya tukar dengan yang di koper. Dan isi ransel macam-macam mulai dari laptop, booknote, sampai sabun mandi, shampoo, parfum, minyak rambut, dan cairan lainnya. 

OK, selesai check in saya lanjut jalan ke imigration check, tapi sebelum itu, ada check lagi untuk ransel. Karena isinya macem-macem, jadi sama seorang penjaga ditahan. Dengan dialeg Jepang sambil senyum ramah, "Excuse me Sir, may i check your bag first?" "Yes, please." ucap saya dengan senyum.

OK, laptop dikeluarkan. "Is it laptop computer Sir? I'll move it here." "Haik, dozoo." Balas saya bahasa Jepang. hehe.. Dia mengeluarkan laptop dan meletakkannya di kotak berbeda kemudian menyiam ulang keduanya. "Excuse me Sir, what is this?" "Oh this is hair oil,  soap, shampoo, and other bath equipment. And this is parfum" "OK, some of this can't be bought. So i'll throw it." "Haik, dozoo. No problem." Hilanglah parfum, minyak rambut, dan shampoo saya. Mungkin cairan itu melebihi batas atau diduga berbahaya. Namun apa yang saya dapat? 

Sambil diperiksa tadi, di sebuah meja yang bersinggungan dengan pagar lantai, saya dan petugas berdiri di depan meja, ada seorang japanese girl yang baru saja selesai cek ransel kemudian meletakkan ranselnya di meja yang sama dengan ransel saya. Awalnya saya cuma lihat. Kirain mau ngapain, ternyata cuma mau buka tas. Ya sudah saya konsen dengan tas saya lagi. Dia terus mengambil topi dari dalam tasnya. Pas nutup tas, topinya dipake. Dia sambil lihat ke arah depan. Sayapun lihat dia lagi karena memakai topi. Waktu saya mau nunduk lagi untuk berkonsentrasi ma ransel saya sendiri, dia melihat ke arah saya. Merasa ga enak, ya saya sempatkan lihat dia lagi untuk kemudian menundukkan kepala (gaya khas orang Jepang untuk menghormati orang lain). Eh sebelum saya nundukin kepala, dianya senyum sesaat kemudian mengangkat tangan kanannya dan berkata, "Fighting!" Ya sudah ga jadi nunduk deh. Saya balas senyum dia sambil menganggukkan kepala. Sambil tersenyum dia lantas menggendong ranselnya dan berkata "Bye-bye.." sambil menggerak-gerakkan tangannya dan pergi. 

Tapi sayang, ga sempat ngomong lebih lanjut, kenalan, atau mungkin foto bareng. :D Biar jadi bukti cerita. Tapi tak apalah, sepertinya dia kelihatan terburu-buru. Dan, dapatkah anda menebak apa inti yang ingin saya sampaikan dalam cerita ini? Saya punya penilaian spesial terhadap orang jepang secara umum. Pertama, kejadian di Hotel New Hankyu Osaka, seorang pria mengantar saya berjalan dari bus terminal ke shin osaka station. Padahal dari penampilannya, saya menilai dia orang sibuk dan sedang bekerja atau dalam perjalanan ke tempat kerja. Cerita kedua, selama saya di Jepang mulai dari Osaka, Hiroshima, Saijo, Kobe, dan Kyoto, orang-orang yang saya temui atau sapa untuk sekedar bertanya arah suatu tempat maka mereka tak segan untuk menunjukkannya, bahkan sampai mengantarnya, sekalipun dengan keterbatasan bahasa masing-masing. Juga banyak dari mereka yang menawarkan diri untuk memotret saya dan teman-teman ketika ingin berfoto bersama. Sampe nawarin diri lho, tanpa kami minta. Ketiga, ya cerita di Kansai International Airport ini. 


