Day 2 #GoJapan2013

Tingtong, the flight will be landing in a moment. Wah udah pagi, matahari udah muncul.  Sinar datang dari arah kanan jendela. Kesimpulan, pesawat terbang mengarah ke utara dan agak miring ke timur dikit pengaruh lintang. Ok sip ga penting. Osaka, Kansai International Airport. Abis keluar pesawat kok naik kereta. Hah, ternyata untuk menuju imigration check bukan lagi jalan kaki, ekskalator datar apa itu namanya, tapi kereta cuy. Sekilas biasa aja sih, tapi terbayang seandainya itu ada di Indonesia. Jadi waww kan. Nah itu yang saya pikirkan begitu masuk kereta. Di kereta ketemu orang Indonesia, yang lagi liburan liburan kuliah terus bawa istri dan dua anaknya ke Osaka.
Masuk toilet, ketemu orang Indonesia lagi. Bapak Supratman, lagi S3. Pulang ke Solo untuk ambil data riset. Cerita-cerita banyak hal sambil cuci muka. Pesannya, "belajar terus mas. Dan kalo pulang harus bawa sesuatu, benahin Indonesia." "Baik Bapak, insya Allah." Cek imigrasi, cari tiket bus menuju Shin Osaka station. Pas keluar bandara, Brrrrrr. Ini yang namanya 6° C. Dingin plus sejuk. Untung udah pake longjohn di toilet tadi.

OK, berdua dg ibu Nurhayati. Menyusuri kota Osaka dengan bus. Dan tahukah anda, sekitar 1 jam perjalanan dari bandara satu bis cuma ada 3 penumpang. Lihat kiri kanan, sekilas kota ini mirip Surabaya lah. Kota industi dan ekonomi gitu. Nyampe di Shin Hunskyu Hotel Bus Terminal, turun. Duduk bentar di rest room sambil sarapan roti yang beli di KLIA. Karena makan dan minum di bis dilarang. #Tertibnya kota negeri ini. Dari Shin Hunskyu Hotel jalan kaki ke Shin Osaka Station untuk transit naik kereta. Tapi karena ga tahu jalan, jadinya tanya orang. I see around who people can help me, then i decided to ask a man with tie. Pertama tanya, orang tadi cuma menerangkan arah stasiun dan ke sana lewat mana, dengan bahasa inggris tentunnya. Kalo bahasa jepang saya yang ga ngerti. Kalo bahasa indonesia bapaknya yang ga ngerti, apalagi bahasa jawa, madura. hehe Dan karena kami berdua sedikit bingung, dia mengantar kami dari terminal bis ke stasiun kereta. Masya Allah, itulah kali pertama saya lihat kebaikan hati orang jepang di depan mata. Saya pikir bapak itu begitu sibuk karena ketika berjalan langkahnya sangat lebar dan cepat, namun ternyata bersedia mengantarkan kami berjalan menuju stasiun. OK Sir, thank you very much.



Kami sampai stasiun kereta Shin Osaka sekitar jam 10.00 waktu jepang. Sedangkan acara dimulai jam 12.00 di Hiroshima International Conference Center. Dan, itu beda kota men. Jaraknya sekitar Jogja-Jakarta kali. Tapi gapapa, sudah takdir dapat penerbangan tanggal 22. Saya juga sudah merencanakan untuk naik kereta Shinkansen dari Osaka ke Hiroshima. Yes, Shinkansen. Peoples say that this is the fastest train in the world. Pas booking tiket, hmmm. Mahal juga ya, 2,5x harga bus dengan jarak yang sama. Namun waktu tempuh yang dibutuhkan cuma 1/4xnya, 1,5 jam. Kalo dihitung secara linier harusnya tarifnya 4x lipat, atau waktu tempuhnya 2 jam 45 menit. Ya sudah ga usah terlalu dipikir, rejeki udah ada yang ngatur. Kami naik kereta sekitar jam 10.30. Memang benar kata orang, bisa dibilang ini kereta tercepat. Kalo saya nyebutnya ini peluru kabin. Tanya kenapa? nanti jawabannya. Di dalam kereta saya temui orang-orang berdasi lengkap dengan just (jubah) winternya. Ada pula yang berpakaian biasa. Kebanyakan sibuk dengan laptop atau buku bacaannya, yes they are japanese. 