  1. Orang jepang adalah orang yang disiplin terhadap waktu. Jelas, itu sudah dikenal dimana-mana dan saya sudah percaya sebelum saya ke sana. 
  2. Orang jepang adalah orang dermawan, tak segan untuk membantu orang lain. Itu yang saya dapat selama di sana. 
  3. Orang jepang adalah orang yang sederhana, itu kelihatan dari rumah mereka dan cara mereka bepergian. Mereka lebih suka menggunakan public transport dan berjalan kaki. Public transport mungkin ada faktor luar yaitu mudah dan bagusnya sistem transportasi negeri itu. Tapi kalau masyarakatnya tak punya kemauan, sebagus apapun public transport tidak akan laku. Jalan kaki mereka sudah bukan level orang Indonesia. Hitungannya bisa berkilo-kilo. Langkah kaki merekapun udah tingkat dewa. Bahkan nenek-nenek sekalipun langkah kakinya setidaknya lebih lebar atau lebih cepat dari kami berjalan. Intinya nenek itu sampai lebih duluan. Ga kebayang kalo kami ke sana saat musim panas. Mungkin belum jalan udah letoy duluan. hehe. 
  4. Orang jepang adalah orang yang murah senyum. Tentunya kalau sedang berinteraksi atau ada percapakan isyarat, seperti saling tatap atau saling lirik. #Bukan maksud yang lain lho ini.
  5. Orang jepang adalah orang yang rendah hati. Dari semuanya no 1 sampai 4, itu merupakan wujud dari sikap rendah hati. Orang rendah hati bukanlah orang yang sombong. Sehingga dia akan selalu disiplin dalam setiap usaha. Suka membantu dan tidak pamer kepemilikan. Efisien dan efektif seperti merupakan pertimbangan utama dalam setiap hal yang dilakukan. Yang akhirnya akan memberikan kenyamanan secara masal. Kalau dibanding-bandingkan, beda jauh dengan orang Indonesia secara umum yang lebih mempertimbangkan kenyamanan dan kepuasan hati. Dan karena selera tiap orang berbeda, maka kenyamanan bersama tidak akan terwujud. Terwujudpun mungkin tidak keseluruhan ataupun tidak berkelanjutan. Dan murah senyum juga merupakan wujud dari sifat rendah hati. Itu tidak untuk diri sendiri, tapi untuk orang lain. Paling mudah, paling cepet, paling hemat keluar tenaga. Tapi membutuhkan hati dan pikiran yang sangat tulus. Agar orang yang diberikan senyum dapat tersentuh dan tidak berpikir yang macam-macam.
Thanks for your sincere smile. And also for your "Fighting!" expression. I will always remember for it.  Setidaknya, kau telah membuka pikiran saya, tentang siapa dan seperti apa orang jepang apa adanya. 

"It Has Been A While, A Sweet Memory"


It has been a while. Kenangan itu bergitu terasa.

Saat semasa aku SMA, itu kenangan terindah dalam hidup. Aku dapat melakukan semua hal dengan baik, proporsional, efektif, efisien, tepat waktu. Semua yang terjadi pun tetap terngiang sampai saat ini.




It has been a while, sudah sekitar 3 tahun yang lalu. Semua dimulai menjelang aku naik ke kelas 3 SMA. Saat itu aku mulai berpikir, jika terus lengah terhadap keadaan, aku tidak akan bisa mencapai setiap impian. Dan setiap langkah yang dilakukan tidak akan optimal. Perlahan aku luangkan banyak waktu untuk merenung, untuk memikirkan apa yang salah dari hal-hal yang telah aku lakukan. Tentunya lingkungan saat itu begitu mendukung, aku hidup di asrama. Di lingkungan yang cukup terjaga. Ada teman-teman seperjuangan dan guru-guru di sekolah yang begitu perhatian dan senantiasa bersedia meluangkan waktunya untuk kami, untuk aku dan teman-temanku.




Perlahan kualitas diri semakin membaik. Dengan diri sendiri aku sudah mulai dapat bernegosiasi. Apa yang aku ingin dan apa yang diri ini butuhkan sering mendapat titik temu, yang berhujung pada, "Yes, i catched it. I made a goal." Hampir di setiap hal yang aku lakukan. Sudah kelas 3, sudah saatnya memikirkan masa depan. Kemana aku akan melanjutkan belajar nanti, mencari pengalaman hidup, dan melanjutkan masa depan. Sudah kelas 3 pula, sudah saatnya aku melepas kesibukan-kesibukan ekstrakulikuler sekolah dan asrama.




Waktu berjalan perlahan dan kadang tak terasa. Seperti semua yang aku pernah pinta terkabul satu-persatu. Entah apa niat Tuhan memberikan aku kualitas hidup yang sangat berharga itu. Hampir setiap jam 3 pagi aku terjaga. Begitu mata terbuka, aku biarkan rebah sejenak, memikirkan dan memutuskan apa saja hal yang akan aku lakukan dalam sehari. Mulai dari beranjak dari tempat tidur, mengambil wudhu, shalat malam, berdzikir, subuh berjemaah di mushala, jam nyantai yang kadang aku isi dengan olahraga - main basket di lapangan sekolah entah sendiri ataupun ada teman atau ngenet di selasar sekolah, mandi pagi, sarapan, sekolah, makan siang, istirahat siang, bimbingan belajar sore, jam nyantai yang biasa aku isi dengan menonton klub sepakbola Persepam berlatih di lapangan depan asrama, mandi sore, shalat magrib di mushalla, makan malam, pengajian dan shalat isya' di mushalla, bimbingan belajar malam, apel rutin, jam belajar, hingga tidur lagi dan bangun esok hari. Semua berjalan rutin dan lancar. Hampir setiap malam ku batasi tidur tidak melebihi jam 11 malam dan bangun tidak melebihi jam 3 pagi. Ku sempatkan pula untuk selalu tidur siang, atau sekedar rebahan bila tak sempat. Semua berjalan rutin, dalam hitungan hari, pekan, bulan, bahkan mendekati hitungan tahun.




Hari-hari berjalan begitu indah. Sampai pada waktu dimana aku harus menutup pintu untuk berlanjut ke pintu yang baru. Tiba waktu untuk menghadapi ujian akhir dan sebentar lagi akan berlanjut ke bangku kuliah. Aku jalani dengan persiapan yang sudah direncanakan. Alhamdulillah semua berjalan baik dan lancar. Tentang ini, sempat aku tulis sebuah puisi di penghujung malam menjelang aku ujian akhir,


Do'aku di malam ini..
by Fajrun Wahidil Muharram on Sunday, 21 March 2010 at 23:24 

Ya Allah, malam ini akan menjadi saksi..
Izinkanlah aku beribadah kepada-Mu, dan melaksanakan perintah-Mu,
izinkan aku menuntut ilmu..

Ya Allah, besok aku akan menghadapi ujian akhir nasional, satu titik ujian dalam perjalanan hidupku. Berilah aku kemudahan menjawab soal demi soal dengan benar. Berikanlah aku ketenangan hati dan pikiran, bukalah hatiku, cerahkanlah pikiranku. Berikanlah aku petunjuk ya Allah. Semoga 26 april nanti aku dinyatakan lulus ya Allah. Bersama teman-teman seperjuangan lainnya..

Ya Allah, aku sadar akan kekurangan dan kelemahanku, aku juga manusia biasa. Ingin merasakan kasih sayang dari-Mu dan dari sesamaku. Namun aku menginginkan jalan yang lebih baik dari ini. Semoga dia mengerti keyakinanku. Ya Tuhanku, berilah aku keteguhan hati..

Ya Allah, aku ingin menggapai mimpiku, menyenangkan hati kedua orang tuaku, membuat bangga guru-guruku karena telah memberikan ilmu-Mu padaku. Dan aku ingin melihat orang-orang di sekitarku dan orang-orang yang mengenalku tersenyum akan keberadaanku..

Ya Tuhan, izinkanlah aku merasakan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Menuntut ilmu dengan jalan yang ku pilih yang Engkau ridhoi. Menjadi penuntut ilmu dan menjadi penyenang hati bagi orang lain. Berikanlah aku kesempatan..

Ya Allah, malam ini akan menjadi saksi...
Kabulkanlah do’a ini ya Allah.
Amiin... Ya Rabbal 'Alamiin.. 

Ada cerita di kala aku SMA. Ada kenangan manis. Ada luka. Ada bahagia. Ada tawa. Ada cinta. Ada sepi. Ada bergembira. Bersama teman-teman, adik kelas, kakak kelas, guru-guru, Emmak tempat kami makan, warga sekolah, keluarga di rumah, dan tentunya Allah yang memberi itu semua.


Dan masa-masa itu masih terngiang sampai saat ini. Begitu jelas seperti tak akan pernah terlupa. Bukan maksud untuk mengenang masa indah secara berlarut. Namun hanya untuk menyadarkan ingatan bahwa terowongan perjuangan pasti akan berujung dimana cahaya yang terang benderang datang bersinar. Tak ada pilihan selain terus berjalan. Pahit manis perjuangan kadang datang seperti kue lapis, bergantian dan saling mengisi. Namun kita tak tahu seberapa tebal lapisannya, seberapa lama masa indah dan beratnya. 