Waktu mau nge-charge, ternyata colokan jepang beda ma indonesia, beda juga ma malaysia. Dan yang saya bawa adalah electrical converter Malaysia. Lagi-lagi orang di samping menawarkan bantuan. Dia ngasi colokan iPhone-nya (kebetulan sama) dan kemudian saya pakai. Hm, baik bener ni orang jepang. Here nam is Mayu, Kubata Mayu. I've talked with her some some minutes, about where did each to go, where did each from, and each origin, each country. 



12.00 i had been arrived in Hiroshima Station, itulah kenapa saya bilang naik peluru. Cepet banget men melesat. Nanya ke officer, bagaimana cara ke international conference center of Hiroshima. Ternyata ga semua bisa bahasa inggris. Ya saya coba sebisanya plus bahasa isyarat. Alhasil untuk menuju ke sana pakai moda transportasi yang namanya streetcar, orang indonesia banyak nyebut trem. Ya, ini kereta listrik yang cukup pendek dan melintas di rel yang sejajar dengan jalan raya. Di dalam streetcar, ketemu lagi ma orang indonesia. Seorang ibu-ibu setengah baya. Ngakunya orang indonesia, masih WNI, suaminya orang jepang, tinggal di Tokyo, lagi jalan-jalan di Hirsohima bareng saudaranya dari Indonesia. Sekitar 10 menit berlalu, kami turun di halte Dome of Bomb. Ternyata, tempat kami turun 67 tahun yang lalu merupakan titik dimana bom atom Hiroshima jatuh. Tepat di samping halte terdapat monumen bekas gedung yang terkena bom dan sengaja diabadikan. Waktu menunjukkan jam 12.15, then Mrs. Nurhyati said to me, "Fajrun, foto-foto dulu yuk Fajrun." "Oh OK Bu, yook. Toh baru jam 12.1/4." Hehe, lumayan satu menit untuk momen dan obyek yang bagus. This is the most Historical Museum of Japan, Dome of Bomb. 


Jalan kaki akhirnya sampai di gedung yang dituju, International Conference Center of Hiroshima. Ya, gedung ini ada di tengah taman sekaligus situs museum bom atom. Keren banget tempatnya. Bukan gedungnya, tapi situsnya. Tat telak bangunannya, tamannya. Jam 12.30. Berjumpalah saya dengan teman seperjuangan yang berangkat duluan dari Jogja tanggal 20 Jan, mereka berenam, Gerry, Ari, Ipul, Adlan, Erna, dan Ifa. Singgah semalam di KLIA, dan sampai di Kansai 22 pagi. Selang sehari. Mereka udah siap dengan pakaian yang cukup rapi. Dan saya, siap dengan pakaian yang juga rapi, tapi bukan untuk acara resmi. hehe. Seperti biasa, respon mereka berbeda-beda terhadap kedatangan saya. Ada yang kaget, ada yang biasanya. "Loh, jrun, kapan nyampe?" "Ni baru aja nyampe, hehe" Dan perpisahan sejak 20 jan berakhir, saya langsung bergabung bersama mereka. Berkenalan dengan beberapa orang, multibangsa tentunya. Ada juga orang Indonesia yang udah tinggal di Jepang maupun yang sama-sama berangkat dari Indonesia. 


Sorenya kami pulang bareng, menuju Saijo. Sebuah kota kecil sekitar 30-40 km dari Hiroshima. Kota dimana keluarga PPI Hiroshima bermukim, karena kampus Hiroshima University berada di Kota tersebut. Begitu datang, saya langsung disambut dengan ramah. Tapi tidak serasa seperti baru kenal. Bisa jadi karena sama-sama orang indonesia yang sedang berada di negeri orang. Yang pasti, sewaktu masih di Indonesia saya sudah berkomunikasi dengan beliau-beliau lewat facebook.



Masuk apato (apartemen), semuanya sudah perut keroncongan. Gerry masak mie, yang lain nyiapin menu yang lain. Saya buka isi koper, ada beberapa makanan khas Indonesia yang sengaja saya bawa ketika pulang ke rumah. That's why i went later that you all men. "Piye dab, enak to bawaanku?" hehe.. "Enak jrun, ini dendeng ya?" "yoi, makan aja selow." Abis makan, tiga dari kami pindah apato, karena apato sebelumnya tidak cukup untuk dihuni berlima. Aslinya memang apato pribadi yang cuma cukup untuk dihuni satu orang. Semacam kamar kos lah.


This is the end od Day 2, see you in next chapter.

Day 1 #GoJapan2013

Alhamdulillah, meskipun postpone 23 hari dari rencana, akhirnya Allah mengijinkan saya untuk ke luar negeri lagi. Di dinding kamar terpampang rencana besar semester 5 salah satunya adalah ikut event ke luar negeri. Mungkin 23-25 januari masih dianggap (masa liburan) semeser 5. But all is well.

Second oversea, now I am going to `Sakura Country`, Japan. Kalo yang sebelumnya ke Kuala Lumpur ma Bangkok cuma jalan-jalan. Alhamdulillah sekarang lebih beresensi. Onsustainability namanya, sebuah event internasional tentang lingkungan, budaya, sosial, dan ekonomi. Tahun 2012 dilaksanakan di London, Inggris; dan tahun ini di Hiroshima, Jepang. Karena saya kuliah di fakultas Geografi, yang mempelajari lingkungan dan wilayah, jadi tema besar yang saya ambil tentang lingkungan, dengan tema kecil strategi evakuasi korban bencana alam.

Berangkat dari rumah (Madura Island) sekitar jam 2 siang, setelah mengurus beberapa hal dan packing. Pamitan ma Keluarga di rumah, berangkat ke surabaya naik mobil diantar kakak ipar laki-laki dan dua anaknya, kakak perempuan, dan adik laki-laki saya. Sampai di bandara Juanda sekitar jam 4.30. Maklumlah, Surabaya macet sore hari meskipun tidak se-woww Jakarta. Masuk bandara, tanya customer service, "Mbak penerbangan ini masuk lewat mana ya?" "Oh lewat pintu selatan mas. Buruan mas udah mau berangkat" "OK mbak, makasih" Ya sudah, saya langsung pamitan ke dua keponakan kecil yang di rumah sudah membayangkan sedingin apa salju dengan meniru kostum AFIKA, pamit ke adik, mbak, dan mas. 

Masuk bandara, cek bagasi. OK Sip, koper bawaan beratnya 19,3 kg --> untuk trip 8 hari, bawa apa aja tu? Masuk portal imigrasi seperti biasa ditanya mau kemana, keperluan apa, dan nginep dimana. OK sip, itenerary udah dibaca, tinggal dijawab aja. Masuk portal passeger, cek ransel, tas pinggang, ma tas plastik isi jaket winter. Ketahuan kalo bawa dua botol air mineral ma satu botol minum isi ulang. Terus sama petugasnya suruh diminum di terminal. And then I asked him, how if I move the water here into my refill bottle? Oh yes please, but keep it hidden from the other persons. Haha, ok Sir. Buat minum di KL nanti, penghematan Pak belum punya kerja.

OK, sekitar jam 6 Juanda-KL flight departed. Di pesawat laper banget, tapi udah terlanjur ga pesan sebelumnya. Mau pesan langsung, lihat tetangga kok menunya dikit banget. Ya sudah cancel.

Alhamdulillah nyampe KL dengan selamat jam 8.30 waktu Malay. Masuk imigrasi, cek paspor. Terus langsung cari tempat makan. Mmm, sudah dendam banget sama nasi lemak. Dengan sedikit logat dan bahasa melayu yang saya punya (karena masih ada darah kalimantan di tubuh saya), langsung saya sapa, Bang nasi lemak flat lauknye ape? Telo jak. Kalo special? Bise daging bise ayam. Yaude bang, special pake daging. (sip joss) Minum? Tak use bang. Kan udah bawa dari juanda tadi. Haha duit ringgit sisa liburan kemarin masih ada, cukuplah buat makan atau hidup sehari di Malay.