Dan kisah bahagia tak kan bisa diulang, namun kita dapat membuat kisah bahagia kedua atau kisah yang lebih bahagia lagi. Insya Allah. 

Rencana Umum Tata Ruang Republik Indonesia menurut rancangan Soekarno






Banyak orang yang tidak tahu bahwa Bung Karno adalah salah satu Presiden yang amat mengerti tata ruang kota dan tata ruang wilayah geopolitik. Sebagai seorang Insinyur arsitek dia sendiri sudah mendesain seluruh wilayah Indonesia dengan bagian-bagian pembangunannya, suatu hal yang kemudian menjadi satu bagian dari dokumen Deklarasi Ekonomi Djuanda 1960.



Kebanyakan dari orang-orang yang sinis pada Soekarno menganggap pria yang gila seni ini hanyalah seorang arsitek yang gemar mendesain patung. Lantas hasil karyanya untuk rumah hanyalah beberapa rumah di Bandung yang dia gambar saat ia masih belia dan berkolaborasi dengan Insinyur Rooseno, atau ketika ia baru lulus kuliah THS (skrg ITB) membuat jembatan-jembatan kecil. 



Bahkan secara sarkastis, mahasiswa-mahasiswa anti Sukarno pada 1965 meledek Bung Karno sebagai "Orang Tua Pikun, Patung kok dikira celana" samberan ini meledek soal pidato Sukarno, bahwa patung itu seperti celana, sebagai sebuah kehormatan bangsa. Suatu hal yang di belakang hari ternyata ada benarnya juga karena simbolisasi patung.


Padahal Soekarno adalah pemikir besar, dia mendesain bukan saja patung-patung yang banyak meniru model Eropa Barat dan Timur, dia mendesain pula kota-kota besar masa depan Indonesia. Pada 1958 setelah pengusiran warga Belanda dan pengambilalihan modal-modal Belanda sebagai bagian pernyataan siap perang Indonesia. Ketahuilah bahwa Soekarno sebenarnya sudah merancang Jakarta menjadi sebuah kota tempur.


Sebagaimana kota Singapura di mana seluruh bujur jalannya lurus-lurus dan lebar sekali, sebenarnya itu disiapkan untuk menjadi markas besar atas penguasaan wilayah Asia Tenggara. Bagi Bung Karno stabilitas Asia Tenggara adalah segala-galanya untuk melepaskan Indonesia dari politik ketergantungan modal dan politik invasi wilayah-wilayah produksi di Asia. 



Apa yang ditakutkan Sukarno pernah diucapkan pada Djuanda "Amerika sekarang tak lebih dengan Belanda, mereka tak berminat terhadap kesatuan wilayah, mereka hanya berminat wilayah-wilayah kaya modal, wilayah produktie, inilah yang menyamakan mereka dengan Belanda di tahun 1947 dimana agresi militer mereka dinamakan dengan sandi "Operatie Produktie" alias Aksi Polisionil. Padahal itu agresi terhadap bangsa dan negara yang berdaulat.



Wilayah-wilayah yang jadi prioritas Sukarno setelah siap perang dengan Belanda adalah Irian Barat, merebut Irian Barat dan menjadi satu bagian NKRI adalah satu syarat agar bangsa ini menjadi paling kuat di Asia.



Selain Irian Barat yang menjadi perhatian penting Bung Karno adalah Kalimantan. Awalnya Semaun dari Fraksi PKI di Parlemen sementara (KNIP) yang membawa saran tentang perpindahan ibukota negara. Semaun adalah konseptor atas tatanan ruang kota-kota satelit Sovjet Uni di wilayah Asia Tengah. Gagasan ini kemudian disambut antusias oleh Bung Karno, dan selama satu tahun penuh Bung Karno mempelajari soal Pulau Kalimantan ini. 



Dia lantas berkesimpulan "masa depan dunia adalah pangan, sumber minyak dan air. Pertahanan militer bertumpu pada kekuatan Angkatan Udara"; Suatu hal yang kini menjadi kenyataan di abad 21 saat invasi-invasi besar sekutu barat banyak didukung oleh kekuatan-kekuatan udara baik di Perang Irak, perang Israel-Palestina maupun perang Afghanistan.