Abis makan, check in KL-Osaka, shalat, beli roti buat besok paginya. Terus ketemu Ibu Nurhayati, dosen dari Palembang yang udah janjian sebelumnya. Karena kami ikut acara yang sama dan sama-sama berangkat sendirian dan ada di satu jadwal penerbangan KL-Osaka. It's OK. Nunggu bentar, gate dibuka. Kami masuk pesawat. Yang ini lebih gede, Airbus (Bus Udara) hehe. Isi 9 kursi tiap baris yang dipisah tiga-tiga. Saya ada di blok tengah bagian tegah, kanan kiri mbak-mbak, dua-duanya Japanese. Yang kanan lagi sakit, yang kiri sibuk baca buku. Okelah, saya sih selow aja. Buka gadget, ngetik ini. hehe.

OK, trip day 1 closed. See you in the next part. 


My First Published Program

Alhamdulillah, setelah berkutat beberapa hari dengan kondisi tubuh yang tak menentu, akhir karyaku jadi. Sebenernya karya kami sih, kami kelompok praktikum atlas dan peta navigasi 2012.

Ya, Atlas Elektronik Sosial Ekonomi Jawa Timur. Itulah yang kami buat. Kami berbagi tugas, ada yang  mencari data statistik kemudian diolah dan dibuat kelas, ada yang membuat peta berdasarkan data statistik, ada yang mencari deskripsi dan foto, dan aku bagian buat atlas elektroniknya.

Mumet sih awalnya, belum nemu inspirasi atlasnya mau dibuat gimana karena designer ma programmer jadi satu orang. Belum, lagi urusan praktikum dan kuliah yang lain. Belum lagi urusan selain kuliah.
Hmmmm, Brrrrrrr. Semuanya numpuk jadi satu di akhir desember 2012.

Atlas pertama sukses dengan tampilan yang alhamdulillah ga jelek" amat, tapi isinya ga sesuai ma konsep atlasnya (dummy atlas). Alhasil, ditembaklah kami waktu responsi ma asisten" yang mengajarkan ilmu secara batin itu. Ya, karena tak ada praktek sama sekali di praktikum itu, Blass.
Beginilah tampilan Atlas 1.1.


Secara umumnya menurutku tampilannya cukup minimalis, gambar itu tampilan depannya aja. Dalamnya minimalis, banget malah. Sampe-sampe itu yang jadi masalah. Atlasnya ga sesuai ma konsep atlas yang dibuat sebelumnya. Dan setelah terjadi sedikit pembicaraan dengan para asisten praktikum yang tadi, keputusannya adalah atlas harus dikembangkan lagi (must be revisied). OK.

Mencari waktu yang tepat, dengan kondisi tubuh yang tak menentu aku coba bikin atlas barunya. Sampe cari suasana di Perpus Pusat UGM ditemani pipit yang juga satu kelompok, alhasil atlas 1.2 berhasil dibuat. Dengan tampilan sebagai berikut.


Alhamdulillah yang ini lebih waw dari yang pertama. Waktu KRSan 6 bulan lalu, mikir mata kuliah ini diambil ga ya (Pemrograman Spasial). Alhamdulillah setelah diambil ternyata manfaatnya ke mata kuliah satunya, Atlas dan Peta Navigasi.

The Last, semoga apa yang teman-teman dan aku kerjakan ini dapat bermanfaat bagi orang lain. Dan semoga kami dapat timbal baliknya berupa ilmu, nilai A, dan lainnya. Dan semua kembali pada yang menciptakan semuanya, Allah Ta'ala.

Yes, Sir! You are My Inspiration

Dec 2nd 2012
Htn:
Dear Mas Fajrun,
I realiaze that you have a good work on your tugas, I appreciate it.
maintain well your spirit and courages in working and studying, a more precise and attentive are needed


Gbu

Htn


Me:

Yes Sir Hartono, my glad for receiving your advice.
I also hope and keep trying to be better in studying and working. And i need your direction.
Amin. Thank you very much, Sir.



Dec 19th 2012

Htn:
Great
Thanks..
Some of you have a great difficulties 
Memang susah yaaaa


GBU

HTN


Me:

Yes, Sir. I faced some difficulties to did this task. hehe

Amin.
Thanks a lot, Sir.


These above were short conversation betweeen my lecturer and me. Yes, Sir! You are my inspiration. 
I knew you since my 2nd semester. Yes, Sir! You are my inspiration. You motivated me and all of my friends to do something better, to reach something higher, and to give something bigger.