Bung Karno membagi dua kekuatan itu besar pertahanan nasional dalam dua garis besar : Pertahanan Laut di Indonesia Timur dengan Biak menjadi pusat armada-nya, suatu hal yang sesuai benar dengan garis geopolitik Jenderal Douglas MacArthur, panglima sekutu pada masa Perang Dunia II ; dan kemudian Pertahanan Udara di Kalimantan. Lalu Bung Karno mencari kota yang tepat untuk menjadi 'Pusat pertahanan Kalimantan' itu.



Lalu pada suatu malam di hadapan beberapa orang anggota Kabinet, Bung Karno dengan intuisinya mengambil mangkok putih di depan peta besar Kalimantan, dia menaruh mangkok itu ke tengah-tengah peta, kemudian Sukarno berkata dengan sorot mata tajam ke arah yang mendengarnya. "Itu Ibukota RI" ujar Bung Karno sembari menunjuk satu peta di tepi sungai Kahayan. 



Lalu Bung Karno menunjuk peta di tepi Sungai Kahayan dan melihat sebuah pasar yang bernama Pasar Pahandut, dan dari Pasar inilah Bung Karno mengatakan "Ibukota RI dimulai dari sini". Salah satu hadirin yang mendengar ucapan Bung Karno itu lantas teringat satu sejarah lama jaman kolonial dulu saat Gubernur Jenderal Daendels di depan Asisten Bupati Sumedang mulai membangun jalan darat Pos Selatan untuk gudang arsenal Hindia-Prancis. Ketika itu Daendels menunjuk satu tempat yang kita kenal sekarang sebagai Bandung. Daendels berkata : "Bandung jadi titik nol wilayah pertahanan Jawa". Dan itu terbukti kemudian.



Lalu Bung Karno menyusun dasar-dasar kota administrasi provinsi dengan dibantu eks Gubernur Jawa Timur RTA Milono, pada saat penyusunan birokrasi itu Bung Karno sedang menyiapkan cetak biru besar tentang rancangan tata ruang negara dari Sabang di Aceh sampai Merauke di Papua. Bung Karno merancang bahwa antara Pulau Sumatera-Jawa dan Jawa-Bali akan dibangun terowongan bawah tanah, karena rawan gempa Bung Karno meningkatkan armada pelabuhan antar pulau yang kapalnya dipesan dari Gdanks-Polandia. 



Tetapi rencana membuat channel seperti di selat Inggris tetap diprioritaskan bahkan menjelang kejatuhannya di tahun 1966 dia bercerita tentang channel bawah tanah yang menghubungkan Pulau Sumatera-Jawa dan Jawa-Bali.



Pusat pelabuhan dagang bukan diletakkan di Jawa, tapi di sepanjang pesisir Sumatera Utara-Kalimantan-Sulawesi, Sukarno mempersiapkan rangkaian pelabuhan yang ia sebut sebagai "Zona Tapal Kuda". Wilayah Jawa dan Bali dijadikan pusat lumbung pangan. 



Kota-kota baru dibangun, pilot project-nya adalah Palangkaraya dan Sampit, setelah itu Jakarta juga dibangun untuk display ruang atau model kota modern, Jakarta tetap dijadikan pusat kota jasa Internasional sementara Palangkaraya menjadi pusat pemerintahan dan pertahanam militer udara, Biak di Irian Barat jadi pertahanan militer laut dan Bandung jadi Pusat Pertahanan militer darat.



Ketahuilah, sebagai kota baru yang dirancang Bung Karno, seluruh jalan Palangkaraya dibuat lurus-lurus dan menuju satu bundaran besar. Bila perang dengan Inggris beneran terjadi maka jalan-jalan itu diperlebar sampai empat belas jalur untuk pendaratan pesawat Mig-21 yang diborong dari Sovjet Uni. Rencana tata kota sampai dengan tahun 1975. 



Rafinerij atau tambang-tambang minyak milik asing akan diambil alih dan dikuasai negara dan uangnya untuk pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan umum. Pembangunan tata ruang kota Palangkaraya diatur amat teliti, sampai sekarang tata ruang kota Palangkaraya paling rapi di Indonesia. 