Slowly i know who you are. Yes, Sir! You are my inspiration. You are not only giving a motivation, but also giving an example what we have to do. The messages you have given is a hope for this nation.

Yes, Sir! You are my inspiration. I'll do what you offer. I'll be like me in my dream.
Yes, Sir! You are my inspiration. I'll follow your steps, and i'll give best to this nation.

It's Time for Me to Quit from Shell

"Jangan seperti katak dalam tempurung." Kalimat tersebut yang pernah dilontarkan oleh Projo Danoedoro, seorang dosen di kampusku Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada. Beliau mendapat penilaian tersendiri bagiku. Tidak seperti dosen kebanyakan, beliau seperti pelita dalam keremangan. Sebagai satu dari beberapa orang yang aku kenal yang berpikir dengan cara logis dan analitis serta bersikap lantang untuk membedakan mana yang benar dan salah, begitu juga mana yang baik dan buruk. Namun banyak juga dari beliau yang kadang diucapkan dengan tidak serius. 

"Jangan menjadi orang yang hebat di lingkungannya saja. Tunjukkan pada yang lain, kalau kalian memang bisa." "Baik, Bapak." Semacam ada percakapan batin yang aku tangkap. Selama ini, aku memang lebih sering membabat habis sesuatu yang baru. Namun aku berhenti ketika telah bosan atau mencapai tujuan.

Contohnya, ketika memulai suatu mata kuliah baru, mungkin dengan kemurahan Allah, aku lebih mudah dan cepat untuk mengerti materi yang disampaikan. Bisa jadi karena pernah mendalami sebelumnya, bisa jadi pula karena pola pikirku sejalan dengan dosen yang menjelaskan. Sehingga transfer ilmu berjalan dengan lebih baik.

Namun untuk melanjutkan ilmu itu ke sesuatu yang lebih bermanfaat, terkadang ada rasa malas dalam diriku. "Ngapain ditulis, intinya nanti juga bakal kaya gitu.", gumam dalam hati. Alhasil, apa yang ada dalam pikiranku tak banyak orang yang dapat mengetahuinya. Tak ada essay ataupun tulisan ilmiah lain sebagai bentuk pengejahwantahan pemikiranku yang menurutku ada baiknya jika orang lain tahu dan bisa memanfaatkannya. Namun perlahan aku sadar. Allah memberikan petunjuk. Dalam hati aku berpikir, kewajiban manusia tentang ilmu itu ada dua, pertama mempelajarinya, kedua mengajarkannya. Dan sesuai dengan hadist Rasul, "Khairukum man ta'allama wa'allama | Sebaik-baik darimu adalah yang mempelajari dan mengajarkannya | Best of you is who wanna learn and who wanna teach." Untuk menjadi orang yang lebih bermanfaat, kebaikan apa yang kita miliki harus kita pastikan orang lain memilikinya pula, kebaikan apa yang kita alami harus kita pastikan orang lain mengalaminya pula. Itu saja.

Dan sekarang, pikiranku sedikit terbuka. Sejalan pula dengan cita-citaku untuk menjadi seorang ilmuwan. Menjadi seorang peneliti adalah dunia yang saat SMA sudah kuniatkan untuk kugeluti ketika nanti masuk kuliah. Alhamdulillah, di tahun pertama kuliah, tepatnya di semester dua, keinginan itu berbuah hasil. Aku lolos menjadi peserta Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional di Makassar, Sulawesi Selatan. Sebuah event bergengsi di tingkat mahasiswa S1 di Indonesia. Tak semua bisa menikmatinya. Meskipun saat itu ada backing yang sangat mendominasi dari seniorku. Ia yang membimbingku dari awal hingga aku dinyatakan lolos dan membuat presentasi. Namun yang namanya manusia, ketika berada di atas, selalu saja ada angin yang berhembus semilir menjadikan suasana damai seakan tetap akan seperti itu, namun lupa bahwa gravitasi juga berjalan. Aku sedikit termakan oleh suasana sebagai satu-satunya kelompok dari fakultas yang mewakili ke PIMNAS dan beranggotakan mahasiswa tingkat satu semua, mungkin juga berlaku di universitas, atau mungkin se-Indonesia. Sempat muncul rasa percaya diri yang berlebihan. Hehe.

Hingga berikutnya, untuk mengikuti hal-hal serupa dengan kegiatan yang tidak dimotori oleh DIKTI atau yang dikatakan bergengsi aku menjadi sedikit enggan. Tapi akhir-akhir ini, pikiranku kembali sedikit terbuka, bahwa berkontribusi tak boleh mengenal wadah. Meneliti tak boleh pandang-pandang apa event-nya. Selagi event itu dapat membuat banyak orang merasakan manfaat. Namun perlu dipikirkan juga apa yang harus dikorbankan jika ingin melakukannya dan manfaat apa yang akan didapat jika melakukannya. Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain.

Sekarang, aku akan menjadi sebuah gelas kosong. Seperti apa yang menjadi prinsip salah satu temanku. Dan dia bukan orang biasa di mataku. Dan, GELAS KOSONG... 

Mungkin akan terisi penuh, tapi akan ku salin tiap hari. Sehingga aku akan selalu menjadi gelas kosong yang senantiasa membutuhkan isi. 
Peneliti muda, itulah yang akan ku pakai sebagai profesi dan jabatan fungsionalku saat ini. Dengan jabatan struktural mahasiswa S1. hehe.

Bismillah..

Walk You in Your Own Way

Aku orangnya ... tak mau setengah-setengah untuk mengerjakan sesuatu.
Kadang, aku sering berlebihan dalam mengerjakannya. Mungkin karena jiwa ini yang masih sedikit labil. Maklum, masa remaja belum sepenuhnya pergi.



Karena sifat itu pula, kadang aku tak bisa mengerjakan beberapa hal secara bersama. Bagiku, mengerjakan beberapa hal serentak sama saja seperti pecah konsentrasi. Dan pecah konsentrasi sama dengan pecah hasil. Kembali pada tak mau setengah-setengah mengerjakan sesuatu, aku lebih sering memilih mengerjakan satu saja hal. Namun aku memikirkannya dengan sempurna.





Beda lubuk beda ikannya. Pepatah memang kadang benar adanya.

Di lingkungan ini, di Jogja, tempat aku kuliah. Hal seperti itu kadang tak sesuai. Suasana belajar, berorganisasi, berprestasi, bergaul, dan ber- macam-macam lainnya tak bisa dipisah-pisah. Mau tidak mau harus dikerjakan bersamaan, atau paling tidak bersambilan.



Namun yang namanya manusia, jika tak memiliki pendirian dan pilihan hidup tak puas rasanya.

Aku berpikir, untuk jangka pendek, selama di sini (di jogja) mungkin itu tak akan optimal. Namun untuk jangka yang lebih panjang, aku yakin cara yang seperti itu yang lebih optimal bagiku. Dan setiap orang tak sama, mungkin bagi yang lain, itu bukan jalan terbaik.


Berjalanlah kamu dengan caramu sendiri. 

Jalan-jalan ke Negeri Orang


[Feb 29 2012]
Awal-awal semester 4, bermula dari iseng-iseng buka promo AirAsia.com, tiket JKT-KL return berhasil di dapat.
ari: "jadi ga ni?"
ipul: "gimana teman-teman, jadi ga?"
aku: "yaudah yok, berangkat. nyoba berpetualang. eh berapa hari sih kita?"
ari: "7 hari return"
aku: "ok."

Jadilah kami berangkat bertujuh, ari, adlan, gerry, inchie, ipul, ningrat, dan aku. Dan ternyata baru sadar sebulan menjelang jalan-jalan kalo itu jadwalnya pas bulan puasa. Brrrr, ga kebayang nanti gimana. yaudah berangkat aja. Minggu pagi 4 agustus, Jogja-Jkt via kereta api.

Sorenya nyampe Pasarsenen terus diminta buka puasa di rumah manda ipul. abis buka shalat bentar, trus langsung capcus ke Soetta, nyampe jam 10an ke sana. satu dua jam abis itu ari datang bawa makan sahur, dia udah beberapa hari di Jkt. Dann, pertama kalinya kami menginap di Bandara.