Visi Sukarno, di tahun 1975 Indonesia akan jadi bangsa terkuat di Asia dan menjadi salah satu negara adikuasa dunia dalam konteks the big five : Amerika Serikat, Inggris, Sovjet Uni dan Jepang.Jepang dan Cina menurut Sukarno masih bisa dibawah Indonesia. Dan Indonesia jadi negara terkuat di Asia dan memimpin tiga zona wilayah bekerjasama dengan India dan Mesir. 



Setelah Bung Karno kalah duluan sama Soeharto dalam penguasaan keadaan saat Gestapu 1965, Bung Karno diinternir, Soeharto amat takut dengan bentuk persebaran kekuatan wilayah, dia lantas bertindak seperti Sunan Amangkurat I yang paranoid terhadap kekuatan pesisir, dia tarik seluruh kekuatan modal dan manusia ke satu pusat yaitu Jawa. Dan hanya Jawa.



Padahal Jawa tadinya disiapkan Soekarno sebagai pulau yang khusus menjadi pusat lumbung pangan negara dan pariwisata nasional, pulau peristirahatan, namun yang terjadi sekarang adalah Jawa menjadi pusat segala-galanya, menjadi pulau paling padat sedunia dan tidak memiliki kenyamanan sebagai sebuah 'surga khatulistiwa' sementara Kalimantan, Sulawesi dan Papua dibiarkan kosong melompong. Dan sama sekali tak terjaga dengan baik. Angkatan Udara dan Armada Laut kita lemah.


Andai saja akademisi kita tidak ikut-ikutan mengotori dirinya seperti comberan mulut para politikus, ada baiknya menggali "rencana-rencana Sukarno" ini ketimbang mengomentari dan mengamati 'para maling main politik' di ibukota politik Jakarta yang kian lama kian sumpek. Mari sejenak menengok ke utara. Ke Palangkaraya. Ke Kalimantan, ibukota Republik masa depan!


Sumber : Arsip Nasional Republik Indonesia 

Day 3 #GoJapan2013

Hari ketiga, tepatnya hari kedua konferensi, adalah hari dimana saya presentasi. Malamnya udah persiapan seadanya. Slide insya Allah siap. Tinggal tidur aja. Capek baru nyampe Jepang. Narik koper berkilo-kilo meter jauhnnya bikin tangan pegel.

Besoknya bangun pagi-pagi, masak mie instan untuk sarapan. Tiba-tiba ada yang ketok pintu, "assalamu'alaikum mas, ini untuk sarapan." Waah baik banget, beliau Bapak Irsyad, anggota PPI Hiroshima yang tinggal di apato sebelah, ngasi bento untuk kita makan siang. Hangatnya kekeluargaan PPI Hiroshima. Berangkat ke kampus, jalan kaki ke Saijo Eki, stasiun kereta menuju arah Hiroshima Station. 

Rush hour, to fix the presentation
Nyampe tempat acara tidak terlalu telat, dan saya siap-siap untuk presentasi. Ternyata presentasinya jam 12.50, tepat setelah makan siang. Ya sudah makan siang dulu. Makan siangnya ada 5 menu yang tersaji dalam kotak dan siap diambil. Baca-baca, cuma menu nomor 5 yang mengandung pork. Untuk alasan kesehatan perintah agama, maaf menu tersebut tidak saya ambil. Bingung milih menu 1 sampai 4, akhirnya saya putuskan ambil menu nomor 2. Berisi makanan khas Jepang yang dipenuhi oleh seafood terutama kerang dan udang. Sambil nyari tempat duduk, saya pilih meja dekat pintu masuk. Di situ ada Bapak Afifi, seorang dosen dari salah satu universitas di Malaysia. Saya memohon ijin duduk dan beliau mempersilahkan. Sambil makan kami berbincang-bincang, aslinya ga baik lho. hehe. tapi gapapa untuk mecairkan suasana dan mencari kenalan. Usut punya usut ternyata beliau jebolan S3 inggris dan membuat karya tentang Suku Minangkabau di acara ini. Terasa kehangatan dua rumpun, tidak seperti di imigration check masuk di KLIA waktu jalan-jalan ramadhan dulu. haha.. Karya beliau tentang suku Minangkabau membuka wawasan bahwa  sebelum inggris dan belanda datang, bangsa Malaysia dan Indonesia dulu jadi satu. Berada di bawah masing-masing kesultanan yang dipimpin oleh kekhalifahan islam dan hidup harmonis dengan kerajaan non-islam di sekitarnya. Namun penjajah mengubah muka kedua bangsa hingga akhirnya berubah jadi dua negara modern berbeda. OK Sir i got your point. Aku dapat kartu namanya, alhamdulillah link nambah lagi.