Minggu pagi, lewat portal imigrasi, nunjukin paspor yang baru aja dibuat terus distempel untuk kali pertama. 6.30 wib masuk pesawat, dua jam kemudian 9.30 waktu Malaysia kami masuk portal imigrasi mereka. hmmm, sambutan panas kami rasakan. Entah emang pada semua passenger, atau cuma pada indonesian yang ke sana. kok ketus banget ya, cuma gara-gara ada tiket pesawat hasil robekan yang tadi emang aku simpan di lembar belakang paspor, langsung ngomong kasar. untung dikit banyak aku ngerti bahasa malay, "ngape ni sampah taro' sini?" and then he thrown it. tanya yang lain juga gitu katanya, mungkin mereka termakan isu pecahnya saudara tua satu rumpun. tapi yasudah, kami ke sini mau jalan-jalan. bukan mau perang.

[First time Oversea]
Sekitar dua jam nunggu ningrat, karena dia dapat pesawat jam 8an dari Jkt. Kami naik Bus dari KLIA menuju Putrajaya, pusat pemerintahan Malaysia yang baru. Ihh waw,

to be continued, mau rapat dulu. haha :D

Peribahasa Tanah Garam

Aeng sondeng nandha'agi dalemma lembung
Orang yang pendiam biasanya banyak ilmu.
Agandhu' kotoran
Mempunyai niat buruk terhadap orang lain atau bermanis muka dengan maksud buruk.
Ajam menta sasengnget
Mencelakai diri sendiri.
Aotang dara nyerra dara
Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa.
Asel ta' adhina asal
Meski kaya tetapi tetap bersahaja dalam bersikap.

Bhasa ghambaranna budhi
Kepribadian seseorang dapat dilihat dari caranya berbicara.
Bhasa nantowagi bhangsa
Bahasa menunjukkan bangsa.
Bibirra nola', atena mella'
Malu malu kucing atau hanya menolak di bibir saja, tetapi sebenarnya dia mau.

Caca pasaran


Bicara tidak tahu aturan atau kabar burung.


Dapor daddi romma
Seseorang yang semula kaya raya, namun kemudian jatuh miskin.
Dung-tedung ajam
Tidur-tiduran.

Epeol kene'


Diulang-ulang sampai bosan mendengarnya.


Konye' ghunong


Seadanya saja tidak perlu berlebihan.


Lebbi bhagus pote tolang katembhang pote matah


Lebih baik mati daripada hidup menanggung malu.


Meltas panjhalin
Cara berjalan yang sangat indah (wanita).
Mesken arta soghi ate
Biar miskin harta, tetapi tetap kaya hatinya.

Sorem arena


Mengalami kesusahan atau sedang menghadapi masalah.


Tadha aeng aghili ka olo


  • Tidak ada orangtua yang minta ke anaknya.
  • Watak anak tidaklah berbeda dengan orangtuanya.



My Note and Pen

















JANGAN SUKA MENUNGGU

Jangan menunggu bahagia, baru tersenyum.
Tapi tersenyumlah, maka kamu akan bahagia.

Jangan menunggu kaya, baru mau beramal.
Tapi beramal lah, maka kamu semakin kaya.

Jangan menunggu termotivasi, baru bergerak.
Tapi bergeraklah, maka kamu akan termotivasi.

Jangan menunggu dipedulikan orang baru anda peduli.
Tapi pedulilah dengan orang lain! maka anda pasti akan dipedulikan.



Jangan menunggu orang memahami kamu, baru kita memahami dia.
Tapi pahamilah orang itu, maka orang itu paham dengan kamu.

Jangan menunggu terinspirasi, baru menulis.
Tapi menulislah, maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu.

Jangan menunggu proyek, baru bekerja.
Tapi berkerjalah, maka proyek akan menunggumu.

Jangan menunggu dicintai, baru mencintai.
Tapi belajarlah mencintai, maka anda akan dicintai

Jangan menunggu banyak uang, baru hidup tenang.
Tapi hiduplah dengan tenang, maka bukan hanya sekadar uang yang datang, tapi damai sejahtera.

Jangan menunggu contoh, baru bergerak mengikuti.
Tapi bergeraklah, maka kamu akan menjadi contoh yang diikuti.

Jangan menunggu sukses, baru bersyukur.
Tapi bersyukurlah, maka bertambah kesuksesanmu.