Jam makan selesai, shalat bentar. Shalatnya tepat di samping pintu toilet, ada tempat yang cukup untuk shalat jamaah. Orang jepang dan orang luar ternyata cukup toleransi dan tidak terlalu terganggu dengan aktifitas shalat kami. Tidak seperti anggapan saya sebelumnya. Selesai shalat, saya langsung masuk ke ruang presentasi. Room 4, 12.50 pm, first presentation with tittled "Integration of Aeromodelling with Geotagging Based on the Geographic Information System as a Disaster Victim Evacuation Strategy". Waktu maju ke depan saya cukup tenang. Membuka presentasi, it was fluently enough. Perlahan kok tiba-tiba grogi ya. Grogi pertama karena bingung nerjemahin kata naik-turun dan terlanjur terucap dengan bahasa indonesia. Kemudian groginya berlanjut sampai presentasi selesai. Ya Allah pertanda apa ini. Ini perasaan yang hampir 6 tahun saya tidak meraskannya lagi. Mungkin karena penontonnya orang baru, tempat presentasinya juga baru. Ibarat peta, skalanya beda. 

Saya sedang mempresentasikan hasil riset saya.

Tapi Alhamdulillah semua berjalan lancar. Dan satu kesimpulan saya petik, "Biarlah gugup saya di ramah internasional dimulai di umur 20 tahun dan selesai saat itu juga." amin. hehe Presentasi kedua membahas tentang pemetaan pratisipatif, di Selandia baru. Namun berbeda dengan partisipatif yang ada di Indonesia, alat yang digunakan iPhone dan tablet lainnya. Sama aja pemetaan oleh tenaga ahli kalo gitu, atau pemetaan dengan alat ahli. hehe.. Menginjak presentasi ketiga, dia kayanya mahasiswa bachelor juga. Atau paling tidak S2, dari Ohio, bahas tentang Haity. Bahasa inggrisnya lancar banget. Jelaslah, dari belum lahir udah pake bahasa inggris. Sebelum presentasi ketiga selesai, saya harus meninggalkan ruangan dan pindah ke ruangan sebelah. Di sana gerry dkk presentasi juga. Sayang sih, kesempatan untuk mendengarkan, sharing wawasan, dan foto-foto harus direlakan. Gapapa. it's no problem. Kesempatan bisa dua kali datang, asal probabilitasnya ditingkatkan. Tapi yang agak sayang, presenter ketiga adalah dari IPB Bogor. Setengah ga enak setengah sayang. Dan ya sudah, saya akhirnya pindah ruangan.

Tim Gerry, Adlan, Erna, dan Ifah sedang mempresentasikan hasil riset mereka.

Di ruangan sebelah, masih ada rekan dari Nepal yang sedang presentasi. Selang beberapa menit, Gerry dkk mendapat giliran maju. Mereka presentasi dengan cukup baik. Kayanya sama deh, gugup itu kerasa. Tapi masing-masing punya gaya berbeda dalam menyikapinya. hehe. Alhamdulillah mereka selesai presentasi. Karena mereka adalah presenter terakhir, jadi setelah itu ada sesi foto bersama. Dan, saya membayangkan seandainya ada di Room 4. Tapi tak mungkin, masa tiba-tiba masuk dan minta/ikutan foto bareng, dengerin aja kagak. Su'udzon merasuk kalbu. Ya sudah tak usahlah, yang penting all is well. Selesai presentasi kami cerita-cerita sejenak. Ada yang ke toilet. Abis itu kami ambil jaket di hanger dan bersiap keluar. Alhamdulillah hari ini berlangsung lancar. Puji syukur atas karunia Allah yang mentakdirkan kami di sini. Mungkin tidak semua dapat merasakannya, sehingga syukur kami harus lebih dari mereka. Sekian cerita hari ketiga, cerita selanjutnya silahkan ditunggu.